Nilai-nilai Islam: Masa Depan Peradaban di Era Multipolar

| Jumat, 01 Mei 2026 | 01.58 WIB

Bagikan:

Bernasindonesia.com - Bangsa-bangsa pemenang perang dunia kedua, bergerak cepat dan terkoordinasi membangun tata dunia baru (new world order), untuk mengendalikan masyarakat internasional pasca perang dunia kedua. 


Mereka membangun tata dunia baru diatas nilai-nilai Yudeo Christianity yang menjadi agama yang mayoritas dianut para sekutu. 

Karena itu kita melihat misalnya doktrin "bangsa terpilih" hadir dalam bentuk lima pemegang Hak Veto di PBB, yang terdiri atas Inggris, Amerika, Francis, Rusia dan China. Kelima negara ini mayoritas mutlak adalah pemeluk Yudeo Christianity. 

Dalam konstruksi sosial, dikembangkan konsep pemisahan antara negara dan agama, atau dikenal dengan sekularisme. Konsep yang ditentang oleh Gereja Katolik, karena konsep ini memang dibangun diatas nilai Kristen Anglikan (Gereja Reformasi di Inggris) yang kehadirannya merupakan hasil "pertarungan" monarkhi di Inggris---melawan Tahta Suci Vatikan lima abad lampau. 

Demikian pula dengan berbagai institusi global lain yang _"new world order"_ ini. Sebab itu, tidak mengherankan jika tatanan dunia baru itu, bersifat Unipolar, hegemonik, dan otoritarian global.

Itulah mengapa, Samuel Huntington menulis tentang benturan peradaban, karena unipolarisme yang bersifat hegemonik itu, niscaya akan menciptakan antagonistik dalam pola hubungan internasional yang Asimetric. 

Bukan hanya Katolik Roma yang menentang sekularisme, negara-negara yang mayoritas berpenduduk muslim pun, melakukan perlawanan terhadap ideologi sekularisme ini.  John Elpisito misalnya menulis bagaimana kawasan timur tengah terus bergolak melawan proses sekularisme ini. Rezim Attataruk di Turki, Syah Pahlevi di Iran, dan seterusnya, berbagai konflik berdarah di kawasan itu, merupakan bagian dari penentangan terhadap ideologi sekularisme yang dipaksakan melalui "proyek demokrasi" dari penguasa unipolarisme global. 

Kini, kita menyaksikan era unipolarisme yang beralas _Yudeo Christianity_ itu mengalami fase kritis menuju kehancurannya. 

"Trans Atlantik" yang dengan sangat serius dibangun di era perang dingin, mulai retak, guna menjembatani kepentingan transnasional Eropa-Amerika telah berada pada sisi yang berbeda dalam menerima kehadiran Multipolaritas.

China dan Rusia dua kekuatan besar yang bergabung melawan hegemoni petrodollar Amerika, tidak lagi dapat dibendung untuk tetap mempertahankan unipolarisme.

Namun, muncul pertanyaan pasca runtuhnya unipolarisme dan hadirnya multipolarisme, yang juga dapat dibaca sebagai runtuhnya peradaban "Yudeo Christianity" nilai-nilai apa yang dapat menggantikannya, untuk kemudian menjadi dasar dari pondasi peradaban di era multipolar?

Dunia memerlukan keseimbangan baru, dan karena itu dibutuhkan tata dunia baru di era multipolar, menggantikan tata dunia di era unipolarisme yang segera runtuh.

Pertanyaan ini, memerlukan refleksi yang sangat mendalam, memaksa kita untuk menjelajahi kembali jejak panjang peradaban manusia dimasa lampau. 

Lalu kita akan menemukan persamaan pada semua peradaban yang mengalami keruntuhan, di berbagai belahan dunia. 

Dari Mesopotamia Kuno, Babilonia, Mesir Kuno, Persia Kuno, Alexandria, Mongol, Ottoman Empire, Britania Raya, Spanyol Raya, dan tentu saja Kekaisaran Amerika, semuanya menunjukkan bahwa runtuhnya sistem sosial di setiap fase peradaban ini, di karenakan terjadinya dehumanisasi, desakralisasi nilai-nilai kemanusiaan, yang menciptakan perbudakan. "Manusia menyembah sesama manusia".

Raja Namroed "dipertuhankan", para Fir'aun dipertuhankan, Yesus atau Nabi Isa di pertuhankan. 

Ketika manusia memaksa manusia lain, untuk "mempertuhankan" sesama manusia, maka lahirlah perbudakan sesama manusia. 

Bagi ajaran Tauhid, ajaran para Nabi dan Rasul Allah, mempertuhankan sesama makhluk,  inilah garis merah (red line)  yang semestinya tidak dilanggar oleh manusia.

Dalam Al-Qur'an surah Muhammad ayat 10, Allah mempersilahkan siapa saja untuk melakukan perjalanan di berbagai belahan bumi, untuk meneliti, mengamati, memperlajari mengapa peradaban demi peradaban masa lampau itu hancur. Disimpulkan dalam surah Muhammad tersebut bahwa kehancuran sebuah peradaban karena masyarakat telah mempersekutukan Allah, telah melakukan penyembahan terhadap sesama manusia.

Dehumanisasi, sebagai faktor penyebab krisis kemanusiaan, perbudakan antar sesama, karena itu menjadi titik poin terpenting untuk menjadi perhatian dalam menyusun tata dunia baru era multipolaritas.

Semua sistem sosial baik sistem politik, hukum, ekonomi, budaya dalam konteks pola hubungan internasional harus di evaluasi, dan dipastikan untuk mencegah adanya anasir-anasir yang memungkinkan manusia dipaksa oleh sesama manusia dalam sistem perbudakan. 

Konsep Tauhid, tidak menyembah selain Allah Yang Maha Esa, merupakan prinsip dasar yang dapat menjadi titik temu antar bangsa, antar peradaban yang bisa mencegah hadirnya sistem perbudakan global.

Inilah nilai dasar yang semestinya dibangun, dan dikembangkan dalam rangka menemukan formula baru dalam relasi hubungan antar bangsa, di era multipolaritas.

Indonesia dengan Pancasila-nya, dapat berperan aktif untuk menjembatani berbagai kepentingan global, untuk bersama-sama membangun era baru, dalam tata dunia baru yang multipolaritas itu.

Oleh: Hasanuddin 


Bagikan:
KOMENTAR
TERKINI