Jumhur, Darah Perlawanan, dan Harapan yang Tidak Boleh Dikhianati

| Jumat, 01 Mei 2026 | 05.00 WIB

Bagikan:

Bernasindonesia.com - Pengangkatan Jumhur Hidayat sebagai Menteri Lingkungan Hidup oleh Prabowo Subianto bukan keputusan yang lahir dari ruang kosong. Ia berakar dari sejarah panjang perlawanan—dari jalanan kampus hingga gelanggang buruh nasional.


Jumhur bukan figur karbitan. Ia ditempa oleh konflik sosial, ketimpangan ekonomi, dan ketidakadilan struktural. Dari gerakan mahasiswa hingga memimpin Konfederasi Serikat Pekerja Seluruh Indonesia, ia berdiri sebagai simbol resistensi terhadap kekuasaan yang abai pada rakyat.

Lebih jauh, jejak itu bukan sekadar pilihan hidup—melainkan warisan. Dalam dirinya mengalir darah perjuangan dari sosok kakeknya, H. Sadeli, seorang guru dari Cililin yang pada zamannya bertransformasi menjadi pejabat pendidikan dengan semangat pengabdian. Ini bukan romantisme genealogis, melainkan fondasi karakter: bahwa perjuangan adalah panggilan, bukan profesi.

Di titik ini, keputusan Prabowo patut dibaca sebagai langkah strategis sekaligus simbolik. Menempatkan aktivis pergerakan rakyat di kursi Menteri Lingkungan Hidup adalah sinyal—bahwa negara mencoba membuka ruang bagi perspektif non-teknokratis, perspektif yang lahir dari denyut nadi rakyat.

Namun, di sinilah batas antara harapan dan ilusi mulai diuji.

Lingkungan hidup bukan hanya soal idealisme, tetapi medan konflik antara kepentingan rakyat dan kekuatan ekonomi besar. Aktivis yang masuk ke dalam sistem seringkali dihadapkan pada dilema: bertahan dengan idealisme atau larut dalam kompromi.

Jika Jumhur mampu menjaga integritasnya, maka pengangkatannya bukan hanya tepat—tetapi juga bersejarah. Ia bisa mengangkat martabat aktivis pergerakan, khususnya gerakan lingkungan, dari sekadar oposisi jalanan menjadi aktor utama dalam pengambilan kebijakan.

Namun jika ia gagal, maka narasi besar ini akan runtuh. Bukan hanya tentang satu orang, tetapi tentang runtuhnya kepercayaan bahwa sistem masih bisa diperbaiki dari dalam.

Di sinilah publik harus bersikap jernih: mendukung, tetapi tetap kritis. Memberi harapan, tetapi tidak memberikan cek kosong.

Karena pada akhirnya, darah perjuangan tidak cukup dibuktikan oleh sejarah—melainkan oleh keberanian mengambil keputusan di tengah tekanan kekuasaan.

Jumhur Hidayat kini tidak lagi berdiri di luar pagar. Ia berada di dalam, di pusat kekuasaan.

Dan sejarah akan mencatat: apakah ia tetap menjadi pejuang, atau berubah menjadi bagian dari yang dulu ia lawan.

Oleh: Haris Bunyamin

Pemerhati Sosial Budaya dan Lingkungan Hidup (Aktivis Wahana Lingkungan (Walungan) Citarum


Bagikan:
KOMENTAR
TERKINI