HNW: Pancasila Terbukti Mampu Hadapi Berbagai Krisis, Domestik Maupun Global

| Selasa, 21 April 2026 | 05.18 WIB

Bagikan:

 

Bernasindonesia.com - Wakil Ketua MPR RI, Dr. H. M. Hidayat Nur Wahid, M.A., menegaskan bahwa Indonesia sudah mengalami berbagai macam krisis, mulai dari krisis ekonomi, politik, kepercayaan, ideologi, krisis pusat-daerah, hingga krisis pemberontakan, komunisme, termasuk krisis global. Tetapi krisis-krisis yang menghantam bangsa Indonesia, sejak dulu hingga kemarin, selalu berhasil diselesaikan dengan baik berkat adanya pengamalan ideologi dan dasar negara Pancasila. Karena itu, menurut Hidayat Nur Wahid atau HNW, potensi krisis yang bisa timbul akibat perang Amerika-Israel dengan Iran bukan ancaman yang sama sekali baru pertama dihadapi Indonesia. Dan karenanya juga akan dapat dilalui bangsa Indonesia dengan baik bila mereka benar-benar melaksanakan ideologi Pancasila.

Pernyataan itu disampaikan Hidayat Nur Wahid saat menjadi narasumber pada Forum Diskusi Aktual Berbangsa dan Bernegara, kerja sama MPR RI dengan DPW Partai Keadilan Sejahtera (PKS) Provinsi Bangka Belitung. Acara tersebut berlangsung di Pangkalpinang, Sabtu (18/4/2026). Tema yang dibahas adalah Mengokohkan Ketahanan Nasional dalam Menghadapi Krisis melalui Nilai-Nilai Pancasila.

Selain Hidayat, ada empat narasumber lain yang menjadi pembicara dalam acara tersebut, yaitu Pimpinan Fraksi PKS MPR yang juga Presiden PKS Dr. H. Almuzzammil Yusuf, M.Si.; Ketua Fraksi PKS DPRD Provinsi Bangka Belitung H. Dody Kusdian, S.T., M.H.; Ketua DPW PKS Babel Faisal Parulian, H.S.K.M.; serta Ketua DSW PKS H. Edy Jaelani, I.C.

Selain keluarga besar PKS se-Provinsi Babel, Forum Diskusi Aktual Berbangsa dan Bernegara itu juga dihadiri perwakilan ormas Islam, antara lain Muhammadiyah, Nahdlatul Ulama, Forum Kerukunan Umat Beragama (FKUB), Dewan Masjid Indonesia (DMI), Wahdah Islamiyah, serta Lembaga Adat Melayu.

Keberadaan Pancasila sebagai dasar dan ideologi bangsa, menurut Hidayat, menjadikan Indonesia tetap utuh dan berkali-kali luput dari perpecahan. Padahal Indonesia adalah negara kepulauan yang juga beragam, baik agama, ras, suku bangsa, budaya, dan bahasa, dan rentan terhadap perselisihan hingga perpecahan.

"Tetapi karena para tokoh bapak bangsa, baik yang religius maupun nasionalis, sepakat untuk mengakui dan menerima Pancasila sebagai ideologi bersama, maka selamatlah Indonesia. Bahkan sejak dari penyusunannya tokoh agama Islam, seperti Abdul Kahar Muzakir, H. Agus Salim, dan Wachid Hasjim, dan Kristiani seperti AA Maramis, terlibat langsung dalam Panitia 9 dalam penyusunan Piagam Jakarta yang menjadi Pembukaan UUD 1945. Dan demi kesatuan negara dan keselamatan bangsa, para tokoh Islam itu juga rela menghilangkan tujuh kata pada sila pertama dalam Piagam Jakarta, sesuai keberatan masyarakat Indonesia Timur, dan mengubahnya menjadi Ketuhanan Yang Maha Esa, seperti yang terdapat pada sila pertama Pancasila," ungkap HNW.

Kesepakatan terhadap hadirnya Pancasila itu membuat bangsa Indonesia, menurut HNW, mampu menghadapi berbagai krisis baik yang datang dari dalam maupun luar. Berbeda dengan Uni Soviet. Pada zamannya, Uni Soviet adalah negara terbesar kedua di dunia setelah Amerika. Mereka memiliki angkatan bersenjata dan intelijen yang kuat. Tetapi kini negara itu telah lenyap, terpecah menjadi 15 negara, dengan Rusia sebagai negara paling besar di antara 14 negara lainnya. Uni Soviet hancur dan terpecah belah sejak 1991 akibat krisis ekonomi kronis dan kegagalan reformasi politik (Glasnost dan Perestroika) karena ideologi mereka, komunisme, diimpor dari luar dan tidak mengakar di bumi mereka.

