Sunat Massal Jadi Jalan FKUB Mimika Tanamkan Bhinneka Tunggal Ika dan Nilai Harmoni Pada Keluarga Sejak Dini

| Rabu, 03 Juni 2026 | 02.03 WIB

Bagikan:

 

Bernasindonesia.com  – Di tengah hiruk pikuk pembangunan fisik, Kabupaten Mimika memilih jalur lain untuk membangun daerah: membangun manusia dan kerukunan. Tepat pada Hari Lahir Pancasila, 1 Juni 2026, Forum Kerukunan Umat Beragama FKUB Mimika bersama Badan Kesbangpol Mimika menggelar “Sunat Massal & Wawasan Kebangsaan Bina Kerukunan”.

Kegiatan ini lebih dari sekadar bakti sosial Sunat Massal. Ini adalah pelajaran hidup tentang makna “Bhinneka Tunggal Ika dan Harmoni Umat Beragama”.

Kerukunan Dimulai dari Aksi, Bukan Slogan. FKUB Mimika yang dipimpin Dr. Jeffrey C. Hutagalung,M.Phil menyatukan dua agenda yang tampak berbeda: kesehatan dan harmoni beragama. Anak-anak dari berbagai latar belakang suku, agama, dan budaya duduk dalam satu antrian yang sama. Tidak ada pembeda. Inilah praktik langsung sila ke-3 Pancasila: Persatuan Indonesia.

Pesan edukatifnya sederhana yakni membangun paradigma tunas muda tentang kerukunan, serta membangun harmoni dan Kerukunan dari balik pintu pintu dikeluarga. Inilah investasi termahal yang tidak terlihat, dan akan dipanen esok dimasa depan.

Momentum ini menjadi penguat tentang nilai nilai kebersamaan. Kegiatan ini melibatkan 50 orang anak sebagai peserta Sunat Massal yang berasal dari 3 Agama yakni Islam, Kristen, dan Katolik.

Disamping itu Wawasan Kebangsaan Bina Kerukunan juga diberikan melalui materi kepada 50 orang tua yg hadir medampingi anaknya sebagai momentum untuk mengokohkan nilai nilai persatuan dan keberagaman dilingkungan keluarga.

Kepala Badan Kesbangpol Kab. Mimika, Ronny S. Marjen, S.STP.,M.H menyampaikan bahwa "Hari ini, FKUB Kab. Mimika telah menginisiasi kegiatan sunatan masal dengan wawasan kebangsaan. Kegiatan ini merupakan kegiatan yang ketiga, sebelumnya yaitu penyuluhan kesehatan dan wawasan kebangsaan yang diselenggarakan umat katolik di SP-6. Hari ini kita mengajak kepada seluruh orang tua untuk mendorong anak-anaknya untuk melakukan sunat masal sesuai dengan ketentuan agama agar mereka tumbuh kembang sesuai dengan norma agama yang berlaku."

"Di kabupaten mimika ini warga hidup heterogen baik latar belakang suku, agama dan budaya, sehingga Bupati Mimika sangat ingin menjadikan Mimika sebagai tempat bagi rumah kita semua bagi orang yang ada di Papua, baik orang asli Mimika, orang asli papua, orang asli Amume Kamoro juga masyarakat Mimika yang ada di timika, yang kerja di timika, yang juga ingin beradu nasib di timika, kami juga ingin tempat yang ada di Timika hidup nyaman dan dapat bekerja dengan baik, sama-sama menjaga dan harus saling toleransi di dalamnya", ujarnya.

Kepala FKUB Kab. Mimika menyampaikan bahwa, "Kegiatan bakti sosial hari ini bukan sebatas bakti sosial tetapi tentang makna hidup, tentang berbhineka tunggal ika dan menjaga harmoni di antara sesama, jadi Bapak Kepala Badan Kesbangpol menjelaskan harmoni antara bersyukur dan beragama. Terima kasih untuk semuanya."

Negara Hadir Lewat Empati.

Kesbangpol Mimika menekankan bahwa menjaga NKRI bukan hanya tugas TNI-Polri. Negara hadir lewat empati. Sunat gratis metode laser yang aman, nyaman, tanpa jarum suntik, adalah bentuk negara peduli pada kesehatan generasi muda yg secara keseluruhan kegiatan ini diprakarsai dan dilaksanakan sepenuhnya oleh FKUB Mimika. 

Kepala Kesbangpol Ronny S. Marjen menegaskan, “Pancasila akan mati jika hanya dibaca saat upacara 1 Juni. Ia harus dihidupkan lewat kegiatan yang menyentuh langsung masyarakat. Hari ini kami sunat anak-anaknya, besok mereka yang menjaga kerukunan Mimika.”

Pelajaran untuk Kita Semua.
Kegiatan ini memberi 3 pelajaran edukatif tentang kerukunan: Kerukunan butuh ruang: FKUB menyediakan ruang ruang perjumpaan dengan program strategis yang menyasar seluruh segmen.

Kerukunan butuh bahasa cinta : Dampak dan manfaat yang langsung dirasakan oleh masyarakat akan melahirkan rasa yang semuanya menuju pada Harmoni Bangsa.

Kerukunan butuh teladan :Spirit pemimpin daerah, para pimpinan lembaga agama, serta seluruh tokoh agama harus menjadi teladan dan teladan itu diwariskan melalui usaha yang panjang. Dan itu sedang kita lakukan.

Mimika membuktikan: daerah yang majemuk tidak harus ribut. Dengan program yang tepat sasaran, keragaman justru jadi kekuatan. “Untuk Mimika yang Damai, Maju dan Sejahtera”.

Bagikan:
KOMENTAR
TERKINI