BRIN Paparkan Tiga Inovasi LED kepada Mahasiswa Teknik Biomedis ITERA

| Kamis, 05 November 2026 | 06.30 WIB

Bagikan:

 

Bernasindonesia.com - Badan Riset dan Inovasi Nasional (BRIN) mengembangkan rekayasa teknologi Light Emitting Diode (LED) untuk mendukung inovasi di sektor pertanian dan kesehatan. Pemanfaatannya mencakup penggunaan sinar biru untuk menekan pertumbuhan jamur pada bibit kelapa sawit, iradiasi LED untuk mempercepat pertumbuhan dan meningkatkan hasil panen kedelai, serta pengembangan instrumen medis Smart Vein Finder berbasis kecerdasan artifisial (artificial intelligence/AI) untuk membantu mendeteksi pembuluh darah vena.

Ketiga inovasi yang dikembangkan Pusat Riset Elektronika BRIN tersebut dipaparkan dalam kunjungan akademis mahasiswa Teknik Biomedis Institut Teknologi Sumatera (ITERA) ke Kawasan Sains dan Teknologi (KST) Samaun Samadikun, Bandung, Kamis (29/10).

Salah satu pengembangan teknologi LED di bidang pertanian diarahkan untuk mengendalikan pertumbuhan jamur pada bibit kelapa sawit. Serangan jamur pada fase pembibitan dapat ditandai dengan munculnya bercak hitam pada daun. Jika tidak dikendalikan, kondisi tersebut dapat menghambat pertumbuhan hingga menyebabkan kematian bibit dan berpotensi menimbulkan kerugian bagi perkebunan.

Peneliti Pusat Riset Elektronika BRIN, Rini Khamimatul Ula, menjelaskan bahwa serangan jamur pada fase pembibitan menjadi salah satu permasalahan yang perlu ditangani untuk menjaga kualitas bibit kelapa sawit.

“Masalah di teman-teman yang ada di perkebunan kelapa sawit itu adalah ketika pembibitan masih kecil, biasanya ada bercak-bercak jamur di daun yang warna hitam. Bercak ini jika terus berkembang, maka bibit tersebut bisa mati. Itu merupakan kerugian bagi perkebunan kelapa sawit,” ujar Rini.

Untuk menguji kemampuan teknologi tersebut, penelitian dilakukan secara bertahap, mulai dari isolasi sampel jamur dalam cawan petri hingga pengaplikasian sinar biru secara langsung pada bibit kelapa sawit. Tahapan ini dilakukan untuk mengevaluasi efektivitas sinar biru dalam menekan pertumbuhan jamur.

Selain pada pembibitan kelapa sawit, pemanfaatan LED juga dikembangkan untuk tanaman pangan, khususnya kedelai. Melalui teknik iradiasi LED, teknologi ini diarahkan untuk mempercepat pertumbuhan tanaman dan meningkatkan hasil panen. Menurut Rini, rangkaian inovasi teknologi agrikultur berbasis LED tersebut telah memperoleh paten dengan status granted.

Di bidang kesehatan, teknologi LED diterapkan dalam pengembangan instrumen medis Smart Vein Finder. Perangkat berbasis AI ini dirancang untuk membantu tenaga medis mengidentifikasi posisi pembuluh darah vena secara real-time, terutama pada pasien yang mengalami kesulitan dalam pemasangan akses intravena.

Menurut Rini, perangkat tersebut memanfaatkan karakteristik interaksi cahaya LED dengan hemoglobin untuk membantu membedakan pembuluh darah vena dari jaringan kulit di sekitarnya.

“Inovasi ini kami beri nama Smart Vein Finder, dan sudah mengantongi paten dan hak cipta,” ungkapnya.

Selain memaparkan pengembangan teknologi tersebut, Rini juga menjelaskan peluang keterlibatan dalam kegiatan riset bagi mahasiswa serta kolaborasi bagi sektor industri dan pelaku usaha. Salah satunya melalui skema Riset dan Inovasi untuk Indonesia Maju (RIIM) Startup, yang membuka peluang bagi industri dan usaha mikro, kecil, dan menengah (UMKM) untuk mengembangkan riset bersama BRIN.

Mahasiswa aktif juga berpeluang terlibat langsung dalam kegiatan riset melalui program magang Merdeka Belajar Kampus Merdeka (MBKM) dan posisi Research Assistant (RA). Program tersebut dapat menjadi sarana bagi mahasiswa untuk memperoleh pengalaman dalam pengembangan alat kesehatan maupun teknologi pertanian.
Bagikan:
KOMENTAR
TERKINI