Percepat Produksi Benih, BRIN Gandeng IPB dan BBPBAT Kembangkan Nila Jantan YY Tanpa Hormon

| Jumat, 17 April 2026 | 02.01 WIB

Bagikan:

 

Bernasindonesia.com - Pusat Riset Budidaya Air Tawar BRIN (PRBAT) Badan Riset dan Inovasi Nasional (BRIN) bekerja sama dengan IPB University dan Balai Besar Perikanan Budidaya Air Tawar Sukabumi (BBPBAT) mengembangkan teknologi produksi ikan nila jantan YY tanpa hormon berbasis bioteknologi. Penandatanganan kerja sama berlangsung pada Jumat (10/4) di Cibinong. Kolaborasi ini mempercepat pemenuhan kebutuhan industri akan benih unggul yang produktif dan efisien, sekaligus menjadi terobosan riset budidaya air tawar melalui sinergi lintas lembaga.

Kegiatan ini menandai dimulainya program bersama untuk meningkatkan produksi akuakultur melalui inovasi berbasis riset. Fokus kerja sama ini adalah pengembangan teknologi nila monoseks jantan tanpa hormon. Teknologi ini dinilai lebih aman, berkelanjutan, dan sesuai kebutuhan industri budidaya.

Kepala Pusat Riset Budidaya Air Tawar BRIN, Fahrurrozi, menyampaikan bahwa program ini merupakan bagian dari agenda besar BRIN dalam pengembangan komoditas strategis akuakultur. Ia menjelaskan bahwa saat ini BRIN tengah mengembangkan beberapa komoditas unggulan, seperti nila, lele, patin, yang ke depan diharapkan dapat mencakup komoditas lain seperti sidat.

Fahrurrozi mengatakan kerja sama ini juga membuka ruang kolaborasi yang lebih luas. Hal itu mencakup pemanfaatan fasilitas riset serta keterlibatan mahasiswa dan peneliti lintas institusi. 

“Harapannya, riset bersama ini dapat terus berkembang dan memberikan manfaat yang lebih luas, termasuk bagi pengembangan sumber daya manusia melalui kolaborasi akademik,” ujarnya.

Dari sisi akademik, Dekan Fakultas Perikanan dan Ilmu Kelautan IPB University, Beginer Subhan, menyambut positif kerja sama ini. Ia mengatakan bahwa, kerja sama ini sebagai langkah awal yang strategis dalam memperkuat sinergi antara perguruan tinggi dan lembaga riset. Ia menilai kolaborasi ini membuka peluang lebih luas bagi dosen dan mahasiswa untuk terlibat dalam riset aplikatif yang berdampak langsung pada sektor perikanan.

Sementara itu, Kepala Balai Besar Perikanan Budidaya Air Tawar Sukabumi, Rokhmad Mohamad Rofiq, menegaskan bahwa kebutuhan benih ikan nila terus meningkat seiring dengan program prioritas nasional di sektor budidaya. Ia mengungkapkan bahwa pengembangan budidaya tematik kolam bulat dengan target hingga 4.000 titik sampai tahun 2029 membutuhkan pasokan benih dalam jumlah besar.

Dalam perhitungannya, kebutuhan tersebut mencakup sekitar 26 juta benih nila dan 144 juta benih lele siap tebar. Kondisi ini mendorong perlunya percepatan produksi benih, khususnya nila monoseks jantan yang memiliki pertumbuhan lebih cepat dan efisiensi budidaya yang lebih tinggi.

Pada aspek teknologi, peneliti PRBAT BRIN, Anna Octavera, menjelaskan bahwa pengembangan nila jantan YY tanpa hormon dilakukan melalui dua pendekatan utama. Pertama, identifikasi marka DNA spesifik YY untuk memastikan validitas genetik. Kedua, perbanyakan induk melalui teknologi transplantasi sel testikular atau spermatogonia sebagai metode pengganti induk (surrogate broodstock).

Pendekatan ini menargetkan tersedianya sistem verifikasi genetik induk YY, pembentukan induk pengganti nila hitam dan merah, serta peningkatan stok induk unggul yang siap digunakan untuk produksi benih jantan dalam skala luas. Teknologi ini diharapkan mampu meningkatkan efisiensi produksi sekaligus menjawab kebutuhan industri terhadap benih berkualitas tinggi.

Dalam kolaborasi ini, Pusat Riset Budidaya Air Tawar BRIN berperan dalam pengembangan riset dan inovasi, sementara Balai Besar Perikanan Budidaya Air Tawar Sukabumi bertanggung jawab pada uji terap, produksi, dan pendampingan teknis. Sementara itu, IPB University mendukung melalui kapasitas akademik dan penguatan sumber daya ilmiah.

Melalui sinergi ini, BRIN menegaskan komitmennya untuk mempercepat hilirisasi inovasi akuakultur berbasis bioteknologi. Pengembangan teknologi nila jantan YY tanpa hormon diharapkan tidak hanya meningkatkan produktivitas budidaya, tetapi juga memperkuat ketahanan pangan nasional melalui penyediaan protein yang lebih efisien dan berkelanjutan.

Bagikan:
KOMENTAR
TERKINI