Siapa yang Kelak Berkuasa di Iran Setelah Wafatnya Imam Khamenei?

| Minggu, 01 Maret 2026 | 11.43 WIB

Bagikan:

Bernasindonesia.com - Malam itu, Iran terbelah oleh dua kesunyian yang berbeda.


Di sebagian rumah, orang-orang menutup pintu rapat, menurunkan suara televisi, dan menangis pelan. Mereka menyebut nama Khamenei seperti menyebut payung terakhir di tengah badai.

Di mata mereka, ia bukan sekadar pemimpin negara. Ia adalah poros makna, penjaga kesinambungan revolusi, simbol ketertiban yang diyakini datang dari langit. Duka itu bukan hanya duka politik. Ia adalah duka identitas. Duka rasa aman, meski rasa aman itu sering dibangun di atas rasa takut.

Namun di sudut-sudut kota lain, bisik syukur bergetar di balik tirai. Ada air mata juga di sana, tetapi air mata yang berbeda. Air mata orang yang merasa sebuah pintu yang lama terkunci kini retak sedikit. Mereka menahan diri. Di Iran, kegembiraan yang terlalu terbuka bisa berumur pendek. Tetapi dalam hati mereka terbit kalimat sederhana yang sulit dibendung: mungkin besok tidak harus sama dengan kemarin.

Di antara dua emosi itu, dunia menyaksikan satu fakta yang mengubah peta. Media Iran mengonfirmasi wafatnya Imam Khamenei setelah serangan Amerika Serikat dan Israel.

Pertanyaan yang tersisa bukan lagi apakah perang akan meluas, melainkan siapa yang akan mengisi ruang kosong di puncak piramida kekuasaan Iran, dan ke mana arah sejarah negeri itu akan bergerak.

-000-

APA YANG TERJADI PADA IRAN SESUDAH KEMATIAN KHAMENEI

Dalam jam-jam pertama setelah pemimpin tertinggi tumbang, negara seperti manusia yang baru kehilangan denyut pusatnya. Ia tidak mati seketika. Justru ia bergerak refleks, dengan otot-otot yang telah lama dilatih untuk satu tujuan: bertahan.

Serangan yang menewaskan Khamenei bukan sekadar operasi militer. Ia adalah pesan bahwa pusat kekuasaan dapat disentuh. Namun sejarah Iran modern mengajarkan satu pelajaran sunyi. Republik Islam bukan hanya satu orang. Ia adalah jaringan institusi, loyalitas, dan alat koersif yang saling mengunci.

Tanpa invasi darat yang meruntuhkan monopoli kekerasan, keunggulan terbesar rezim tetap sama. Aparat keamanan dan Garda Revolusi masih memegang jalanan.

Maka fase awal pasca Khamenei hampir pasti bergerak melalui tiga poros sekaligus.

Pertama, konsolidasi keamanan agar euforia tidak berubah menjadi pemberontakan.
Kedua, kontrol informasi untuk menahan narasi yang liar.
Ketiga, sinyal suksesi yang cepat agar negara tampak tetap berjalan.

Sementara itu, dunia menatap Selat Hormuz. Jika urat nadi energi global itu terganggu, ekonomi dunia ikut demam.

-000-

MEKANISME SUKSESI RESMI DAN FAKTOR PENENTU

Secara konstitusional, Majelis Ahli harus memilih pemimpin tertinggi baru secepat mungkin. Ada pula mekanisme kepemimpinan sementara yang dapat menjalankan fungsi pemimpin tertinggi.

Namun dalam keadaan perang dan guncangan, hukum tertulis berjalan berdampingan dengan hukum tak tertulis. Siapa yang memegang senjata. Siapa yang menguasai intelijen. Siapa yang mengendalikan logistik.

Dalam konteks Iran, itu berarti Garda Revolusi dan jaringan keamanan.

Siapa pun yang naik, ia harus diterima oleh dua ruang sekaligus. Ruang legitimasi ulama dan ruang kekuatan koersif. Tanpa keduanya, kursi itu hanya simbol kosong.

-000-

Untuk memahami momen ini lebih dalam, dua buku penting layak menjadi cahaya.

   1.    Iran: A Modern History
Penulis: Abbas Amanat
Penerbit: Yale University Press
Tahun terbit: 2017

Buku ini bukan sekadar sejarah. Ia adalah napas panjang sebuah peradaban yang berkali kali runtuh lalu bangkit kembali. Amanat memperlihatkan Iran sebagai negeri yang dibentuk oleh luka kolonial, kebanggaan imperial, revolusi konstitusional, jatuh bangun monarki, dan lahirnya Republik Islam.

Dari halaman ke halaman, pembaca menyadari bahwa pemimpin di Iran sering hanya puncak gunung es. Di bawahnya mengalir identitas kolektif, memori trauma, dan hasrat akan martabat nasional.

Amanat mengajarkan bahwa perubahan di Iran jarang berjalan lurus. Ia seperti ombak. Maju. Mundur. Lalu maju lagi. Sistem bisa bertahan, tetapi legitimasi bisa tergerus perlahan.