Nasib serupa juga dialami Yugoslavia, negara yang saat jayanya terdiri dari lima etnis dan tiga agama besar. Saat ini Yugoslavia sudah terhapus dari peta dunia, digantikan tujuh negara merdeka, yaitu Slovenia, Kroasia, Bosnia-Herzegovina, Serbia, Montenegro, Makedonia Utara, dan Kosovo. Yugoslavia pecah akibat konflik antaretnis dan meningkatnya nasionalisme kedaerahan.

Meski krisis akan terus terjadi, termasuk ketika Amerika dan Israel menyerang Iran, Hidayat percaya bangsa dan negara Indonesia akan tetap bertahan. Karena itu HNW mengajak umat Islam khususnya dan bangsa Indonesia pada umumnya, dengan keteladanan pemimpinnya, untuk terus mengawal Pancasila dengan menerapkan semua silanya dalam kehidupan dan kebijakan sehari-hari.

"Indonesia adalah negara kepulauan, lebih dari 17.000 pulau, 700 lebih suku bangsa, dan enam agama resmi. Kalau kita tidak mempunyai ideologi yang tumbuh kembang dari Indonesia sendiri, maka kasus Uni Soviet dan Yugoslavia bisa terjadi. Tapi kita tetap kokoh dan kuat karena mempunyai ideologi yang menyatukan kita semua. Ideologi ini tumbuh dari dalam, digali secara bersama-sama oleh komponen bangsa, baik tokoh nasional yang berlatar belakang organisasi kebangsaan, partai maupun profesi, tapi juga melibatkan tokoh-tokoh umat Islam dari latar belakang ormas maupun orpol," ungkap Hidayat.

Tokoh-tokoh tersebut, kata HNW, dari Muhammadiyah ada K.H. Kahar Muzakir, Ki Bagus Hadi Kusumo, dan K.H. Mas Mansur. Dari NU ada K.H. Wahid Hasyim, K.H. Masykur, dan K.H. Hasyim Asy'ari. Dari Persatuan Umat Islam ada K.H. Abdul Halim, K.H. Anwar Sanusi, dan Mr. Syamsudin. Dari Partai Syarikat Islam ada Haji Abi Kusno Cokrosuyoso, dari Partai Islam Penyandar Haji Agus Salim, dan dari Masyumi Muhammad Natsir. Mereka bersepakat menjadikan Pancasila sebagai dasar dan ideologi negara.

Sukses Pancasila mengamankan persatuan kesatuan Indonesia, kata Hidayat, sudah berlangsung lebih dari 80 tahun. Selama itu Pancasila menjadikan bangsa Indonesia tahan terhadap beragam masalah dan krisis.

“Apalagi krisis yang sekarang terjadi masih berbentuk naiknya harga BBM, plastik, dan kedelai. Jangan lupa, warga Indonesia itu pintar. Tidak menaikkan harga kedelai tidak menaikkan harga tempe, tapi bentuk tempenya saja diperkecil. Artinya, kita mempunyai mekanisme untuk mengatasi masalah. Partai Politik, apalagi Partai Islam, hendaknya menjadi garda terdepan menghadapi dan mengatasi krisis ini. Menyatukan bangsa dengan Pancasilanya, karena sejak dari dulu Partai Islam itu berada di garda terdepan menyelesaikan permasalahan bangsa supaya keluar dari krisis-krisisnya," kata politisi PKS Dapil Jakarta II.

Kontribusi tokoh Islam dalam penyusunan Pancasila, kata HNW, terbukti dengan masuknya ungkapan-ungkapan dalam Al-Qur'an dan hadis ke dalam sila-sila Pancasila. Istilah itu antara lain, adil (keadilan) dan rakyat (kerakyatan). Keduanya bukan berasal dari bahasa Melayu, melainkan dari ungkapan khas Al-Qur'an dan hadis yang diserap ke dalam bahasa Indonesia.

Selain itu, ketika Belanda memecah belah RI dan mengubah Indonesia menjadi RIS, berdasarkan fakta sejarah terbukti tokoh dari Partai Islam Masyumi lah yang berjasa mengembalikan bentuk negara Indonesia kembali menjadi NKRI melalui Mosi Integral Natsir, 3 April 1950. Kalau itu tidak terjadi, barangkali generasi muda tidak mengenal NKRI dan yang menjadikan NKRI sebagai harga mati.

"Kalau dahulu tokoh-tokoh Islam berperan aktif menjadi kelompok yang memberikan solusi terhadap krisis dan masalah yang dihadapi bangsa Indonesia, sudah sewajarnya bila umat Islam, ormas Islam hingga partai Islam tidak dipinggirkan, melainkan dipercaya untuk kembali menjadi garda terdepan turut menyelesaikan krisis yang kita hadapi, termasuk krisis-krisis akibat perang di Timur Tengah," tutup HNW.

Bagikan:
KOMENTAR
TERKINI