Makna Investasi Bagi Orang Kafir

| Selasa, 16 Agustus 2022 | 08.44 WIB

Bagikan:

Bernasindonesia.com - Ciri utama dari orang kafir itu disebutkan dalam Al-Qur'an surah Al-An'am (6) ayat 29, dimana mereka berkata; "Hidup hanyalah kehidupan kita di dunia saja, dan kita sekali-kali tidak akan dibangkitkan". Lalu Allah menjawab persangkaan mereka itu dengan firman-Nya: "Kami tidak ciptakan langit, bumi, dan segala isinya dengan bermain-main" (QS. 21; ayat 16, dan surah 44: 38). Juga pada surah 23: 115, "Maka, apakah kamu mengira, sesungguhnya Kami ciptakan kamu secara bermain-main (saja), dan kamu tidak akan dikembalikan kepada kami"?.


Orang kafir juga disebutkan, sebagai "orang yang tidak mengharapkan pertemuan dengan Kami, dan orang-orang yang puas dengan kehidupan dunia serta merasa tenteram dengan kehidupan (dunia) itu, serta mereka melalaikan ayat-ayat Kami" (QS. 10: 7).

Sebaliknya melalui ayat yang sama, Allah menyampaikan bahwa orang yang beriman itu sebagai "orang yang mengharapkan pertemuan dengan Kami" (QS. 10: 7).

Sikap orang beriman dengan demikian memang akan senantiasa berlawanan dengan sikap orang kafir. Dimana orang beriman bukan saja mengakui akan adanya hari kebangkitan, serta mengharapkan pertemuan dengan Tuhannya, namun juga mereka mengagumi tanda-tanda (ayat-ayat) kebesaran Allah yang nampak di alam semesta. Allah SWT menyampaikan sikap orang beriman itu dalam firman-Nya:

"Mahasuci Allah yang menjadikan di langit gugusan bintang-bintang, matahari dan bulan yang bercahaya. Dia (pula) yang menjadikan malam dan siang silih berganti bagi orang yang ingin mengambil pelajaran atau orang yang ingin bersyukur". (QS. 25: 61-62).

Pada masa awal Kenabian Muhammad SAW menyampaikan risalah-Nya, ayat-ayat yang diturunkan Allah di tengah-tengah masyarakat Mekah, menyebabkan mereka pada masa itu mengalami pembelahan. Perpecahan terjadi bahkan pada keluarga besar Bani Hasyim, (rumpun keluarga Nabi), namun terjadi hampir pada semua keluarga. Orang yang memeluk atau mengikuti ajaran Nabi Muhammad SAW, serta-merta di musuhi di dalam keluarganya. Tidak jarang terjadi akibat konflik tersebut berujung hingga sampai ke penganiayaan bahkan perkelahian yang menyebabkan terbunuhnya satu anggota keluarga oleh anggota keluarga yang lain. Kisah perihal ini sangat lumrah ditemukan di kalangan para sahabat. Umar Ibnu Khattab sendiri, misalnya memenggal kepada bapaknya, Al-Khattab. Siti Khadijah (istri Nabi) bermusuhan dengan saudaranya Nawfal. Abu Lahab, paman Nabi membenci Abu Thalib saudaranya karena membela Nabi, dan banyak lagi kisah serupa lainnya. Bahkan dalam perkembangan selanjutnya, kita tahu bersama menjadi peperangan di antara kedua kubu.

Sesungguhnya orang-orang kafir itulah yang senantiasa menyebarkan permusuhan kepada orang yang beriman dan mengikuti ajaran yang dibawakan oleh Nabi Muhammad Saw. Dan seperti itulah yang terjadi sepanjang sejarah Islam, termasuk hari ini. 

Adalah kecintaan orang kafir terhadap hal-hal yang bersifat duniawi yang mendorong mereka berprilaku rakus, tamak dan menganggap anjuran bersikap Zuhud atas kehidupan dunia, sebagai ancaman atas keserakahan mereka dalam menguasai harta benda.

Mari kita lihat contoh yang paling aktual. Tat kala pemerintah Indonesia menggelorakan masuknya investasi asing di awal-awal pemerintahan Jokowi, maka pemerintah kemudian mengeluarkan kebijakan untuk memberantas segala bentuk paham keagamaan yang disebutnya sebagai "radikalisme", dengan dituduh sebagai akar dari "terorisme". Sejatinya, tuduhan ini hanyalah kedok atau alasan untuk memuluskan kebijakan investasi asing. Sebutlah misalnya investasi dari negara komunis Tiongkok. Pemerintahan Xi Jinping menganut paham komunis, atau secara akademis memiliki akar pada materialisme. Paham ini tidak memiliki pandangan atau menolak pandangan tentang adanya hari kebangkitan sesudah mati. Dan oleh sebab itu, pemerintah Komunis Tiongkok sangat refressif dengan paham keagamaan seperti ini. Bukan hanya Islam atau muslim Uighur yang jadi korban paham materialisme komunis, namun juga agama Kristen, dan Budha Suci atau Falun Dafa (falun gong). Jutaan dari mereka itu yang dibantai oleh rezim komunis Tiongkok. Dan tentu saja, sebagaimana di negerinya, Komunis Tiongkok ini mengharuskan negara tujuan investasi mereka agar memastikan bahwa investasi mereka aman dari ancaman (balas dendam) orang-orang beragama terhadap investasi mereka, dimana mereka akan membawa serta warga negara komunis mereka ke negara tujuan investasi.