Kematian seorang pemimpin tertinggi tidak otomatis meruntuhkan negara. Namun ia dapat menggoyahkan rasa takut yang selama ini menahan perubahan. Di sanalah sejarah menemukan celahnya.

-000-

   2.    Vanguard of the Imam: Religion, Politics, and Iran’s Revolutionary Guards
Penulis: Afshon Ostovar
Penerbit: Oxford University Press
Tahun terbit: 2016

Jika Amanat memberi lanskap sejarah, Ostovar memberi kunci kekuasaan. Buku ini menelusuri bagaimana Garda Revolusi tumbuh dari pasukan revolusioner menjadi jantung kekuatan Republik Islam.

IRGC bukan hanya tentara. Ia adalah jaringan ekonomi, intelijen, patronase, dan ideologi. Ia menembus negara dari dalam.

Ostovar memperlihatkan bahwa dalam momen krisis, pertanyaan terpenting bukan siapa yang paling populer, melainkan siapa yang mampu menjaga keteraturan. Stabilitas sering didahulukan, legitimasi menyusul.

Di sana terletak paradoks Iran pasca Khamenei. Stabilitas yang lahir dari senjata dapat menunda demokrasi, tetapi juga menunda kekacauan. Jarak antara bertahan dan membeku sangat tipis.

-000-

TIGA OPSI KEKUASAAN

OPS I 1: Penerus Khamenei dan kelanjutan Republik Islam

Ini skenario paling mungkin dalam jangka pendek. Sistem telah menyiapkan lapis lapis suksesi. Mojtaba Khamenei sering disebut karena kedekatannya dengan jaringan keamanan. Ada pula figur kompromi dari elite lama.

Kekuatan opsi ini terletak pada kesinambungan dan disiplin komando. Aparat mendapatkan kepastian bahwa masa lalu tidak akan diadili esok hari.

Namun legitimasi menjadi taruhan. Penerus yang terlalu identik dengan garis lama bisa memperbesar resistensi diam di masyarakat.

Probabilitas perkiraan: 55 hingga 70 persen.

-000-

OPS I 2: Reza Pahlavi dan transisi demokratis sekuler

Reza Pahlavi menawarkan simbol Iran pasca teokrasi. Ia memiliki panggung global dan simpati diaspora.

Namun simbol tidak selalu berarti struktur. Transisi demokratis membutuhkan oposisi yang terorganisir, retaknya aparat keamanan, dan dukungan sosial yang luas. Tanpa pembelotan besar dari aparat, peluangnya terbatas.

Ia mungkin menjadi figur penting dalam fase transisi, tetapi belum tentu menjadi penguasa efektif dalam waktu dekat.

Probabilitas perkiraan: 10 hingga 25 persen.

-000-

OPS I 3: Model kekuasaan campuran atau darurat

Dalam badai, negara sering memilih nahkoda darurat. Dewan sementara yang diperpanjang. Figur kompromi. Atau penguatan dominasi aparat dengan pemimpin simbolik di atasnya.

Dalam situasi perang, yang dicari pertama adalah kontrol, bukan pemilu.

Opsi ini menguat jika konflik berlanjut, ekonomi memburuk, dan elite terbelah.

Probabilitas perkiraan: 20 hingga 35 persen.

-000-

JADI SIAPA YANG PALING MUNGKIN

Di belakang nama‑nama itu, Majelis Ahli dan Garda Revolusi menimbang bukan hanya kesalehan, tetapi juga kegunaan. Siapa yang menjamin kelangsungan sistem, sekaligus cukup lentur menghadapi badai baru.

Perlu juga diperhitungkan, intervensi Amerika Serikat, Israel, Rusia dan Tiongkok serta reaksi proksi regional akan mendikte stabilitas. Dukungan eksternal terhadap faksi tertentu di Teheran dapat menentukan apakah transisi ini berakhir damai atau anarki.

Jika Iran dibaca sebagai sistem, jawabannya cenderung dingin. Dalam jangka pendek, Republik Islam kemungkinan besar bertahan melalui penerus yang disetujui Majelis Ahli dan diterima aparat keamanan.

Namun ada kebenaran yang lebih sunyi. Rezim bisa bertahan, tetapi negara bisa berubah dari dalam.

Khamenei mungkin adalah paku besar yang menahan papan papan itu tetap rapat. Setelah ia tercabut, papan itu mungkin masih berdiri. Tetapi bunyinya berubah.

Retaknya legitimasi bisa menjadi retaknya rasa takut. Dan ketika rasa takut retak, sejarah mulai bergerak.

Pertarungan Iran pasca Khamenei bukan semata antara Islam dan sekuler. Ia adalah pertarungan antara ketertiban yang dipaksakan dan kebebasan yang belum selesai dibentuk.

Kita dapat menyebut nama nama calon. Namun sering kali yang benar benar naik ke puncak bukan hanya seorang manusia, melainkan suasana batin sebuah bangsa. Ketakutan. Harapan. Atau keberanian untuk memulai ulang.

Iran kini tidak hanya memilih pemimpin baru. Ia sedang memilih arah sejarahnya sendiri.

Oleh: Denny JA


Bagikan:
KOMENTAR
TERKINI