Ekonomi Ramadhan

| Kamis, 26 Februari 2026 | 05.17 WIB

Bagikan:

Bernasindonesia.com - Ramadan di Indonesia bukan sekadar bulan ibadah. Ia juga peristiwa sosial. Menggerakkan budaya sekaligus ekonomi. 


Di dalamnya terdapat tradisi khas bernama *ngabuburit*. Aktivitas menunggu waktu berbuka puasa menjelang Magrib. 

Dari kota besar hingga daerah pesisir, *ngabuburit* hadir dalam beragam bentuk. Berjalan sore di alun-alun, berkumpul di tepi pantai, mengikuti kajian di masjid, hingga berburu takjil di pasar musiman.

Di kota-kota urban, ngabuburit berkembang menjadi fenomena sosial populer. Lapak-lapak takjil bermunculan setiap sore. Menawarkan kolak, es buah, gorengan, hingga minuman kekinian. 

Aktivitas ini bukan hanya soal membeli makanan, tetapi menjadi ruang interaksi sosial. Tempat keluarga, anak muda, dan komunitas bertemu dalam suasana Ramadan yang khas.

Di sejumlah daerah, bentuknya lebih beragam. Di kawasan pesisir, warga menikmati senja sambil menunggu azan. Di wilayah minoritas Muslim, *ngabuburit* sering diisi kegiatan masjid dan buka bersama lintas komunitas. Memperkuat solidaritas dan toleransi. 

Tradisi lokal seperti pasar Ramadan atau festival rakyat menjelang puasa juga memperkaya ekspresi budaya tersebut.

Namun, di balik nuansa spiritual dan kultural, terdapat dimensi ekonomi yang signifikan. Tradisi berburu takjil memberikan peluang besar bagi pedagang kecil dan pelaku UMKM. Banyak penjual musiman mengandalkan Ramadan sebagai momentum peningkatan pendapatan. 

Rata-rata pembelian takjil per orang memang relatif kecil. Tetapi ketika dikalikan jutaan konsumen setiap hari selama sebulan penuh, nilainya menjadi besar.

Secara nasional, konsumsi masyarakat selama Ramadan dan menjelang Idulfitri diperkirakan menembus sekitar Rp 1,1 *kuadriliun*. Satu *kuadriliun* rupiah = 1.000 triliun rupiah.
Artinya, Rp 1,1 *kuadriliun* setara dengan sekitar Rp 1.100 *triliun*. Itu perputaran selama Ramadhan. 

Angka tersebut mencakup seluruh belanja masyarakat—makanan dan minuman, pakaian, transportasi mudik, hingga kebutuhan rumah tangga. Meski takjil hanya sebagian dari total konsumsi itu, ia tetap menjadi bagian penting dari lonjakan belanja Ramadan.

Dalam teori ekonomi, fenomena ini dapat dijelaskan melalui konsep _*multiplier effect*_. Ketika masyarakat meningkatkan konsumsi, uang yang dibelanjakan pedagang akan kembali berputar. Membeli bahan baku, membayar tenaga kerja, hingga menggerakkan distribusi. Setiap tambahan Rp 1 dalam konsumsi bisa menghasilkan dampak ekonomi lebih besar dari nilai awalnya.

Di sisi lain, dari perspektif sosiologi, ngabuburit dan berburu takjil merupakan ritual kolektif yang memperkuat kohesi sosial. Ia menciptakan ruang kebersamaan, solidaritas, dan identitas komunitas Muslim Indonesia.

Tradisi *ngabuburit* dan berburu takjil bukan sekadar kebiasaan musiman. Ia adalah simpul antara iman, budaya, dan ekonomi. 

Ketika nilai spiritual bertemu dengan dinamika pasar. Kebersamaan sosial berjalan seiring dengan perputaran rupiah dalam skala nasional.

Oleh: Abdul Rohman Sukardi 

Bagikan:
KOMENTAR
TERKINI