Bernasindonesia.com - Saya; sebagai orang Sunda, mencermati dinamika sosial sejak dari awal reformasi.
Setiap kali budaya leluhur kita bangkit, selalu saja ada pihak lain yang mempersoalkannya.
Setiap kali kita menunjukkan penghargaan terhadap budaya leluhur, selalu saja ada yang melontarkan kritik dengan berbagai alasan yang kadang tidak masuk akal.
Padahal, dulu leluhur kita berpikir dan bersikap sangat terbuka, menyambut dengan baik kedatangan setiap tamu asing yang datang ke tanah ini, yang membawa ajaran & budaya mereka.
Tanpa prasangka apapun, tamu tamu asing itu diterima dengan baik, dirangkul dengan hangat dan diakui sebagai saudara, sebagai bagian dari keluarga dari sang pribumi tuan rumah.
Apa pun yang mereka bawa, sekalipun bahasa dan iramanya berbeda, selalu diterima dan dihargai.
Apa pun yang mereka ajarkan selalu disimak dan diakui keberadaanya serta kebenarannya.
Sungguh bijaksana leluhur kita, mereka tidak merasa paling benar sendiri, mereka mengakui ada kebenaran lain di luar kebenaran yang mereka yakini.
Tapi sekarang, setelah budaya dan ajaran sang tamu berkembang besar dan pesat, lalu kemudian dianut Para Pribumi dan Keturunan nya serta masyarakat banyak.
yang terjadi justru malah Sang tamu tidak lagi menghargai kultur pribumi tuan rumah, yang notabene dulunya menerima mereka dengan penuh ketulusan dan keramahtamahan.
Yang terjadi saat ini malah selalu ada UPAYA PROVOKASI setiap kali sang pribumi tuan rumah dan Penerusnya melakukan apa yang seharusnya mereka lakukan, yaitu melestarikan warisan leluhur, nenek moyang mereka sendiri.
Ibaratnya, dulu musik begitu syahdu dengan alunan Denting2 nada gamelan yang menyatu dan Bersahabat dengan alam sekitarnya.
Kemudian datanglah tamu tamu asing dengan membawa musik rebana bahkan rock & roll.
Sekalipun berbeda Nada & langgam, tapi leluhur kita tetap menerimanya dengan baik dan terbuka. Bahkan sang pribumi sebagai tuan rumah pun; dengan senang hati mau belajar memainkan musik rebana dan rock & roll.
Namun, setelah rebana dan rock & roll menjadi bagian dari kultur baru yang pesat & besar, sekelompok tamu yang fanatismenya sempit malah mencibir dan mengejek tiap kali mendengar musik gamelan, musik yang dulu menyambut mereka dengan penuh hormat.
Disebutnya dengan nada Nyinyir kampungan lah, tidak religius lah, ketinggalan zaman lah, berlebihan lah dll.
Alasannya karena musik Gamelan tsb dianggap sudah tidak bisa seirama lagi dengan rebana dan rock & roll.
Bahkan dicari seribu satu alasan Ini dan itu , agar musik Gamelan tersebut menjadi "NADA SUMBANG " yang TIDAK PERLU DIMAINKAN LAGI
Ironisnya, sebagian keturunan dari sang pribumi tuan rumah yang ada sekarang ini, sudah ikut terdoktrin dan terbius oknum-oknum tuan asing yang Fanatismenya sempit Yang merasa dirinya selalu benar. yang tidak mau menerima kebenaran lain selain dirinya, berbanding terbalik dg sikap yang ditunjukan leluhur kita dimasa lalu.
Kelompok ini jelas lebih menghargai irama rebana dan rock & roll dibandingkan irama Gamelan yang merupakan warisan berharga dari leluhur mereka sendiri.
Muncul sebuah pertanyaan...
Sebenarnya tanah yang kita injak ini milik siapa?
Kunaon di lembur sorangan, di tanah tumpah darah kita sendiri, kami jadi heureut lengkah?
