Survei ISEI: Ekonom Optimistis Ekonomi Nasional Semester II 2026, Namun Kepastian Hukum Masih Jadi Tantangan

| Jumat, 28 Agustus 2026 | 00.33 WIB

Bagikan:

Bernasindonesia.com — Persepsi para ekonom dan responden berlatar belakang ekonomi dan bisnis terhadap kondisi perekonomian nasional menunjukkan optimisme yang cukup kuat. Temuan tersebut berbeda dengan persepsi masyarakat secara umum yang dalam sejumlah survei menunjukkan kekhawatiran lebih besar terhadap kondisi ekonomi nasional.


Temuan itu berasal dari survei yang dilakukan Pengurus Pusat Ikatan Sarjana Ekonomi Indonesia (PP ISEI) secara daring dan dipublikasikan dalam Sidang Pleno ISEI di Bogor, 26–28 Agustus 2026. Survei menggunakan metode purposive sampling dengan melibatkan 4.012 responden yang memiliki latar belakang ekonomi, bisnis, dan bidang terkait.

Hasil survei menunjukkan para ekonom dan responden berlatar belakang ekonomi serta bisnis pada umumnya memiliki persepsi positif terhadap pertumbuhan ekonomi pada semester I 2026. Indeks persepsi tercatat sebesar 60 persen. Kinerja pertumbuhan ekonomi sekitar 5 persen dinilai menjadi modal penting untuk mempertahankan momentum pertumbuhan nasional.

Optimisme tersebut bahkan meningkat ketika responden diminta melihat prospek semester II 2026. Indeks persepsi terhadap pertumbuhan ekonomi pada semester II mencapai 62,3 persen, lebih tinggi dibandingkan persepsi terhadap kinerja semester pertama.

Optimisme juga tercermin dalam pandangan terhadap kinerja perdagangan. Responden menilai kinerja ekspor relatif lebih baik dibandingkan impor, dengan indeks mencapai 60,3 persen. Untuk semester II 2026, optimisme terhadap kinerja ekspor meningkat menjadi 62 persen.
Meski demikian, survei juga menunjukkan adanya sejumlah persoalan yang masih menjadi perhatian para ekonom. Responden relatif kurang yakin terhadap kemampuan perekonomian dalam mengatasi persoalan pengangguran dan menjaga tingkat inflasi.

Persepsi positif para ekonom tersebut berbeda dengan persepsi masyarakat secara umum. Survei SMRC pada Juli 2026, misalnya, menunjukkan penilaian masyarakat terhadap kondisi ekonomi nasional berada pada level yang relatif rendah dalam beberapa tahun terakhir. Sebanyak 49,4 persen responden menilai kondisi ekonomi saat ini buruk atau sangat buruk, sementara hanya 15,7 persen yang menilainya baik atau sangat baik.

Perbedaan tersebut dapat dipahami dari karakteristik responden dan metode kedua survei. Survei ISEI secara khusus menyasar individu yang memiliki latar belakang ekonomi dan bisnis, sementara survei publik pada umumnya menggunakan sampel masyarakat secara lebih luas dan acak. Perbedaan basis pengetahuan dan pengalaman ekonomi dapat menghasilkan persepsi yang berbeda dalam membaca kondisi nasional.
“Perbedaan persepsi antara ekonom dan masyarakat umum menunjukkan bahwa cara membaca kondisi ekonomi sangat dipengaruhi oleh pengetahuan, pengalaman, serta informasi yang dimiliki responden. Para ekonom cenderung melihat indikator fundamental dan prospek ke depan, sementara persepsi publik lebih banyak dipengaruhi pengalaman ekonomi sehari-hari, terutama daya beli dan perubahan harga,” ujar Prof. Didik J. Rachbini, Ph.D., Ekonom Senior dan Pengurus Pusat ISEI.

Namun, optimisme ekonomi tidak sepenuhnya diikuti oleh keyakinan terhadap kepastian hukum. Survei ISEI menunjukkan indeks persepsi terhadap kemampuan pemerintah dalam menjamin kepastian hukum hanya berada pada angka 53,4. Artinya, meskipun para ekonom optimistis terhadap pertumbuhan ekonomi, masih terdapat keraguan terhadap aspek kepastian hukum.

Temuan mengenai kepastian hukum tersebut relatif sejalan dengan persepsi masyarakat. Survei SMRC menunjukkan hanya 26,4 persen masyarakat yang menilai penegakan hukum berjalan baik atau sangat baik. Sebaliknya, 37,6 persen menilai penegakan hukum buruk atau sangat buruk, sedangkan 30,2 persen menilainya berada dalam kondisi sedang.

Menurut Didik, temuan tersebut penting karena kepastian hukum merupakan salah satu fondasi utama bagi keberlanjutan pertumbuhan ekonomi. Optimisme terhadap pertumbuhan perlu ditopang oleh iklim usaha yang memberikan kepastian bagi pelaku ekonomi, investor, dan masyarakat.

Secara keseluruhan, survei PP ISEI memperlihatkan optimisme yang cukup menonjol di kalangan ekonom dan responden berlatar belakang ekonomi serta bisnis. Mereka memiliki ekspektasi bahwa kondisi perekonomian Indonesia dalam enam bulan ke depan akan semakin baik.

Meski demikian, sejumlah tantangan tetap perlu diantisipasi pemerintah. Di antaranya adalah daya beli masyarakat, kenaikan harga pangan dan energi, pengendalian inflasi, persoalan pengangguran, serta pengelolaan defisit APBN.
“Optimisme para ekonom perlu dijadikan modal kebijakan, tetapi tidak boleh membuat pemerintah mengabaikan persoalan yang dirasakan masyarakat. Tantangan ke depan adalah memastikan pertumbuhan ekonomi benar-benar diterjemahkan menjadi peningkatan daya beli, stabilitas harga, kesempatan kerja, dan kesejahteraan masyarakat,” kata Didik.

Berbeda dengan persepsi umum yang cenderung lebih hati-hati, responden ISEI relatif percaya bahwa pemerintah, baik pusat maupun daerah, memiliki kemampuan untuk meningkatkan kinerja perekonomian Indonesia. Karena itu, optimisme tersebut perlu diikuti dengan kebijakan yang konsisten, penguatan kepastian hukum, serta kemampuan pemerintah menjaga stabilitas ekonomi agar momentum pertumbuhan dapat berkelanjutan.


Bagikan:
KOMENTAR
TERKINI