Ironi Keadilan

| Jumat, 08 Mei 2026 | 06.39 WIB

Bagikan:

 

Bernasindonesia.com - Saudaraku, di dunia yang katanya punya hukum sebab-akibat, rupanya sebab sering berjalan sendirian tanpa pernah benar-benar bertemu akibatnya. Mereka yang memilih hidup lurus justru lebih sering tersandung, seolah jalan itu memang tidak ramah bagi mereka yang terlalu keras menjaga prinsip.

Kita diajarkan bahwa ketekunan adalah tangga menuju kehormatan. Tapi setelah lama mendaki, banyak yang mulai sadar: tidak semua tangga mengarah ke tempat yang lebih tinggi. Ada yang terus melangkah tapi hanya berputar di lantai yang sama, sementara yang lain sudah berdiri dekat puncak bahkan sebelum melangkah.

Mereka yang hidup lurus sering dijadikan contoh—bukan untuk ditiru, tapi untuk menenangkan. “Lihat, dia sabar, dia ikhlas.” Seolah laku hidup mereka sekadar brosur moral untuk pajangan, bukan untuk diperjuangkan. Sementara itu, mereka yang pandai berbelok tidak perlu jadi contoh. Mereka langsung berada di tempat yang selama ini dituju oleh orang-orang yang menunggu dengan sabar.

Ketekunan, katanya, akan membuahkan hasil. Tapi jarang dijelaskan hasil seperti apa, dan untuk siapa. Ada orang yang bekerja setiap hari dengan sungguh-sungguh, tapi tetap di tempat yang sama. Sementara yang lain lebih cepat berhasil, bukan karena lebih tekun, tapi karena lebih pandai terlihat tekun.

Di dunia ini, orang lebih percaya pada apa yang terlihat daripada apa yang sebenarnya terjadi. Kejujuran kalah cepat dari pencitraan, dan kerja keras sering kalah suara dari cerita yang disusun rapi. Maka orang-orang mulai menyesuaikan diri. Bukan dengan menjadi lebih baik, tapi dengan mengelola kesan bisa dipercaya.

Sedikit membengkok, sedikit menunda kejujuran, sedikit mengorbankan prinsip—demi sesuatu yang disebut “realistis”. Karena di dunia ini, idealisme sering dipuji di awal, lalu diam-diam ditinggalkan ketika tidak menghasilkan sesuatu yang bisa dilihat.

Mungkin sejak awal, dunia tidak pernah berjanji akan adil; kita saja yang terlalu cepat percaya dan terlalu lama berharap. Dalam ketidakjelasan itu, satu-satunya pegangan yang masuk akal adalah tetap berjalan dengan sadar: tidak harus yakin akan sampai, tetapi tidak kehilangan diri sendiri di sepanjang jalan.

Oleh: Yudi Latif

Bagikan:
KOMENTAR
TERKINI