Kemuliaan Bulan Ramadan Menurut Alquran dan Assunah

| Selasa, 08 Mei 2018 | 04.24 WIB

Bagikan:

BernasIndonesia.com - Insya Allah, kita sudah tahu bahwa Bulan Ramadan menurut Alquran adalah bulan yang penuh kemuliaan dan keberkahan. Satu satunya bulan, dari 12 bulan, yang namanya disebut dalam Alquran hanya bulan ramadhan, sebagaimana firman Allah Ta’ala dalam Alqan surat Al Baqarah (2):185:

شَهْرُ رَمَضَانَ الَّذِي أُنْزِلَ فِيهِ الْقُرْآنُ هُدًى لِلنَّاسِ وَبَيِّنَاتٍ مِنَ الْهُدَى وَالْفُرْقَانِ فَمَنْ شَهِدَ مِنْكُمُ الشَّهْرَ فَلْيَصُمْهُ وَمَنْ كَانَ مَرِيضًا أَوْ عَلَى سَفَرٍ فَعِدَّةٌ مِنْ أَيَّامٍ أُخَرَ يُرِيدُ اللَّهُ بِكُمُ الْيُسْرَ وَلَا يُرِيدُ بِكُمُ الْعُسْرَ وَلِتُكْمِلُوا الْعِدَّةَ وَلِتُكَبِّرُوا اللَّهَ عَلَى مَا هَدَاكُمْ وَلَعَلَّكُمْ تَشْكُرُونَ [البقرة: 185].

“(Beberapa hari yang ditentukan itu ialah) bulan Ramadan, bulan yang di dalamnya diturunkan (permulaan) Al Quran sebagai petunjuk bagi manusia dan penjelasan-penjelasan mengenai petunjuk itu dan pembeda (antara yang hak dan yang bathil). karena itu, Barangsiapa di antara kamu hadir (di negeri tempat tinggalnya) di bulan itu, Maka hendaklah ia berpuasa pada bulan itu, dan barangsiapa sakit atau dalam perjalanan (lalu ia berbuka), Maka (wajiblah baginya berpuasa), sebanyak hari yang ditinggalkannya itu, pada hari-hari yang lain. Allah menghendaki kemudahan bagimu, dan tidak menghendaki kesukaran bagimu. dan hendaklah kamu mencukupkan bilangannya dan hendaklah kamu mengagungkan Allah atas petunjuk-Nya yang diberikan kepadamu, supaya kamu bersyukur” (QS. Al-Baqarah [2]: 185).

Mungkin kita akan bertanya-tanya mengapa hanya bulan Ramadan yang disebut dalam alquran? Jawabannya bisa kita lihat pada penjelasan alquran sendiri.

Berdasarkan Alquran, bulan Ramadan adalah bulan yang sangat mulia karena memiliki karakteristik berikut:

Pertama,  sebagai momentum diturunkannya alquran. Ini sesuai dengan firmannya:

الَّذِي أُنْزِلَ فِيهِ الْقُرْآنُ
Yang di dalamnya diturunkan (permulaan) Alquran (QS. Al-Baqarah [2]: 185).

Abu Kafilah dalam aqlnews.com menjelaskan, “Menurut As-Sa’di datam tafsirnya Taisîr Karîm al-Rahmân (2000: 86), bulan Ramadan adalah bulan agung yang mana umat manusia mendapatkan kemuliaan yang begitu agung yaitu alquran. Turunnya kitab suci yang agung ini, berbarengan dengan momen yang agung, Ramadhan. Kitab ini memiliki fungsi sebagai petunjuk manusia, keterangan, serta pembeda antara yang haq dan yang bathil”.

Kedua, bulan Ramadan adalah bulan yang diberkati.  Allah berfirman:

{إِنَّا أَنْزَلْنَاهُ فِي لَيْلَةٍ مُبَارَكَةٍ إِنَّا كُنَّا مُنْذِرِينَ} [الدخان: 3]

“Sesungguhnya Kami menurunkannya pada suatu malam yang diberkahi dan sesungguhnya Kami-lah yang memberi peringatan.” (QS. Ad-Dukhan [44]: 3).

Syekh Sya’rawi dalam tafsirnya Khawâtirî Haula al-Qur`ân al-Karîm (1991: XII: 499) menerangkan bahwa Alquran diturunkan pada malam yang diberkati. Maksudnya adalah turunnya Alquran pada momen malam yang disebut lailatul qadar. Menariknya, dalam ayat ini secara khusus disebut kata “lail” [malam] karena malam tempat ketenangan di mana tidak ada keributan dan kebisingan. Pada waktu malam, anggota tubuh manusia juga tenang, tidak sibuk dengan apapun.

Jadi, waktu malam adalah waktu yang tunduk kepada akal segala unsur perhatian dan pemahaman. Jiwa pun juga jernih.  Pastaslah jika malam adalah waktu yang pas untuk penurunan Alquran.

