BernasIndonesia.com - Ketua panitia acara yang tergabung dalam Forum Untukmu Indonesia (FUI), Dave Santosa mengaku pasrah dan menyerahkan sepenuhnya kepada polisi terkait tewasnya dua bocah di kawasan Monas, Sabtu (28/4/2018) kemarin.
Dua bocah tersebut tewas setelah berdesak-desakan saat mengikuti bagi-bagi sembako di acara yang dimotori FUI.
"Mengenai hal itu, apakah terjadi di dalam atau di luar (Monas), saya menyerahkan sepenuhnya ke pihak kepolisian," kata Dave Santosa ketika dikofirmasi wartawan, Kamis (1/5/2018).
Menurut Dave, pihak kepolisian yang berhak bicara mengenai persoalan meninggalnya dua anak bernama Mahesa Junaedi dan Rizki itu.
Dia hanya bisa memastikan, menurut versi panitia, bahwa dua warga Pademangan Barat Jakarta Utara itu tewas bukan karena terinjak-injak.
"Untuk terinjak, panitia memastikan tidak," tutur Dave.
Menurut Dave, pada saat digelar acara, panitia juga sudah menyiapkan dokter di lokasi.
Sebelumnya, Wakil Gubernur DKI Jakarta Sandiaga Uno mengungkapkan dua anak yang meninggal dunia di acara bagi-bagi sembako di Monas akibat kehabisan oksigen setelah berdesak-desakan.
"Ada dua korban yang mesti kehilangan nyawanya, yaitu saudara kita Mahesha Junaedi (12) dan satu lagi adinda Rizki (10). Keduanya warga Pademangan. Adinda Rizki bersama Mahesha Janaedi harus kehilangan nyawa karena berdesak-desakan," kata Sandi di Balai Kota, Jalan Medan Merdeka Selatan, Jakarta Pusat, Senin (30/4/2018).
Sandi juga mengaku, sudah bertemu dengan pihak panitia penyelenggara yakni pihak FUI. Dia sedang berkoordinasi untuk meminta pertanggungjawaban.
"Kami sekarang sedang berkoordinasi dengan panitia untuk tindak lanjutnya dan bagaimana langkah tanggung jawab dari panitia atas kejadian yang telah terjadi. Sangat kita sayangkan," tegasnya.
Sandi juga akan berkoordinasi dengan pihak kepolisian mengusut kasus tersebut. "Tentunya kita akan berkoordinasi sama kepolisian," sebutnya.
Namun, Polda Metro Jaya memberikan keterangan berbeda mengenai persoalan ini.
Polisi menyatakan dua anak tersebut meninggal karena sakit di luar acara, bukan karena antrean bagi-bagi sembako.
"Bukan karena antrean," kata Kabid Humas Polda Metro Jaya Kombes Argo Yuwono dalam keterangannya, Selasa (1/5/2018).
Argo menjelaskan pertama kali petugas kepolisian mendapat laporan Mahesa yang pingsan di luar pagar Monas pada Sabtu (28/4) lalu. Selanjutnya, Mahesa langsung dibawa ambulans menuju RS Tarakan.
Setelah diperiksa dokter, Mahesa dinyatakan meninggal dunia. Argo menyatakan Mahesa diduga meninggal karena suhu badan tinggi dan dehidrasi.
"Untuk atas Mahesa Junaedi, menurut keterangan dokter, dinyatakan meninggal karena persistensi hiperpireksia (suhu badan di atas 40 derajat Celsius) dan heat stroke (dehidrasi)," terang Argo.
Terkait masalah ini, TeropongSenayan sebelumnya sudah mengkonfirmasi langsung kepada Ketua RW/11 Kelurahan Pademangan Barat, Jakarta Utara, Andi Pane.
Dia membenarkan bahwa kedua bocah berjenis kelamin laki-laki itu merupakan warganya.
"Iya betul, keduanya peserta yang dapat kupon sembako. Mereka warga sini, yang satu namanya Mahesa Junaedi usai 12 tahun warga RT/04 RW/11. Sedangkan yang satunya lagi, Rizki Saputra usia 10 tahun warga RT/12 RW/13 Kelurahan Pademangan Barat," kata Andi mengawali perbincangannya dengan TeropongSenayan, di Jakarta, Senin (30/4/2018).
Andi menjelaskan, bahwa kedua warganya itu diduga meninggal di dalam perjalanan saat dilarikan ke RSUD Tarakan, Gambir, Jakarta Pusat.
"Mereka meninggal dunia diduga akibat kehabisan oksigen karena terlalu lama terjebak dalam kerumunan massa di Monas kemarin. Sebab, korban di temukan oleh keluarga di RSUD Tarakan sudah dalam kondisi tidak bernyawa," ungkap dia.
Anehnya, jelas Andi, keterangan berbeda justru disampaikan salah satu perwakilan panitia acara, Simon yang menemui Junaedi dibRSUD Tarakan. Simon menyebut bahwa korban meninggal bukan di area Monas.
"Jadi, pengakuan panitia yang namanya Simon, Almarhum itu bukan meninggal karena terhimpit desak-desakan di depan panggung acara. Entah lah, mungkin dia itu hanya membela diri saja," ujarnya.
Andi yang rumahnya tak jauh dengan keluarga korban, mengaku sangat menyayangkan event mematikan ini menimpa warganya.
Sebab, sebelumnya dia sudah menyampaikan himbauan kepada para ketua RT di Pademangan Barat, agar mencegah warga untuk tidak datang ke Monas.
Tetapi, diakui Andi, dirinya pun tak bisa berbuat banyak lantaran di sisi lain panitia festival itu tidak memberikan kupon-kupon tersebut melalui ketua RT dan RW, melainkan menyebarkannya sendiri ke sembarang orang.
Sehingga, lanjutnya, kordinator lapangan yang memobilisasi massa tersebut kini malah terkesan lepas tangan.
Padahal, menurut Andi, insiden ini murni kesalahan panitia penyelenggara, sehingga mereka harusnya bertanggung jawab.
"Mereka tidak bisa seenak-nya lepas tanggung jawab ketika musibah itu terjadi," ucap Andi yang juga Sekjen Forum RT RW DKI Jakarta itu.
"Sayangnya lagi, kemarin panitia hanya memberikan uang kepada keluarga korban untuk pengganti medis dan Ambulans sebesar Rp350 ribu, itu pun tanpa ada pendampingan sampai ke rumah duka dan pemakaman," sesal Andi.
Diketahui, sebelumnya, Forum Untukmu Indonesia (FUI) menyelenggarakan acara bagi-bagi sembako di Monas pada Sabtu (28/4/2018) lalu.
Acara bagi-bagi sembako itu berakhir sekitar pukul 17.00 WIB. Pihak FUI menyatakan ada 400 ribu kupon sembako dan makanan gratis yang dibagikan. (Ts/Alf)

