Bernasindonesia.com - Badan Nasional Penanggulangan Bencana (BNPB) melalui Direktorat Rehabilitasi dan Rekonstruksi Sosial, Ekonomi dan Lingkungan Hidup (Dit. RRSELH) bersama Universitas Indonesia (UI) menyerahkan bantuan stimulan untuk Pendampingan Sosial serta Pemulihan dan Peningkatan Produktivitas Sumber Daya Alam dan lingkungan hidup (P4SDALH) kepada masyarakat terdampak bencana, yang berlokasi di Kampung Haji, Desa Kerta Angsana, Kabupaten Sukabumi, Jawa Barat, Rabu (28/10).
Kegiatan ini merupakan bagian dari upaya mempercepat pemulihan pascabencana banjir, tanah bergerak, tanah longsor, dan angin kencang yang terjadi pada Desember 2024. Program difokuskan di Kampung Gunung Batu dan Kampung Haji, Desa Kerta Angsana, Kecamatan Nyalindung, yang menjadi lokasi relokasi warga terdampak tanah bergerak.
Direktur RRSELH BNPB, Luqmanul Hakim, S.T., M.T., menyampaikan bahwa fase pascabencana merupakan tahapan yang membutuhkan waktu panjang. Oleh karena itu, pemulihan tidak cukup berfokus pada pembangunan fisik, tetapi juga harus mencakup pemulihan kehidupan sosial, penguatan kapasitas masyarakat, dan perbaikan lingkungan hidup.
Menurutnya, keterbatasan sumber daya menuntut pelaksanaan program pendampingan secara selektif berdasarkan kajian kebutuhan. Kerja sama dengan perguruan tinggi, termasuk Universitas Indonesia, diharapkan dapat mendukung intervensi yang diberikan tepat sasaran dan sesuai dengan kebutuhan masyarakat terdampak.
“Bantuan stimulan ini bukan sekadar pemberian sarana, melainkan upaya membangun kemandirian dan kapasitas masyarakat agar mampu memulihkan kehidupan sosial serta lingkungan secara berkelanjutan. Kami berharap masyarakat memiliki rasa memiliki terhadap program ini sehingga manfaatnya dapat terus dirasakan dalam jangka panjang,” ujar Luqmanul Hakim.
Bantuan Stimulan untuk Memulihkan Aktivitas Sosial Masyarakat
Pada sektor pendampingan sosial, bantuan stimulan diberikan kepada tiga kelompok penerima manfaat, yaitu Karang Taruna Kampung Haji, Posyandu Kenangan X, dan Dewan Kemakmuran Masjid (DKM) Masjid Jami Darul Hajj.
Bantuan yang disalurkan meliputi sarana dan prasarana pelayanan posyandu, alat antropometri dan kesehatan, perlengkapan penyuluhan dan pencatatan, kebutuhan masjid dan Taman Pendidikan Al-Qur'an (TPA), pojok baca untuk PAUD dan madrasah, serta sarana kegiatan kepemudaan dan olahraga.
Dukungan tersebut diharapkan dapat mengaktifkan kembali berbagai kegiatan sosial kemasyarakatan, meningkatkan pelayanan kesehatan dasar, mendukung pendidikan dan kegiatan keagamaan, serta memperkuat interaksi sosial dan semangat gotong royong masyarakat di lokasi relokasi.
Ketua Tim Pelaksana Pendampingan Sosial Nazarudin, M.A. menyampaikan bahwa bantuan stimulan diharapkan dapat mendorong masyarakat untuk bangkit setelah terdampak bencana. Ia mengajak seluruh kelompok penerima manfaat untuk memanfaatkan bantuan sesuai peruntukannya.
Tim Universitas Indonesia juga menyatakan kesiapan untuk menjadi mitra diskusi bagi masyarakat dan pemangku kepentingan guna mendukung keberlanjutan pendampingan sosial.
Pulihkan Lahan dan Tingkatkan Produktivitas Lingkungan
Selain pemulihan sosial, BNPB bersama Universitas Indonesia juga melaksanakan kegiatan pendampingan pemulihan dan peningkatan produktivitas sumber daya alam dan lingkungan hidup. Bantuan yang disalurkan mencakup 1.500 bibit tanaman untuk agroforestri, peralatan pertanian bagi 38 anggota kelompok masyarakat, tiga unit mesin pencacah sampah organik, serta 13 fasilitas pengolahan sampah menjadi pupuk dan instalasi biopori.
