Bernasindonesia.com - Di acara silaturahmi Kahmi_Pro Ekonomi di rumah dinas Adinda Mentri Bahli Lahadalia beberapa minggu yang lalu, Bang Fachry Ali (FA) mengatakan beliau tidak tau apa makna Pro yang disematkan pada Kahmi_Pro. Pernyataan bang FA itu yang menggugah saya membuat tulisan ini. Tampaknya kita memang perlu memahami sejarah lahirnya Kahmi_Pro agar yang bergabung kemudian paham filosofi kelahiran forum yang hebat ini. Kemudian bersama-sama menjaga forum yang sudah banyak mendatangkan berbagai manfaat bagi kader-kader HMI, baik yang terungkap maupun tidak.
Saya juga merasa terpanggil menulis ini karena terlibat sejak awal ikut membantu alm Ichan Loulembah membangun dan merawat forum ini sehingga bisa kita nikmati sampai sekarang. Saya tau persis, walaupun sejatinya – karena berbagai upaya dan pengorbanan yang almarhum lakukan untuk Kahmi_Pro – almarhum bisa saja mendapatkan keuntungan pribadi dari forum ini, tetapi tidak dilakukannya. Mungkin itu pula yang membuat forum ini awet sampai dua decade lebih.
Saya lupa persis tanggal dan tahunnya, tetapi saya ingat suasananya. Ketika itu sedang ramai di media dan kalangan HMI berita perpecahan KAHMI Nasional. Ichan ngajak Saya ngopi seperti biasa sekedar ngobrol ringan. Tiba-tiba ditengah pembicaraan Ichan bilang: “Da Med..gimana kalau kita bikin KAHMI non-struktural,” ajaknya dengan nada khas Ichan. “Bentuknya forum aja..tidak ada ketua dan struktur sama sekali,” lanjutnya sebelum saya sempat menimpali.
“Kita kasih nama Kahmi Pro,” berhenti sejenak menunggu respon.
“Kahmi Profesional? Melanjutkan Kelompok Profesional Muda yang kita bikin waktu 98?” tanya saya.
“Jangan, Itu terlalu sempit,” sanggah Ichan. “Kita biarkan aja orang menerjemahkan sendiri apa itu pro…bisa professional..bisa pro kiri bisa pro kanan…bisa pro Kahmi Fuad bisa pro Kahmi Asri..pro liberal pro puritan….pro pemerintah pro oposisi….pokoknya terserah mereka aja….biarkan orang bingung,” lanjut Ichan terkekeh.
“Gue kesel lihat Kahmi struktural itu….memalukan…sudah tua-tua pada berantem,” Ichan terus ngoceh. “Cocok, gue juga ga suka,” saya menimpali. “Pokoknya kita ledekin aja orang-orang haus kekuasaan itu,” Ichan melanjutkan.
Kemudian Ichan bicara lebih serius. Namanya Kahmi under score Pro. Kegiatannya diskusi online dan offline, setiap ada kader muda yang baru pulang sekolah dari luar negri kita kasih forum untuk memaparkan thesis atau disertasi mereka. Setiap pertemuan kita iuran aja, tidak boleh ada cukong supaya tidak ada yang bisa mengkooptasi. Setiap orang boleh berpihak kemanapun. Bebas. Yang menentang juga bebas. Yang penting punya argumentasi dan rasional. Kita jadikan forum ini substantif, tidak struktural. Karena yang struktural itu bukan saja cenderung kaku, tetapi juga mudah terjebak dalam dukung mendukung politik yang mengabaikan akal sehat.
Jika kemudian terjadi kolaborasi bisnis, politik, ilmiah dsb., juga dipersilahkan, tetapi tidak mengatasnamakan Kahmi_Pro. Biarkan masing-masing bergerak dan berkolaborasi. Semua kita dukung. Yang penting punya niat baik untuk bangsa ini dan sukur bila bisa mendatangkan manfaat untuk banyak kawan-kawan kita.
Tak berapa lama setelah percakapan kami itu, Ichan sudah membuat mailing list kahmi_pro_network. Kemudian Ichan mengajak rapat di Hotel Atlet dengan sekitar 20 orang, ada yang sudah saya kenal ada yang belum. Diantara yang saya ingat ada Hamid Basyaib, Indra J Piliang, Marbawi, Yana Aditya, Alfi Rahmadi, Dadi. Kalau tidak salah ingat ada Syaiful Mujani dan Qodari juga. Itu semacam pertemuan deklarasi terbentuknya Kahmi_Pro. Marbawi dan Alfi Rahmadi ditugaskan menjadi admin milis_kahmi_network yang baru dibentuk.
Diputuskan pula rencana mengadakan konferensi ilmiah yang akan meminta peserta membuat paper ilmiah dalam bidang masing-masing. Hasilnya dibukukan dan disampaikan ke pemerintah sebagai masukan.
