Bernasindonesia.com - Dinamika politik menuju Pemilu 2029 mulai menghangat. Perbincangan bukan lagi sekadar soal siapa maju, tapi bagaimana partai menjaga soliditas internal untuk mengunci elektabilitas suara lima tahun ke depan.
Bagi Partai Gerakan Indonesia Raya (Gerindra), figur Prabowo Subianto masih menjadi jangkar utama. Sejak Pemilu 2014, 2019 hingga 2024, personal branding Prabowo menyatu dengan identitas partai.
Apalagi dengan model partai berbasis figur (leader–centric party), ketokohan bukan lagi sekadar simbol, namun menjadi mesin elektoral yang mampu menjaga loyalitas kader dan pemilih agar tidak pindah ke lain hati.
Pola ini pernah diterapkan pada era Susilo Bambang Yudhoyono yang mengarsiteki Partai Demokrat menjadi kekuatan dominan lewat kemenangan pada Pilpres dan Pileg 2004 dan 2009.
Oleh karena itu, dengan sistem presidensial yang diterapkan di negara kita ini, figur ketua umum parpol kerap berbanding lurus dengan capaian hasil suara partai.
Di sisi lain juga, Partai Demokrasi Indonesia Perjuangan (PDIP) juga dikenal bertumpu pada figur sentral Megawati Soekarnoputri. Namun konteks 2029 berbeda.
Jika skenario "Megawati menantang Prabowo" benar-benar terjadi, itu bukan sekadar kontestasi personal, tapi melainkan pertarungan dua poros besar, dengan basis ideologis dan sejarah panjang. Tapi di atas kertas, Prabowo lah pemenangnya. Analisanya,
Pertama, faktor kekuasaan. Sebagai presiden petahana (incumbent), Prabowo memiliki keunggulan struktural. Baik itu akses pada legitimasi kebijakan, eksposur publik, dan efek "bandwagon" dari para elite parpol berbondong bondong cenderung merapat ke pusat kekuasaan.
Apalagi saat ini koalisi permanen sudah digagas dengan ditandai bagi bagi jatah menteri dan jabatan lainnya. Amunisi lainnya, jika program Makan Bergizi Gratis (MBG), Koperasi Desa Merah Putih (KDMP), Program 3 Juta Rumah, dll. Jika program itu terbukti efektif dan menyentuh akar rumput, dampaknya bisa signifikan terhadap suara partai Gerindra semakin menjulang tinggi.
Kedua, faktor figur dan stamina politik. Megawati memang simbol ideologis PDIP. Namun pertanyaan publik bukan hanya soal kapasitas politik, melainkan momentum generasi, usia Bu Mega sudah tidak muda lagi.
Apakah PDIP akan mengedepankan simbol historis untuk menjaga soliditas, atau mendorong regenerasi demi memperluas ceruk pemilih muda? Jika Megawati maju, narasi yang mungkin dibangun pertarungan ideologi dan arah bangsa, bukan sekadar kontestasi elektoral.
Ketiga, faktor kinerja dan persepsi publik. Elektabilitas tidak semata ditentukan oleh kekuasaan atau nama besar figur ketum. Stabilitas ekonomi, pengendalian harga kebutuhan pokok, lapangan kerja, termasuk persepsi dan integritas pemerintahan akan menjadi variabel penentu.
Pengalaman di era Presiden Joko Widodo menunjukkan bahwa program populis seperti BLT atau bantuan sosial mampu memperkuat basis dukungan, tapi itu pun bergantung pada kepuasan publik secara menyeluruh.
Jika Megawati benar-benar menantang Prabowo pada 2029, ini akan menjadi duel simbol lama versus kekuatan petahana. Namun secara realistis, peta politik Indonesia sangat cair. Koalisi bisa berubah, poros baru bisa terbentuk, dan figur alternatif dapat muncul di luar dua nama tersebut.
Bisa jadi Dedi Mulyadi dan Anies Baswedan kembali muncul sebagai figur muda. Atau MBG juga mampu meredam suara Golkar, PDIP, PKB, PAN, Demokrat, PKS, PSI, PPP.
Pada akhirnya, politik itu soal momentum, persepsi dan kepentingan. Partai yang mampu menjaga soliditas internal, menghadirkan program konkret, dan membaca psikologi pemilih, itulah yang berpeluang besar unggul.
Termasuk yang mampu menjaga kepentingan pengusaha, elit politik, TNI maupun Polri. Dan mengamankan penyelenggara pemilu dialah pemenangnya.
Bagaimana Anda melihat peluang duel besar 2029, atau justru akan lahir figur baru yang memecah dominasi dua poros besar? Wallahualam Bissawab. **
Oleh : Jejep Falahul Alam

