Selamat Jalan, Angga!

| Jumat, 11 September 2026 | 00.30 WIB

Bagikan:

 

Bernasindonesia.com - Namanya Airlangga Pribadi Kusman. Biasa dipanggil Angga.

Saya mulai mengenalnya di penghujung dekade 1990-an. Saat itu saya adalah aktivis senior Majelis Sinergi Kalam (Masika) Pusat, sementara Angga aktivis muda Masika Surabaya.

Ketika saya melakukan riset untuk program S2-leading S3 di Australian National University, saya banyak menerima undangan menjadi pembicara dari berbagai daerah. Namun undangan dari Masika Surabaya selalu datang dengan semangat yang khas. Di sanalah saya bertemu dengan para pentolannya—Angga, Iman, Dimas, Rusdi, Adi, dan yang lainnya—yang hingga kini masih menjalin relasi hangat dengan saya.

Sejak perjumpaan pertama, Angga segera menampakkan dirinya sebagai anak muda yang tidak mudah selesai dengan jawaban. Ia paling rajin melontarkan pertanyaan-pertanyaan kritis dan mengajak berdiskusi tentang buku-buku terbaru yang dibacanya. Belakangan saya tahu, ia termasuk aktivis Surabaya yang paling bersemangat memburu dan mengoleksi buku.

Angga pernah ditempa dalam pergerakan mahasiswa Islam, tetapi minat keislamannya tidak berhenti pada simbol. Ia lebih tertarik pada dimensi struktural: kekuasaan, ketimpangan, dan pembebasan. Islam Semangka, istilah yang rasanya pas untuknya: hijau di luar, merah di dalam.

Selepas studi di ANU pada 2004, saya harus membawa pulang tumpukan buku ke Tanah Air. Saat itu saya masih sangat miskin, bahkan tak punya tempat untuk menampungnya. Angga datang dan menyediakan rumah orang tuanya sebagai tempat bernaung buku-buku saya.

Buku-buku itu menemukan rumah. Dan tanpa kami sadari, persahabatan kami makin memperluas pendar aura gugusan buku.

Ketika kemudian saya menjadi dosen tamu di Program Pascasarjana FISIP UI, Angga mendaftar di sana. Suatu hari ia datang ke rumah saya, meminta saya menjadi pembimbing tesisnya tentang politik wacana. Ia menjadi satu-satunya mahasiswa pascasarjana UI yang pernah saya bimbing. Setelah itu saya kapok—honornya super kecil (😁 maaf), sementara saya selalu berusaha membimbing dengan penuh tanggung jawab.

Selepas S2, Angga melanjutkan doktoralnya di Murdoch University, Australia. Disertasinya kemudian diterbitkan Palgrave Macmillan pada 2019: The Vortex of Power: Intellectuals and Politics in Indonesia's Post-Authoritarian Era.

Dalam kajian tentang intelektual dan sosiologi pengetahuan, ia melanjutkan percakapan yang pernah saya mulai tentang genealogi inteligensia Indonesia, dengan medan yang lebih khusus: Jawa Timur. Dengan pengaruh mazhab Murdoch, ia membacanya melalui lensa struktural—melihat intelektual bukan sebagai pikiran yang mengambang, tetapi sebagai bagian dari pusaran kekuasaan dan masyarakat.

Boleh dibilang, disertasi Angga merupakan hasil perjumpaan dari dua arus, dua gugus pendekatan dan peralatan kajian. 

Selepas Murdoch, Angga masih sempat saya ajak bergabung sebagai tim pakar UKP-PIP, yang kemudian berkembang menjadi BPIP.

Setelah saya meninggalkan lembaga itu, Angga melanjutkan petualangan intelektualnya sendiri. Ia terus membaca dan menulis. Suatu ketika ia datang meminta saya menjadi pembahas peluncuran bukunya, Merahnya Ajaran Bung Karno: Narasi Pembebasan ala Indonesia (2022). Sayang, kesibukan membuat saya tak bisa memenuhi permintaannya.

Dari kejauhan saya melihatnya semakin tekun menggeluti tema antikemapanan, demokrasi ekonomi, dan nasionalisme emansipatoris. Seolah seluruh perjalanan intelektualnya menemukan satu benang merah: mencari jalan agar gagasan tidak berhenti sebagai wacana, tetapi menjadi energi pembebasan.

Sekonyong-konyong, pada suatu senja, ketika Jakarta dihujani debu vulkanik, kabar itu datang melalui grup WhatsApp:

Angga telah pergi.

Saya terdiam.

Ada kematian yang datang seperti petir. Ada pula yang datang seperti senja: perlahan, tetapi ketika kita sadar, cahaya telah pergi.

Angga pergi dalam usia relatif muda. Namun ia meninggalkan warisan pemikiran yang relatif matang—gagasan yang telah ditempa oleh buku, pergulatan akademik, dan kegelisahan sosial; gagasan yang telah siap diwariskan kepada kaum muda, kepada generasi pelanjut.

Tubuhnya pergi. Tetapi pertanyaannya masih berjalan.

Buku-bukunya masih menunggu pembaca.

Pikirannya masih mengetuk pintu zaman.

Sekali lagi, bangsa ini kehilangan elan vital, seorang pemikir yang gigih dan tak mudah berdamai dengan kemapanan.

Dan saya kehilangan seorang sahabat intelektual.

Selamat jalan, Angga.

Maafkan saya tidak bisa mengantarmu ke tempat peristirahatan terakhir.

Aku pun masih di sini, bergelut dengan sisa hidup yang semakin ringkih. Masih membaca, masih menulis, masih menyimpan percakapan-percakapan yang belum selesai.

Barangkali suatu hari nanti, di fase kehidupan yang lain, kita akan berjumpa kembali.

Kau datang membawa sebuah buku, seperti dulu.

Lalu dengan mata yang penuh ingin tahu, kau bertanya:

“Kang, bagaimana menurut akang?”

Dan kali ini, Angga, semoga kita punya waktu yang panjang untuk berbincang.

Tentang buku.
Tentang Indonesia.
Tentang pembebasan.
Tentang hidup—dan barangkali tentang kehidupan pasca kematian.

Selamat jalan, sahabat.

Pertanyaanmu belum selesai.

Dan mungkin memang tidak perlu selesai.

Sebab ada pertanyaan yang justru menemukan keabadiannya setelah orang yang mengucapkannya pergi.

Beristirahatlah dengan tenang!

Oleh: Yudi Latif

Bagikan:
KOMENTAR
TERKINI