BRIN Didorong Perkuat Hilirisasi Riset dan Atasi Hambatan Regulasi

| Jumat, 29 Agustus 2025 | 11.14 WIB

Bagikan:

Bernasindonesia.com - Anggota Komisi X DPR RI, Ledia Hanifa menyampaikan sejumlah catatan kritis dalam rapat bersama Kepala Badan Riset dan Inovasi Nasional (BRIN) beserta jajaran. Isu yang disorot meliputi alokasi anggaran, riset kesehatan, pengolahan sampah, hingga pengembangan teknologi pangan.


Terkait Mitra Fasilitasi Riset dan Inovasi untuk Indonesia Maju, ia menilai alokasi anggaran yang ada masih jauh dari memadai.

“Setelah dihitung-hitung, kelihatannya besar. Tapi kalau dibagi rata untuk 8.910 lembaga, tiap lembaga hanya dapat Rp3,4 juta. Itu sangat kecil,” jelas Ledia

Oleh karena itu, Ledia mendorong agar BRIN menyiapkan mekanisme pendanaan yang lebih terstruktur.

“Dalam pendalaman nanti perlu dibuat siklus yang lebih besar. Bagaimana pencarian funding, bagaimana eksekusinya, dan apakah itu memang tupoksi BRIN,” tegas Anggota Komisi X tersebut.

Dalam bidang riset kesehatan, ia menyoroti riset obat Tuberkulosis (TBC) dan ARV (HIV/AIDS) yang sudah berjalan, namun terhambat regulasi internasional.

“Obat TBC sebenarnya sudah diproduksi masif. Persoalannya adalah regulasi WHO. Kita sudah riset, sudah mau hilirisasi, tapi selalu nyangkut di regulasi WHO,” ungkapnya.

Selain itu, Ledia menekankan pentingnya inovasi di bidang pengolahan sampah. Ia mengapresiasi paten BRIN yang mengubah plastik menjadi pengganti batubara dengan polusi minim. Namun hambatan justru muncul dari sisi regulasi.

“Masalahnya bukan di inovasi, tapi di regulasinya. Misalnya pirolisis, untuk izin saja biayanya Rp400 juta. Bayangkan kalau komunitas warga ingin punya alat itu, jelas tidak mungkin,” tegasnya.

Sekretaris Fraksi PKS DPR RI ini menilai BRIN perlu berperan aktif menjembatani komunikasi dengan regulator.

“Nampaknya perlu dibantu membangun komunikasi dengan pembuat regulasi. Kalau tidak, inovasi hanya berhenti di laboratorium,” tambahnya.

Terakhir, terkait teknologi pangan, Ledia menekankan bahwa Indonesia belum maksimal mengelola kekayaan buah lokal.

“Kita masih cenderung pakai fruit dried, padahal kalau pakai freeze dried, kualitas dan rasa buah bisa lebih terjaga. Thailand bahkan memasarkan manggis dengan teknologi itu, padahal mangganya dari Indonesia,” jelasnya.

Ia menutup pernyataan dengan dorongan agar riset diarahkan untuk memperkuat produk unggulan daerah.


Bagikan:
KOMENTAR
TERKINI