Saya didapuk sebagai ketua panitia. Konferensi itu kemudian sukses terlaksana di Hotel Atlet. Sayangnya rencana membukukannya tidak terjadi. Namun forum-forum yang menghadirkan alumni yang pulang sekolah S2 dan S3 dari luar negeri terlaksana rutin. Salah seorang alumni yang kemudian dipromosikan secara khusus oleh Ichan dan Hamid Basyaib adalah Anies Rasyid Baswedan. Diperkenalkan ke Jefrie Giofani dan dibuatkan lembaga bernama Indonesian Institute. Seperti kita ketahui kemudian Anies menjadi rector Universitas Paramadina, memimpin Indonesia Mengajar, Gubernur DKI, dst.
Ichan sangat aktif mempromosikan kawan-kawan dengan meminta mereka jadi naras umber di radio yang dia Kelola atau forum-forum yang dia bentuk di DPD (Dewan Perwakilan Daerah) dan tempat lain. Saya pribadi, disamping suka diminta jadi narsum juga sering diminta merekomendasikan siapa kawan kita yang bagus untuk dijadikan narsum dalam topik-topik hangat yang didiskusikan di acara Radio Trijaya “Jakarta Round up” dimana almarhum bertindak sebagai host dan produser.
Diskusi online Kahmi_Pro, dimulai dari milis kemudian bermigrasi ke Blacberry dan terakhir ke wahtsap dengan pengelompokan lebih spesifik: Kahmi_Pro politik, ekonomi, hukum, dll. Semua dikenal sangat aktif dan informatif. Beberapa kawan menyampaikan testimoni bahwa mereka hanya membuka group online (mulai dari milis sampai wa) kahmi_pro karena mereka dapat ilmu dan informasi banyak dari group itu. Tidak hanya berisi tausiah, selamat ultah, berita kematian seperti kebanyakan wa group. Tetapi juga karena group online kahmi_pro terus menjaga prinsip bebas, independen dan argumentatif, walaupun juga dikenal kadang sangat keras dan tanpa basa basi.
Bagi sebagian orang keras dan tanpa basa basi itu mungkin terkesan tidak sopan atau kasar, tapi menurut saya sebagai penggiat awal, itu adalah kekuatan. Adalah membosankan bila group wa isinya lebih banyak propaganda tokoh, puja-puji dan basa basi. Juga tak banyak manfaatnya jika tiap hari pas buka wa group isinya dipenuhi forward tausiah atau ceramah motivasi yang viral di setiap group wa. Anggota groupnya sendiri tidak punya pendapat sama sekali.
Dari awal kahmi_pro berdiri, baik di milis maupun di wa group, ada saja letupan-letupan emosional dan – bahkan – serangan personal muncul. Ada yang dalam satu serangan balik berhenti, ada pula sampai berlangsung berhari-hari dan berminggu-minggu saling serang.
Menariknya, kadang memang bikin miris, tetapi kadang juga jenaka. Lebih menarik lagi, ketika pertemuan offline, tidak ada yang sampai tidak mau salaman seperti negosiator Iran dan Amerika. Seorang kawan anggota group kecil yang dibuat Ichan pernah bercerita, istrinya sampai geleng-geleng kepala melihat suaminya “dihabisi” oleh hampir semua anggota dalam diskusi group itu, tetapi seperti tak berbekas sama sekali saat pertemuan offline. Semua hangat seperti tidak pernah terjadi apa-apa.
Juga ada saja sesekali muncul postingan dengan logika yang ngaco, argumentasi yang lemah, atau salah data. Jika ada, aturan main kahmi_pro sederhana: koreksi aja dan ajukan argumentasi tandingan. Mau disertai ledekan sebagai bumbu juga boleh aja. Itu tidak diharamkan. Yang diharamkan adalah ngeyel dengan kesalahan dan logical fallacynya. Hal lain yang diharamkan di kahmi_pro adalah postingan senada dengan ucapan pejabat pemerintah yang viral belakangan ini, yaitu “pokoknya ada”. Apatah lagi postingan bernada “pokoknya bela”.
Di banyak group wa dan ruang publik lain ada kecenderungan mau mencari kebenaran dalam diskusi publik. Saya kira ini bisa juga masuk kategori haram karena bisa dikatakan sebuah pekerjaan sia-sia. Dalil saya dari bukunya Yuval Noah Harari, “Neksus: Riwayat Jejaring Informasi, dari Zaman Batu ke Akal Imitasi” (2025). Kata Yuval, kebenaran itu relatif. Benar menurut si A belum tentu benar menurut si B, karena keduanya memandang dari perspektif masing-masing. Apalagi dalam kebijakan publik yang selalu punya banyak alternatif pilihan.