Ketua Tim Pelaksana Pemulihan dan Peningkatan Sumber Daya Alam dan Lingkungan Hidup Universitas Indonesia Prof. Dr. Tito Latif Indra, S.Si., M.Si. menjelaskan bahwa bantuan tersebut dirancang untuk menjawab kebutuhan masyarakat dalam memulihkan lahan terdampak bencana sekaligus memperkuat pengelolaan lingkungan.
Kegiatan pemulihan menyasar tiga kelompok masyarakat. Kelompok Tani Hurip di Kampung Gunung Batu mendapatkan dukungan untuk kegiatan agroforestri, sedangkan Kelompok Tani Lestari di Kampung Haji didukung melalui penanaman tanaman pagar (hedgerows). Sementara itu, Kelompok Masyarakat Wening di Kampung Haji memperoleh dukungan untuk pengolahan sampah dan limbah organik.
“Bantuan yang disalurkan hari ini diharapkan tidak hanya menjadi sarana pemulihan lahan dan peningkatan produktivitas pertanian, tetapi juga mendorong masyarakat mengelola sampah organik menjadi sesuatu yang bermanfaat. Dengan demikian, pemulihan lingkungan dapat berjalan seiring dengan penguatan kapasitas dan kesejahteraan masyarakat,” ujar Tito Latif Indra.
Melalui kegiatan agroforestri, bibit tanaman dan peralatan pertanian diharapkan menjadi modal awal bagi masyarakat untuk mengembangkan kembali lahan yang terdampak. Sementara itu, mesin pencacah sampah, fasilitas pengolahan sampah menjadi pupuk, dan instalasi biopori diharapkan mendukung pengelolaan sampah organik secara lebih produktif dan ramah lingkungan.
Kolaborasi untuk Pemulihan yang Berkelanjutan
Pelaksanaan program pendampingan sosial dan P4SDALH dilakukan melalui beberapa tahapan, mulai dari koordinasi dengan pemerintah daerah, kajian lokasi dan kebutuhan masyarakat, pembentukan kelompok, penyusunan intervensi kegiatan, hingga penyerahan bantuan stimulan. Tahapan selanjutnya meliputi bimbingan teknis untuk meningkatkan kapasitas kelompok masyarakat dalam mengelola dan memanfaatkan bantuan.
Kolaborasi BNPB, BPBD Kabupaten Sukabumi, pemerintah desa, Universitas Indonesia, dan kelompok masyarakat menjadi bagian penting dalam memastikan program berjalan sesuai kebutuhan di lapangan. Dukungan pemerintah daerah juga diperlukan untuk menjaga keberlanjutan kegiatan, termasuk melalui penguatan kelembagaan dan legalitas kelompok masyarakat penerima manfaat.
BNPB berharap pemerintah daerah dapat mengintegrasikan hasil pendampingan ke dalam program pembangunan sesuai kewenangan dan prioritas daerah. Sementara itu, kelompok penerima manfaat diharapkan menjaga, mengelola, dan mengembangkan bantuan secara bertanggung jawab agar manfaatnya dapat dirasakan dalam jangka panjang.
Melalui prinsip Build Back Better, Safer, and Sustainable, pemulihan pascabencana di Kabupaten Sukabumi diharapkan tidak hanya mengembalikan aktivitas masyarakat, tetapi juga memperkuat ketahanan sosial, meningkatkan produktivitas lingkungan, dan mengurangi kerentanan terhadap risiko bencana di masa mendatang.
Keberhasilan rehabilitasi dan rekonstruksi tidak hanya diukur dari bantuan yang disalurkan, tetapi terutama dari manfaat nyata yang dirasakan masyarakat serta keberlanjutan hasil kegiatan. Dengan sinergi seluruh pemangku kepentingan, upaya pemulihan di Kabupaten Sukabumi diharapkan menjadi langkah nyata menuju masyarakat yang lebih mandiri, tangguh, dan berkelanjutan.

