Reshufle Anti Klimaks

| Jumat, 17 Juni 2022 | 07.48 WIB

Bagikan:

Bernasindonesia.com - Akhir teror reshuflle setahun terakhir ini sempet tertunda ke 3 kalinya baru terwujud di hari Rabu 15/6/2022. Kocok ulang ini malah jadi bernuansa Politis bukannya memperbaiki Kinerjaa.


Padahal komposisi Kabinet sedari awal hanya akomodir politik bukannya berbasis Teknokratik dan Profesional.

Jangan heran kinerja yang pas pasan bahkan intres politik yang kental.
Baru kali ini sepanjang kabinet era Reformasi ada Menteri menterinya berpolitik praktis diluar domain kerja secara vulgar.

(Koalisi di dalam koalisi/KIB)

Sekarang di tambah lagi dengan bertambahnya Parpol menjadikan komposisi jd 81% kursi di DPR. Menyisakan Partai Demokrat dan PKS

Ada 3 hal yang mengemuka dari Reshuflle ini.

Pertama, Jokowi menggalang dukungan untuk agenda politiknya kedepan.

Semakin menunjukan independensinya terhadap PDIP. Dengan bertahannya Luhut panjaitan.
Yang di stempel Brutus. Ini menjadikan Luhut lebih di utamakan ketimbang yang lain.

Kedua, Jokowi ingin pastikan kontestasi Pilpres dalam genggamannya. Dengan PT 20% maka tertutup peluang banyak calon. Skenario dua pasang akan terjadi lagi dengan calon jadi dan calon boneka.

Ketiga, Jokowi sudah menjelma menjadi king makers yang dengan modal politiknya sudah siap berhadapan dengan PDIP.

Dengan kekuatan politik ini tinggal nunggu waktu Jokowi umumkan Putra Mahkotanya dan tancap gas berkampanye meski di luar jadwal sekalipun.

Oleh: Andrianto

Ketua Gerakan Reformasi Politik Indonesia (Gerpol)


Bagikan:
KOMENTAR
TERKINI