Bernasindonesia.com - Mengapa ada negara yang memiliki sumber daya besar tetapi tetap tertinggal, sementara negara lain dengan sumber daya terbatas justru mampu menjadi maju?
Pertanyaan ini telah melahirkan berbagai teori pembangunan. Teori modernisasi berbicara tentang transformasi ekonomi. Developmental state menekankan kapasitas negara. Good governance menyoroti kualitas institusi. Human capital menekankan pendidikan dan keterampilan. Ekonomi ekologis mengingatkan bahwa pembangunan memiliki batas lingkungan.
Masing-masing teori memberikan jawaban penting.
Tetapi masalahnya, realitas pembangunan tidak pernah berjalan dalam satu dimensi.
Di sinilah Integrated Reality Theory (IRT) mencoba masuk.
IRT tidak datang untuk menggantikan teori-teori pembangunan tersebut. Ia mencoba menyediakan kerangka integratif untuk membaca hubungan di antara berbagai faktor yang selama ini sering dianalisis secara terpisah.
Pertanyaan IRT sederhana:
Bukan hanya berapa banyak sumber daya yang dimiliki sebuah sistem, tetapi seberapa baik sistem tersebut mengonversikannya menjadi hasil.
Dari Akumulasi Menuju Konversi
Dalam IRT, pembangunan dipahami melalui lima unsur utama:
Energi (E), Informasi (I), Entropi (S), Kesadaran (C), dan Evolusi (ν).
Energi adalah sumber daya yang tersedia: modal, tenaga kerja, waktu, teknologi, sumber daya alam, maupun anggaran negara.
Tetapi energi saja tidak cukup.
Indonesia, misalnya, memiliki sumber daya alam, populasi besar, pasar domestik luas, dan anggaran pembangunan yang semakin besar. Namun besarnya input tidak otomatis menghasilkan output yang sebanding.
Mengapa?
Karena energi membutuhkan informasi.
Informasi menentukan ke mana energi diarahkan. Kebijakan tanpa data yang baik dapat menghasilkan pemborosan. Investasi tanpa informasi pasar dapat gagal. Anggaran tanpa evaluasi dapat menjadi sekadar rutinitas administratif.
Namun bahkan energi dan informasi yang baik masih menghadapi persoalan lain: entropi sistemik.
Entropi: Kebocoran yang Sering Tidak Terlihat
Dalam bahasa sederhana IRT, entropi adalah kebocoran sistem.
Korupsi adalah kebocoran.
Birokrasi yang berbelit adalah kebocoran.
Regulasi yang tumpang tindih adalah kebocoran.
Koordinasi yang buruk adalah kebocoran.
Konflik kepentingan dan rendahnya kepercayaan juga dapat menjadi sumber friksi yang mengurangi efektivitas energi pembangunan.
Karena itu, ketika sebuah negara menghadapi masalah pembangunan, pertanyaannya tidak selalu harus:
"Berapa banyak anggaran yang harus ditambahkan?"
IRT justru mengajukan pertanyaan:
"Berapa banyak yang hilang sebelum anggaran itu menghasilkan sesuatu?"
Inilah perubahan cara pandang yang ditawarkan IRT.
Menambah energi pada sistem yang bocor tidak selalu menyelesaikan masalah. Bahkan, jika kebocoran tetap ada, semakin besar energi yang dimasukkan, semakin besar pula energi yang terbuang.
IRT dan Developmental State
Pendekatan developmental state telah menunjukkan pentingnya negara dalam mengarahkan transformasi ekonomi.
IRT tidak menolak gagasan tersebut.
Tetapi IRT menambahkan pertanyaan:
Seberapa besar kapasitas negara benar-benar dikonversikan menjadi hasil pembangunan?
Negara dapat memiliki birokrasi besar, anggaran besar, dan program besar. Tetapi jika koordinasi buruk, informasi tidak mengalir, dan kebocoran tinggi, kapasitas tersebut tidak otomatis menjadi produktivitas.
Dengan demikian, IRT melihat kapasitas negara bukan hanya dari berapa besar kapasitas yang dimiliki, tetapi dari seberapa efisien kapasitas tersebut dikonversikan menjadi output sosial dan ekonomi.
IRT dan Good Governance
Good governance berbicara tentang transparansi, akuntabilitas, efektivitas, dan kualitas institusi.
IRT melihat semuanya sebagai bagian dari persoalan yang lebih besar: bagaimana menurunkan entropi sistem.
Korupsi bukan hanya persoalan hukum.
Ia juga persoalan efisiensi.
Birokrasi buruk bukan hanya persoalan administrasi.
Ia juga persoalan produktivitas.
Konflik kepentingan bukan hanya persoalan etika.
