Anggaran dan Prioritas Riset

| Selasa, 12 Mei 2026 | 11.25 WIB

Bagikan:

Bernasindonesia.com - Kemajuan negara modern ditentukan kemampuan riset dan penguasaan teknologi. Teori _*endogenous growth*_ dikembangkan ekonom Paul Romer menjelaskan pertumbuhan ekonomi jangka panjang tidak terutama berasal dari sumber daya alam. Melainkan dari inovasi, pengetahuan, dan teknologi yang terus dikembangkan. 


Karena itu, negara yang kuat dalam riset biasanya juga unggul dalam industri dan produktivitas. Sebuah negara inovatif. 

Data global menunjukkan hubungan itu sangat jelas. *_South_ Korea* mengalokasikan lebih dari 4 persen PDB untuk riset dan pengembangan (R&D). China mengalokasika sekitar 2,5 persen. United States berada di kisaran 3,5 persen. 

Hasilnya terlihat nyata. Mereka memimpin industri semikonduktor, kecerdasan buatan, baterai, hingga teknologi pertahanan.

Sebaliknya, belanja riset Indonesia masih sangat rendah. Sekitar 0,28 persen PDB. 

Anggaran Badan Riset dan Inovasi Nasional (BRIN) beberapa tahun terakhir hanya sekitar Rp5–7 triliun per tahun. Setelah efisiensi 2025 efektif turun mendekati Rp3–4 triliun. 

Angka ini jauh memadai untuk negara berpenduduk lebih 280 juta jiwa yang ingin naik kelas menjadi negara industri dan teknologi. Anggaran risetnya terlalu sedikit. 

Idealnya, Indonesia perlu mengalokasikan minimal 1 persen PDB untuk riset. Sekitar Rp250–300 triliun per tahun. Namun kondisi fiskal saat ini tentu belum memungkinkan. 

Pendekatan realistis jauh lebih penting. Riset harus fokus pada sektor yang paling mampu mendorong produktivitas nasional dan menciptakan efek pengganda ekonomi.


Jika negara mampu menambah anggaran riset sekitar Rp20 triliun per tahun secara konsisten, Indonesia sebenarnya sudah dapat membangun fondasi teknologi kuat. Kuncinya bukan pada besarnya anggaran semata. Melainkan ketepatan prioritas.

Pertama, kecerdasan buatan (AI) dan infrastruktur digital nasional. AI diperkirakan menjadi teknologi penggerak utama ekonomi global dalam dua dekade mendatang. Indonesia perlu membangun AI berbahasa Indonesia. Pusat komputasi nasional. Perlu juga keamanan siber.

Kedua, teknologi energi dan baterai. Indonesia memiliki sekitar 40 persen cadangan nikel dunia. Tetapi selama ini masih dominan mengekspor bahan mentah. 

Riset harus diarahkan pada teknologi baterai, penyimpanan energi, dan material maju agar nilai tambah tetap berada di dalam negeri.

Ketiga, pangan dan bioteknologi tropis. Dengan perubahan iklim dan ancaman krisis pangan global, riset benih unggul, pertanian presisi, dan bioteknologi tropis akan menjadi sangat strategis.

Keempat, teknologi kesehatan dan alat kesehatan nasional guna mengurangi ketergantungan impor.

Kelima, teknologi maritim dan dirgantara terpilih seperti drone, satelit kecil, dan logistik kepulauan yang sesuai dengan karakter geografis Indonesia.

Riset tidak boleh sekadar mengejar publikasi dan seminar. Ukurannya harus konkret: apakah teknologi dipakai, industri tumbuh, impor berkurang, dan produktivitas meningkat. 

Pada akhirnya, riset bukan hanya soal ilmu pengetahuan. Melainkan tentang bagaimana menentukan arah masa depan bangsa.

Oleh: Abdul Rohman Sukardi 
Bagikan:
KOMENTAR
TERKINI