Mau mengerjakan apa yang dulu leluhur kita kerjakan saja, syaratnya banyak sekali, narasinya panjang sekali.
Alasannya agar tidak terjadi kesalahpahaman.
Kesalahpahaman dengan siapa?
Kalau ini memang benar2 Tanah leluhur kita, dan kita memang berdaulat sebagai pribumi , Tuan dirumah kita sendiri , siapa sesunguhnya yang akan salah faham , saat kita melakukan apa yang sejak ratusan tahun lalu nenek moyang kita lakukan?
Terus muncul lagi satu kalimat yang sangat menyudutkan dan menyakitkan : Katanya "MERESAHKAN? "
Apa dan siapa yang jadi resah?
Siapa yang kita ganggu? Dan Apa yang telah kita rusak dg hadirnya budaya Pituin kita ?
Apakah kita sebagai pribumi harus minta restu dari orang lain saat kita hendak melestarikan budaya leluhur di tanah kita sendiri ?
Setelah kami renungkan dalam dalam, akhirnya kami tersadar bahwa
TERNYATA KITA INI SUDAH JADI TUAN ASING DI RUMAH KITA SENDIRI!!!
Lalu jika demikian Warisan leluhur kita ini harus di apakan dan harus dikemanakan, jika di tanah kelahirannya sendiri selalu dipertanyakan, dicurigai bahkan disudutkan kehadirannya?
Sementara budaya deungeun dengan tenangnya . Merentangkan kaki dan tangannya ke berbagai penjuru desa & kota, akibatna urang jadi poho Jeung leungiteun ku budaya urang sorangan? Nepi Ka Make Baju Pangsi hideung bae, baju asli Pituin urang Sorangan, jadi Era Jeung teu Wani, malah bisa bisa di cap sebagai Dukun, sebuah Stigma negatif seolah sbg Golongan masyarakat kelas dua, masyarakat kelas bawah.
Lain Jeung maranehna Nu marake Baju import, bajunya Sang Tuan Asing, teu awewe teu lalaki mani asa jadi bangga pisan, ngarasa jadi pang Eu ceuna , ngarasa jadi pang Akang na, malah ada jadi Pang benerna Jeung pang Suci na., ngan pangaruh baju wungkul, kulantaran make label Religius jadi hiji budaya Nu kudu digugu Jeung di tiru ...... Lamun henteu make siap siap bakal dicatat dan dihujat.
Kenes memang ... tapi itulah kenyataan yang terjadi hari ini di Tanah leluhur kita sendiri .
Kunaon nya? Setiap upaya pelestarian budaya harus selalu dibenturkan dengan hal-hal lain?
Siapa sih yang sesungguhnya sedang "bermain"? Ataukah ada yang merasa "agendanya" jadi Terganggu dan Tersaingi?
Jadi Mun Kitu mah Ceuk Amanat urang Galunggung: Hartina Urang sadaya teh geus teu bisa Ngajaga Kabuyutan lembur Sorangan, Ternyata Kabuyutan itu geus di rebut ku Asing, padahal Amanat Galunggung geus mepeling Ngingetan Memperingatkan: Omat Rajaputra kudu bisa ngajaga ieu Kabuyutan , ulah tepi Ka direbut ku Asing, lamun Rajaputra teu bisa ngajaga ieu Kabuyutan Rajaputra derajatna leuwih hina ti Batan Kulit lasun Nu Aya di jarian, Artinya jika kita semua Rajaputra sbg generasi Penerusnya tidak bisa menjaga Tanah leluhur beserta Warisan dan budayanya , maka kita semua ini , lebih Hina dari pada Bangkai yang ada di tempat sampah ,
Lalu Sudikah kita semua mendapat label seperti ini ?
* Cag Ah Ki Sunda geura Harudang , ulah tepi Ka Jati Ka silih ku Junti
Hatur nuhun.
Oleh : Abah Anton Charliyan
Ketua Umum Majelis Adat Sunda dan Kang Martin B Chandra Koordinator Bandung ngariung