Guna memuluskan investasi Tiongkok di Indonesia, banyak kebijakan diberikan pemerintah Indonesia. Antara lain adalah memastikan bahwa masyarakat Indonesia yang umumnya beragama (bukan komunis), dapat "diatasi" oleh pemerintah Indonesia. 

Dalam rangka itu, maka sejak Tito Karnavian menjabat Kapolri dibentuklah Satgassus di Polri, sebuah institusi non struktural, yang bertujuan memudahkan semua bentuk investasi. Tentu saja salah satu tugasnya adalah memastikan paham yang disebut "radikal dan teroris" oleh pemerintah Tiongkok dapat mereka atasi. Sebab itu pembubaran HTI dan FPI, dengan tuduhan teroris, radikalisme, penangkapan tokoh-tokoh mereka, dan juga tentu peristiwa KM-50, merupakan bagian dari memuluskan investasi komunis Tiongkok di Indonesia. Patut di duga, bahwa judi online, narkoba, penyelundupan, dan lain-lain jenis kejahatan, termasuk dalam pengertian "investasi" yang harus diamankan.

Dan untuk kebutuhan propaganda itu semua, para buzzer-buzzerRp di gaji oleh pemerintah dan di lindungi oleh polisi.

Tapi nampaknya pemerintah tidak memiliki akal yang cukup panjang. Dampak buruk dari materialisme, segera menyerang kepolisian. Polisi jadi rakus harta benda. Kesejahteraan materiil  polisi memang meningkat drastis, terutama para petinggi Satgassus itu. 

Banyak sekali kasus yang termasuk kategori kasus besar, yang tidak naik ke persidangan, dan cukup 'diselesaikan" dengan hengky-pangky dengan Satgassus. Membuka rekening satgassus (di bank manapun rekening itu, di dalam atau di luar negeri), tentu akan lebih memperjelas masalah ini.

Itu hanya salah satu contoh, dampak dari paham materialisme, dan penolakan atas adanya janji dan ancaman Allah tentang hari kebangkitan. 

Kita saksikan begitu massif penganut paham materialisme ini di tanah air. Bukan hanya di kepolisian, namun ada di mana-mana. Sebab itu, kita tidak perlu heran bahwa korupsi secara kualitas maupun kuantitas senantiasa bertambah, dan bertambah seiring dengan paham materialisme yang makin berjaya di negeri ini. 

Demikianlah orang-orang kafir itu melakukan investasi semata untuk kehidupan dunia saja.

Lalu, apakah orang yang berpaham materialisme itu harus di musnahkan? Karena kafir, tidak beriman. 

Firman Allah SWT berikut ini patut kita renungkan:

اِنَّكَ لَا تَهْدِيْ مَنْ اَحْبَبْتَ وَلٰكِنَّ اللّٰهَ يَهْدِيْ مَنْ يَّشَاۤءُۚ وَهُوَ اَعْلَمُ بِالْمُهْتَدِيْنَ

innaka lā tahdī man aḥbabta wa lākinnallāha yahdī may yasyā', wa huwa a‘lamu bil-muhtadīn

Sungguh, engkau (Muhammad) tidak dapat memberi petunjuk kepada orang yang engkau kasihi, tetapi Allah memberi petunjuk kepada orang yang Dia kehendaki, dan Dia lebih mengetahui orang-orang yang mau menerima petunjuk.

Q.S Al-Qashash [28] : 56

Jika Nabi Muhammad SAW saja tidak diberi kewenangan oleh Allah membuat seseorang jadi beriman, apalagi kita hamba-Nya yang (juga banyak kekurangan dan dosa), bukan seorang Nabi.

Sebab itu, yang dapat senantiasa kita lakukan hanyalah, beristighfar dan banyak berdoa, semoga paham materialisme (orang kafir) yang merajalela di negeri kita ini, diberi petunjuk oleh Allah agar beriman kepada-Nya dan kepada hari kemudian. Dan kita diberi keselamatan di dunia maupun di akhirat.

Ya, Allah...kasih sayang-Mu yang hamba-Mu senantiasa harapkan. Ampunan dan keselamatan dari-Mu yang senantiasa menjadi tumpuan pengharapan kami.

Tolonglah kami, jauhkan kami dari orang-orang kafir.

Oleh: Hasanuddin


Bagikan:
KOMENTAR
TERKINI