Bernasindonesia.com - Program swasembada pangan era Presiden Prabowo akan mampu berkelanjutan jika memiliki peta jalan yang jelas untuk minimal 20 tahun ke depan.
Tepatnya 2045 waktu Indonesia memasuki periode emas seperti yang diharapkan banyak orang. Angkatan kerja yang paling produktif serta kemampuan ekonomi yang tangguh.
“Pangan adalah pondasi kehidupan, pangan adalah hak asasi yang harus dipenuhi oleh negara, pangan separo problem negara. Kuat di pangan, negara akan kuat dan disegani dunia” papar Riyono.
Era Soeharto Indonesia menjadi lumbung pangan dunia, era reformasi pangan nyaris dikuasi sepenuhnya oleh swasta, negara hanya berperan administrasi. Petani belum menjadi pemain pangan.
“Presiden Prabowo punya kesempatan membuat peta jalan swasembada berkelanjutan sampai 2045. Tahun 2026 semoga tercapai swasembada beras dan jagung, 2027 – 2029 mengejar produksi keledai dan garam sebagai produk strategis yang sampai saat mengandalkan impor”tambah Riyono Caping yang Anggota Komisi IV DPR FPKS
Jalan menuju kedaulatan pangan pasti berliku, ada tantangan kepemilikan lahan, mekanisasi mesin pertanian, sumber daya manusia petani, perubahan iklim dan tantangan global ketidakstabilan pangan.
Menurut Riyono Caping waktu 20 tahun cukup untuk mencapai kedaulatan pangan berkelanjutan, produk strategis tidak perlu impor kembali. Khusus beras, jagung, garam, kedelai menjadi keharusan kita penuhi dari Indonesia sendiri.
“Peta jalan kedaulatan pangan berkelanjutan harus jelas dan berpijak dengan kaki sendiri, potensi bangsa sendiri, komitmen pemimpin tertinggi, anggaran yang cukup serta regenerasi petani yang sungguh – sungguh” tutup Riyono.