Papua Lumbung Pangan Pasifik

| Rabu, 16 September 2026 | 07.13 WIB

Bagikan:

 

Bernasindonesia.com - Jika Papua diproyeksikan sebagai *“kampung atlet”* Indonesia, mengapa tidak sekaligus didesain sebagai lumbung pangan Pasifik?

Dua visi itu sebenarnya tidak bertentangan.

Visi _*pertama*_ membangun manusia dan reputasi. Visi _*kedua*_ membangun ketahanan ekonomi, pangan, dan konektivitas kawasan.

Papua memiliki modal geografis untuk memainkan keduanya.

Peluang itu bukan tanpa dasar. Negara-negara kepulauan Pasifik menghadapi keterisolasian geografis, biaya transportasi tinggi, keterbatasan lahan dan ketergantungan besar pada pangan impor.

FAO mencatat hampir seluruh negara berkembang kepulauan kecil mengimpor sedikitnya 60 persen kebutuhan pangannya. Lebih dari separuh negara-negara itu mengimpor lebih dari 80 persen.

Namun Papua tidak perlu bermimpi memasok seluruh Pasifik. Strategi yang lebih realistis adalah mempertemukan kebutuhan pasar dengan keunggulan Papua. Dimulai dari pasar terdekat: Papua, Indonesia Timur, Papua Nugini (PNG), lalu Melanesia dan Pasifik.

Ada dua _*hero commodity*_ yang layak menjadi ujung tombak.

_Pertama_, sagu. Jika Pasifik membutuhkan pangan berbasis pati dan pangan lokal, Papua memiliki keunggulan ekologis dan budaya yang sulit ditandingi: sagu.

Tantangannya bukan sekadar memperluas produksi, melainkan membangun industri pengolahan: tepung, mi, biskuit, dan pangan siap konsumsi. Tujuannya agar sagu menjadi komoditas bernilai tambah. Sagu adalah natural advantage Papua.

_Kedua_, gula. Pasar gula Pasifik memang sudah dipasok Australia dan Thailand. Karena itu Papua tidak perlu mengklaim akan menggantikan mereka.

Peluangnya adalah membangun pemasok alternatif yang lebih dekat bagi Melanesia. Terutama PNG. Kawasan Merauke memiliki potensi pengembangan tebu terintegrasi dengan gula dan bioetanol.

Pemerintah pernah memproyeksikan produksi 2,6 juta ton gula dan 244 juta liter bioetanol. Pada 2024, Indonesia juga mengekspor 25.948 ton gula senilai US$16,82 juta ke PNG. Gula adalah industrial advantage yang dapat dibangun Papua.

Sementara itu, padi dan jagung menjadi fondasi ketahanan pangan Papua dan Indonesia Timur. Sekaligus bahan baku pakan dan industri.

Perikanan menjadi sumber protein sekaligus peluang ekspor. Ketika pelabuhan serta _*cold chain*_ tersedia.

Targetnya pun tidak perlu muluk. Jika Papua mampu menjadi pemasok kuat sagu dan mengambil posisi signifikan dalam pasar gula PNG, itu sudah merupakan pijakan geoekonomi yang penting. Dari sana, jaringan perdagangan dapat berkembang ke Melanesia dan Pasifik.

Inilah _*economic statecraft*_. Pangan bukan hanya komoditas, tetapi instrumen membangun konektivitas, perdagangan, investasi, dan hubungan strategis dengan negara tetangga. Papua dapat menjadi gerbang ekonomi Indonesia ke Pasifik.

Namun semua itu membutuhkan pelabuhan, jalan, listrik, gudang, industri pengolahan dan cold chain. Sekaligus penghormatan terhadap masyarakat adat dan daya dukung lingkungan.

Papua tidak harus menjadi lumbung pangan terbesar. Cukup menjadi lumbung pangan yang paling relevan bagi tetangga terdekatnya.

Jika olahraga dapat menjadikan Papua sumber talenta Indonesia, pangan dapat menjadikan Papua simpul geoekonomi dan geopolitik Indonesia di Pasifik. Di situlah peran Papua dalam percaturan kawasan. Bukan justru diadu oleh kawasan sekitarnya dengan Indonesia.

Oleh: Abdul Rohman Sukardi

Bagikan:
KOMENTAR
TERKINI