Ia juga persoalan kehilangan energi sistemik.
Dengan cara pandang ini, governance tidak berhenti pada pertanyaan apakah prosedur telah dipenuhi. Pertanyaannya menjadi lebih fundamental:
Apakah sistem menghasilkan lebih banyak daripada energi yang dikonsumsinya?
Dari Human Capital ke Systemic Conversion
IRT juga tidak bertentangan dengan teori human capital.
Pendidikan, keterampilan, dan kualitas manusia tetap sangat penting.
Tetapi manusia yang berkualitas belum tentu menghasilkan sistem yang berkualitas.
Seorang pegawai yang kompeten dapat bekerja dalam organisasi yang tidak efisien.
Seorang peneliti dapat menghasilkan pengetahuan yang tidak pernah digunakan.
Seorang pengusaha dapat memiliki inovasi tetapi terhambat regulasi.
Artinya, kapasitas individu membutuhkan sistem yang mampu mengonversinya menjadi hasil.
Di sinilah IRT mencoba mempertemukan pendekatan yang berpusat pada manusia dengan pendekatan yang berpusat pada institusi.
IRT dan Ekonomi Ekologis
Persoalan pembangunan juga tidak dapat dipisahkan dari lingkungan.
Pertumbuhan ekonomi yang menghasilkan peningkatan produksi tetapi sekaligus menghancurkan lingkungan memiliki biaya yang sering tidak langsung terlihat dalam angka PDB.
IRT memungkinkan persoalan tersebut dibaca melalui konsep entropi.
Limbah, polusi, pemborosan energi, dan kerusakan lingkungan dapat dipahami sebagai bentuk kehilangan atau biaya sistemik yang harus diperhitungkan dalam menilai kualitas pembangunan.
Dengan demikian, pertanyaan pembangunan berubah:
Bukan hanya:
"Seberapa besar ekonomi tumbuh?"
tetapi:
"Berapa banyak sumber daya yang harus dikorbankan untuk menghasilkan pertumbuhan tersebut?"
Dari Indonesia untuk Dunia
Ada satu hal yang membuat IRT menarik: ia lahir dari Indonesia.
Selama puluhan tahun, banyak teori pembangunan utama berkembang dari Amerika Utara dan Eropa, kemudian digunakan untuk membaca negara-negara berkembang.
IRT mencoba membalik arah percakapan itu.
Namun kelahiran dari Indonesia bukan berarti IRT otomatis benar.
Justru sebaliknya.
Jika IRT ingin menjadi teori yang serius, ia harus bersedia diuji.
Di Indonesia.
Di Vietnam.
Di India.
Di Afrika.
Bahkan di negara-negara maju.
Jika mekanisme IRT hanya bekerja untuk menjelaskan Indonesia, maka ia mungkin lebih tepat disebut kerangka kontekstual.
Tetapi jika hubungan antara energi, informasi, entropi, kesadaran, dan evolusi mampu menjelaskan variasi pembangunan di berbagai konteks, maka IRT memiliki peluang untuk berkembang menjadi kerangka teoritis yang lebih universal.
Universalitas tidak diperoleh karena sebuah teori mengklaim dirinya universal. Universalitas diperoleh karena ia mampu bertahan dari pengujian.
Pertanyaan Baru tentang Pembangunan
Pada akhirnya, mungkin kontribusi terbesar IRT bukan terletak pada klaim bahwa ia memiliki "jawaban terakhir".
Justru sebaliknya.
IRT menawarkan pertanyaan baru.
Selama ini pembangunan sering bertanya:
Berapa besar investasi?
IRT bertanya:
Seberapa baik investasi itu dikonversikan?
Pembangunan bertanya:
Berapa besar anggaran?
IRT bertanya:
Berapa banyak yang bocor?
Kita bertanya:
Seberapa banyak sumber daya yang kita miliki?
IRT mengajak kita bertanya:
Seberapa baik kita mengubah apa yang kita miliki menjadi masa depan?
Mungkin itulah posisi IRT di tengah pergulatan teori pembangunan.
Bukan sebagai teori yang datang untuk membuang teori lama.
Tetapi sebagai jembatan yang mencoba mempertemukan energi, informasi, institusi, manusia, lingkungan, kesadaran, dan kemampuan belajar dalam satu cara pandang.
Dan jika percakapan tentang pembangunan selama ini terlalu sering dimulai dari pusat-pusat pengetahuan dunia, IRT menawarkan kemungkinan lain:
bahwa sebuah pertanyaan tentang masa depan peradaban juga bisa dimulai dari Indonesia.
Oleh: M. Shoim Haris
(Peneliti ADCENT /Advisory Center For Development)

