Doli Kurnia Gali Fakta Kasus Tewasnya Bocah Dugaan Perundungan di Pemalang

| Kamis, 08 Oktober 2026 | 02.02 WIB

Bagikan:

 

Bernasindonesia.com - Wakil Ketua Badan Legislasi (Baleg) DPR RI Ahmad Doli Kurnia Tandjung turun langsung menggali fakta kasus dugaan perundungan yang menimpa MHAQ (7), siswa SDN 1 Kebondalem, Kabupaten Pemalang, hingga meninggal dunia.

Politkus senior Partai Golkar itu langsung mendatangi SDN 1 Kebondalem, Rabu (7/10/2026). Ia mengecek ruang kelas korban, sejumlah lokasi yang disebut berkaitan dengan kejadian, hingga ruang guru. Ia juga meminta penjelasan dari kepala sekolah, Kepala Dindikpora Pemalang, dan Kepala Dinsos Pemalang terkait penanganan kasus tersebut.

Dari pengecekan dan pertemuan itu, Politikus senior Partai Golkar itu mengaku menemukan sejumlah informasi yang belum sinkron. Di antaranya terkait jumlah anak yang diduga terlibat, keberadaan rekaman CCTV, hingga lokasi kejadian.

“Memang ada informasi-informasi yang masih kurang sinkron. Misalnya jumlah orang atau pelaku yang diduga terlibat. Dari Pemda informasinya dua orang, sementara keluarga menyebut tiga orang,” katanya.

Menurut Doli, pihak sekolah menyampaikan terdapat dua anak yang sejauh ini telah mengakui keterlibatan dalam kasus tersebut.

“Ini yang harus kita telusuri. Jangan sampai ada informasi yang berbeda-beda,” ujarnya.

TPPK Disebut Baru Dibentuk Setelah Kasus

Doli juga menyoroti keberadaan Satuan Tugas (Satgas) Tim Pencegahan dan Penanganan Kekerasan (TPPK) di SDN 1 Kebondalem. Berdasarkan keterangan kepala sekolah yang diterimanya, TPPK di sekolah tersebut baru dibentuk setelah kasus terjadi.

“Kalau berdasarkan aturan, sekolah ini belum memiliki TPPK (Tim Pencegahan dan Penanganan Kekerasan). Padahal, itu merupakan amanat aturan. Tadi kepala sekolah mengakui, tim tersebut baru dibentuk setelah kejadian,” ujarnya.

Menurutnya, fakta tersebut harus menjadi bahan evaluasi serius dalam sistem pencegahan dan penanganan kekerasan terhadap anak di sekolah.

Persoalan lain yang dipertanyakan Doli adalah keberadaan rekaman CCTV. Ia mengaku mendapatkan keterangan berbeda antara pihak sekolah, kepolisian, dan keluarga korban.

“Pihak sekolah mengatakan CCTV-nya rusak. Tapi dari pihak Polres dan keluarga mengatakan ada rekamannya, hanya blur. Pertanyaannya, apakah rekaman yang disebut blur itu pernah disaksikan bersama-sama,” katanya.

Doli meminta persoalan tersebut segera diperjelas. Menurutnya, perbedaan informasi justru dapat menimbulkan spekulasi di tengah masyarakat.

Bukan hanya CCTV, lokasi kejadian juga disebut memiliki versi berbeda. Ada keterangan yang menyebut peristiwa terjadi di depan kamar mandi, sementara informasi lain menyebut lokasi kejadian berada di aula.

“Ini juga harus kita telusuri. Jangan sampai ada informasi yang berbeda-beda,” tegasnya.

Kasus Harus Dibuka Terang dan Adil

Doli meminta seluruh fakta kasus MHAQ disampaikan secara transparan. Ia mengaku telah menyampaikan hal tersebut kepada pihak kepolisian. Menurutnya, pengusutan kasus harus dilakukan secara seterang-terangnya, seadil-adilnya, dan sebaik-baiknya.

“Pertama, kasus ini harus diselesaikan seterang-terangnya, seterbuka-terbukanya. Jangan ada yang ditutupi. Apa yang diketahui sampaikan, yang tidak tahu bilang tidak tahu,” tegasnya.

“Saya kira orang tua korban tentu ingin kasus ini diselesaikan secara hukum dan mendapatkan keadilan,” sambungnya.

Meski demikian, Doli mengingatkan agar proses hukum terhadap anak-anak yang diduga terlibat tetap memperhatikan posisi mereka sebagai anak.

“Walaupun saat ini mereka diduga sebagai pelaku, anak-anak tersebut juga harus tetap dipikirkan. Bagaimanapun, masa depan mereka harus kita pikirkan,” katanya.

Hasil Autopsi Belum Diterima Keluarga

Doli juga mempertanyakan hasil autopsi MHAQ yang hingga Rabu (7/10/2026) disebut belum diterima keluarga korban. Ia mengaku akan mengecek langsung ke rumah sakit.

“Tadi malam saya tanya keluarga korban, apakah hasil autopsinya sudah ada atau belum. Katanya, prosesnya satu minggu dan jatuhnya hari ini. Setelah ini saya mau ke rumah sakit untuk mengecek,” ujarnya.

Doli menegaskan kematian MHAQ tidak boleh dianggap sebagai persoalan biasa. Menurutnya, kasus tersebut harus menjadi momentum memperkuat perlindungan terhadap anak.

“Jangan sampai ada normalisasi, seolah masalah ini biasa atau tidak serius. Ini masalah serius. Kita jadikan hikmah dan pelajaran serta momentum untuk saling terbuka,” tegasnya.

Ia juga mengingatkan pembangunan anak tidak cukup hanya melalui kecerdasan, kesehatan, dan pemenuhan gizi, tetapi harus dibarengi pendidikan karakter dan akhlak.

“Percuma otaknya cerdas, badannya sehat, gizinya bagus, tetapi mentalnya rusak. Kita ingin anak-anak Indonesia ke depan berilmu tinggi, sehat, gizinya baik, sekaligus berakhlak dan berkarakter,” pungkasnya. 
Bagikan:
KOMENTAR
TERKINI