Memasukkan DME (Dimethyl ether) dalam proyek hilirisasi umpamanya, tentu saja tepat menurut pemerintah, karena kita masih impor gas dan LPG sedangkan batu bara kita melimpah, sehingga mengolahnya jadi gas akan mengurangi ketergantungan kita pada impor. Defisa kita jadi hemat, karena bisa menekan 5-8% dari total impor. Tetapi jika harga batu bara naik, rupiah melemah, proyek molor/biaya membengkak, dan operasional tidak efisien, gas impor bisa jadi lebih murah; bila dipaksakan APBN akan boncos karena subsidi meningkat. Keduanya benar dan masuk akal.
Oleh karena itu, kata Yuval, menyikapi jejaring informasi jangan fokus pada kebenaran informasinya, melainkan pada manfaat dari informasi tersebut. Dalam sejarah, lanjut Yuval, banyak informasi salah tetapi sangat bermanfaat. Foto dan patung Yesus umpamanya, Yuval memberi contoh, tidak ada bukti historis apapun yang menunjukkan wajah dalam foto dan patung Yesus itu benar adalah Yesus. Tetapi patung itu sudah berabad-abad mampu menyatukan miliaran ummat kristiani di seluruh dunia.
Bagi kawan-kawan yang sedang duduk dalam kekuasaan, saran Yuval di atas mungkin bisa dijadikan pedoman dalam menghadapi kritik. Fokus lah pada manfaat, bukan pada kebenaran data kritik, sekalipun menampilkan data yang benar juga diperlukan. Sebab, kritik sekeras dan sekasar apapun atau se-hoax apapun faktanya, bisa dimanfaatkan setidaknya dalam dua hal. Pertama, untuk melatih kesabaran atau Latihan menjadi pejabat publik yang benar dalam menghadapi publik yang beragam. Kedua, untuk melihat takaran sebesar apa kemarahan publik terhdap kekuasaan sekarang. Jika sensitifitas sudah terlatih dia bisa jadi petunjuk seberapa nyaring bunyi lonceng kematian kekuasaan yang sedang digenggam.
Biasanya kepekaan orang-orang yang sedang duduk dalam kekuasaan, baik kekuasaan politik maupun kekuasaan ekonomi, agak lemah. Saya punya pengalaman pada tahun ’98. Seorang kawan datang membawa investor dari Jerman yang ingin bertemu petinggi Telkom dan mentri-mentri terkait dengan bisnis telekomunikasi yang saat itu dibagi dalam beberapa divisi regional (divre). Kebetulan saya punya paman aktivis 66 yang bisa mengatur pertemuan dengan semua pejabat itu dalam waktu tiga hari. Tapi saya tetap memperingatkan sang investor akan resiko politik, karena menurut feeling saya dan kawan waktu itu rezim Suharto akan roboh dalam hitungan bulan. Dia membantah, karena sebelum datang ke Indonesia, akunya, dia sudah bertemu dengan petinggi CIA dan Kementrian Luar Negri Amerika. Semua mengatakan Suharto tidak akan tumbang. Saking yakinnya dia bertaruh memberi kami USD 1.000 jika benar Suharto tumbang dalam hitungan bulan. Dan dia menepati janjinya itu.
Diam alias nirposting atau postingan yang nilainya 11/12 dengan diam seperti “good”, “interesting” tidak diharamkan di kahmi_pro. Karena diam dan postingan pendek seperti itu sulit kita kategorikan, apakah karena tidak punya waktu atau takut berdebat atau – bisa juga – menganggap anggota group ini tidak selevel dengannya.
Hal haram lainnya adalah membawa group ini mendukung atau pro satu pihak saja, karena itu bisa dipastikan masuk kategori pekerjaan mubazir, disamping bertentangan dengan makna “pro” dari kahmi_pro seperti sudah saya jelaskan di atas. Saya katakan mubazir karena, dari awal sampai sekarang, saya perhatikan anggota kahmi_pro ada yang sudah selesai dengan dirinya ada yang belum, ada yang senang berada dalam pemerintahan ada yang memilih di luar, ada yang memilih melakukan kritik terbuka dan ada yang memilih jalur belakang, ada yang keras ada yang lembut, dst.
Pengalaman menunjukkan mereka pasti akan masuk salah satu dari 3 kategori berikut: benar-benar pro, benar-benar anti yang pro, atau di tengah-tengan antara yang pro dan anti. Artinya, pasti akan ada yang sekarang selalu mengatakan “menyala abangku” pada seseorang abang, begitu angin berubah mungkin dia masih teriak “menyala abangku”, tapi pada abang yang lain.
Karena itu Saya setuju dengan substansi pernyataan Bang FA di rumah dinas Adinda Bahlil bahwa mendukung siapapun tokoh HMI yang hebat. Yang baik untuk bangsa dan HMI. Bang FA menekankan menempatkan kata “bangsa” di depan kata “HMI”. Tidak sebaliknya. Substansi ini harus terus kita jaga karena ketika bangsa ini baik maka otomatis kita punya peluang mendapatkan kebaikan. Sebaliknya, bila bangsa ini rusak, maka kita semua tidak akan kebagian apa-apa. Apalagi anak cucu kita.
Oleh: Medrial Alamsyah

