Bernasindonesia.com - Ketua MUI Komisi Badan penanggulangan Bencana, Nusron Wahid mengungkapkan bahwa Majelis Ulama Indonesia (MUI) berkomitmen untuk terus hadir dan mendampingi para korban bencana tersebut.
Rencana ini disampaikan Nusron setelah meninjau langsung kondisi bencana banjir dan longsor yang terjadi di Sumatera.
“Kita saat ini sedang memasuki konsentrasi, memasuki tahap recovery, rehabilitasi, dan rekonstruksi atas kerusakan-kerusakan yang diakibatkan oleh bencana alam ini,” kata Nusron.
Dalam fase ini, MUI berkomitmen untuk membangun kembali infrastruktur vital umat di tiga provinsi yang terdampak bencana tersebut. MUI telah mengidentifikasi dan akan membangun setidaknya satu masjid dan satu tempat pendidikan.
“Intinya yang dibangun adalah masjid-masjid yang dikelola oleh kekuatan umat di sana. Apakah punya Muhammadiyah, apakah punya NU, apakah punya Al-Washliyah, atau punya Perti, kita tidak memilah-milah. Yang penting kekuatan umat yang ada di sana,” ujarnya.
“Lokasinya di mana sedang kita assessment. Nanti kita akan bangun dengan brand dan desain dari MUI. Intinya kita menggunakan khasanah lokal sesuai yang dibutuhkan oleh masyarakat,” paparnya menambahkan.
Dalam kesempatan tersebut Nusron mengatakan bahwa MUI adalah lembaga pemersatu dan katalisator daripada kekuatan umat Islam yang ada di Indonesia, sehingga gerakan kita harus terpadu dan menyatu dengan kekuatan umat Islam yang ada di sana.
Selaras dengan hal tersebut, Nusron juga mengungkapkan bahwa MUI akan membuat Muslim Disaster Recovery, yaitu unit reaksi cepat atas penanggulangan bencana yang menghimpun kekuatan potensi umat Islam yang ada di Indonesia.
Seperti halnya Muhammadiyah yang telah memiliki Muhammadiyah Disaster Management Center (MDMC), Nahdlatul Ulama telah memiliki Lembaga Penanggulanganan Bencana dan perubahan iklim (LPBI) serta ormas-ormas lainnya.
“Kita akan assessment mana kekuatan dan kelebihannya mana, kita akan masuk yang belum diisi oleh mereka. Karena kita sebagai MUI tidak boleh menjadi ormas baru. Tidak boleh menyaingi NU dan tidak boleh menyaingi Muhammadiyah,” ungkapnya.
“Tapi menjahit sesuatu yang sudah ada. Yang belum ada kita jahit. Jadi kita menjadi tukang jahit. Karena itu kita mencari benang penjahitnya,” kata dia.