Ketiga, bulan Ramadhan adalah bulan pembeda. Yaitu pembeda antara yang hak dan yang batil. Dalam Alquran diistilahkan:

وَمَا أَنْزَلْنَا عَلَى عَبْدِنَا يَوْمَ الْفُرْقَانِ يَوْمَ الْتَقَى الْجَمْعَانِ

(QS. Al-Anfal [8]: 41) bahwa turunnya Alquran ialah pada yaumu al-Furqan [hari pembeda] yang bertepatan dengan peristiwa besar pertempuran antara yang hak dan yang batil di Badar. Sedangkan pertempuran itu bertepatan dengan tanggal 17 Ramadhan. Imam Ibnu Katsir (1420: IV/65) menerangkan bahwa Allah mengingatkan nikmatnya dan kebaikan-Nya kepada makhluk-Nya di mana Alquran diturunkan pada hari yang membedakan antara yang haq dengan yang bathil, karena itulah dinamakan Al-Furqân. Pada hari tersebut, Allah meninggikan kata “iman” atas kata “bathil” dan memenangkan agama serta menolong nabi dan golongannya.

Sementara itu kemuliaan bulan Ramadhan menurut Assunnah adalah:

Pertama, puasa dalam bulan ramadhan merupakan rukun Islam, sebagaimana sabda Rasulullah berikut ini:

(( بُنِيَ الإِسْلاَمُ عَلَى خَمْسٍ: شَهَادَةِ أَنْ لاَ إِلَهَ إِلاَّ الله وَأَنَّ مُحَمَّدًا رَسُوْلُ الله وَإِقَامِ الصَّلاَةِ وَإِيْتَاءِ الزَّكاَةِ وَصَوْمِ رَمَضَانَ وَحَجِّ البَيْتِ الحَرَامِ )) متفق عليه.

“Islam didirikan di atas lima sendi, yaitu: syahadat tiada sembahan yang haq selain Allah dan Muhammad adalah rasul Allah, mendirikan shalat, menunaikan zakat, puasa Ramadhan dan pergi haji ke Baitul haram.” (Hadits Muttafaq alaih).

Kedua, puasa itu milik Allah ta’ala sebagaimana firman Allah dalam hadits qudsi yang disampaikan oleh Nabi Salllallahu ‘alaih:

الصيام لي وانا اجزي به،للصاءم فرحتان،فرحة عند فطره وفرحة عند لقاؤ ربه
“Puasa itu untuk-Ku dan Aku langsung membalasnya. Orang yang berpuasa mendapatkan dua kesenangan, yaitu kesenangan ketika berbuka puasa dan kesenangan ketika berjumpa dengan Tuhannya. Sungguh, bau mulut orang berpuasa lebih harum daripada aroma kasturi.” (Hadits Muttafaq alaih).

Ketiga, puasa dalam bulan Ramadhan bisa menghapus dosa setahun sebelumnya, seperti sabda Rasulullah:

(( مَنْ صَامَ رَمَضَانَ إِيْمَانًا وَاحْتِسَابًا غُفِرَ لَهُ مَا تَقَدَّمَ مِنْ ذَنْبِهِ)) متفق عليه.

“Barangsiapa berpuasa Ramadhan karena iman dan mengharap pahala dari Allah, niscaya diampuni dosa-dosanya yang telah lalu.” (Hadits Muttafaq alaih).

Supaya puasa kita itu bisa memperoleh ampunan maka harus ada dua syarat berikut ini:
1. Mengimani dengan benar akan kewajiban ini.
2. Mengharap pahala hanya dari Allah ta’ala.

Keempat, pada bulan ini disunnahkan shalat tarawih, yakni shalat malam pada bulan Ramadhan, untuk mengikuti jejak Nabi, para sahabat dan Khulafa’ur rasyidin. Seperti sabda Nabi Muahammad:

(( مَنْ قَامَ رَمَضَانَ إِيْمَانًا وَاحْتِسَابًا غُفِرَ لَهُ مَا تَقَدَّمَ مِنْ ذَنْبِهِ )) متفق عليه.

“Barangsiapa mendirikan shalat malam di bulan Ramadhan karena iman dan mengharap pahala dari Allah, niscaya diampuni dosa-dosanya yang telah lalu.” (Hadits Muttafaq alaih).

Kelima, pada bulan ini ada Lailatul Qadar (malam mulia), yaitu malam yang lebih baik daripada seribu bulan, atau sama dengan 83 tahun 4 bulan. Malam di mana pintu-pintu langit dibukakan, doa dikabulkan, dan segala takdir yang terjadi pada tahun itu ditentukan. Sabda Rasulullah:

((مَنْ قَامَ لَيْلَةَ القَدْرِ إِيْمَانًا وَاحْتِسَابًا غُفِرَ لَهُ مَا تَقَدَّمَ مِنْ ذَنْبِهِ)) متفق عليه.

“Barangsiapa mendirikan shalat pada malam lailatul qadar karena iman dan mengharap pahala dari Allah, niscaya diampuni dosa-dosanya yang telah lalu.” (Hadits Muttafaq alaih).

Malam ini terdapat pada sepuluh malam terakhir, dan diharapkan pada malam-malam ganjil lebih kuat daripada malam-malam lainnya. Karena itu, seyogyanya seorang muslim yang senantiasa mengharap rahmat Allah dan takut dari siksa-Nya. Memanfaatkan kesempatan pada malam-malam itu dengan bersungguh-sungguh pada setiap malam dari kesepuluh malam tersebut dengan; shalat, membaca Alquran, dzikir, doa, istighfar dan taubat yang sebenar-benarnya. Semoga Allah menerima amal ibadah kita, mengampuni, merahmati dan mengabulkan doa kita.

Oleh: Sudono Syueb
Bagikan:
KOMENTAR
TERKINI