Mendengar Pidato Dan Membaca Rekam Jejak Gibran Rakabuming Raka

| Jumat, 27 Oktober 2023 | 10.41 WIB

Bagikan:

Bernasindonesia.com - “Pelajarilah rekam jejak seorang pemimpin di masa lalu. Hanya dengan cara itu, kita tahu apa yang mungkin dilakukan pemimpin itu di masa depan.”


Ini kutipan dari Winston Churchill. Dengan spirit ini pula,  sebelum saya mendengar pidato Gibran Rakabuming Raka, di hari ia  akan ke KPU untuk mendaftar pada pilpres 2024, mendampingi Prabowo, saya pelajari rekam jejak Gibran.

Maka saya temukan tiga rekam jejak.  Pertama,  ketika Gibran menjadi walikota Solo. Ini data dari BPS tahun 2022.

Bahwa di tahun 2020, ketika Gibran baru terpilih sebagai Walikota Solo, pertumbuhan ekonomi di sana minus 1,74%. Bukan hanya 0 pesen, tapi minus!

Lalu kemudian di tahun terakhir data BPS, tahun 2022, setelah dua tahun Gibran menjadi Walikota, pertumbuhan ekonomi Solo meningkat pesat di angka 6,25%.

Pertumbuhan ekonomi Solo di tahun 2022 itu salah satu pertumbuhan  ekonomi paling tinggi di Jawa. Dan ini sudah di atas rata-rata pertumbuhan ekonomi nasional, 5,3%. 

Melihat data itu, saya mulai komentar: Wow! Ini Wow saya yang pertama.

Lalu yang kedua adalah data KPU. Ketika Gibran menjadi peserta Pilkada Walikota Solo, di  tahun 2020, ia didukung oleh 86,5 persen suara. Tinggi sekali tingkat dukungannya. Gibran menang  telak.

Dukungan setinggi 86,5 persen! Wow! Ini wow kedua yang saya respon.

Ketiga, ketika usia Gibran lebih muda lagi. Sebelum Gibran terjung ke politik, ia menjadi pengusaha kecil  dan menengah (UKM).

Gibran mengalami menjadi  pedagang kaki lima. Ia jualan markobar, ini sejenis martabak. Gibran menggunakan gerobak di kaki lima. Usahanya buka hanya di malam hari.

Mulai dari satu titik usaha yang kecil itu, usaha Gibran lalu berkembang dan meluas ke 37 wilayah. Itu termasuk di berbagai kota besar. Gibran pun tumbuh menjadi pengusaha yang kokoh.

Sejak awal, Gibran ingin ikut menumbuhkan UKM. “Tapi,” menurut Gibran, “ini akan lebih mudah ia lalukan jika ia menjadi politisi.

Maka Gibran pun terjun ke dalam politik praktis. Wow! Ini wow saya yang ketiga. 

Saya lalu mendengar pidatonya sebelum Gibran ke KPU bersama Prabowo Subianto. Ujar Gibran, “Ini program unggulan. Kredit startup milenial. Ini untuk bisnis-para milenial yang berbasis Inovasi dan teknologi.”

Dalam pidato itu, Gibran menyampaikan enam program unggulan. Yaitu Dana Abadi Pesantren. Kredir startup milenial.

Juga program KIS (Kartu Indonesia Sehat) Lansia. Juga kartu anak sehat untuk persoalan stunting. Pula Hilirisasi  industri. Terakhir, program ekonomi hijau dan energi hijau.

Secara elektoral, jika program ini luas dikampanyekan, begitu besar efeknya kepada banyak kantong suara pemilih.

Program Kredit Start Up Milenial akah menyentuh populasi generasi milenial. Kini jumlah mereka 48,5%. Dana Abadi Santri disambut gembira oleh populasi Santri. Dari pemilih komunitas NU saja, jumlah populasinya 52 %.

KIS untuk  lansia disukai oleh populasi lansia sebanyak 16%. KIS anak untuk program stunting akan disukai  ibu rumah tangga wong ciliik. Jumlah mereka sekitar 30%. 

Dari rekam jejaknya, Gibran beberapa kali mencapai puncak gunung prestasi. Terbuka pula kemungkinan Gibran bisa menjalankan 6 program itu jika terpilih.

Namun tentu saja capaian penentu saat ini, seberapa besar Gibran bisa mengangkat dukungan kepada Prabowo-Gibran.

Di balik kritik kaum terpelajar yang keras, quick survei, tele survei LSI Denny JA setelah putusan MK di bulan Oktober ini, Prabowo- Gibran masih mengungguli Ganjar- Mahfud dan Anies- Muhaimin.

Mampukah Gibran ikut memperlebar margin kemenangannya? Maka 4 bulan dari sekarang, hingga Februari 2024, pemilih di seluruh Indonesia yang akan menjadi hakimnya.***

Oleh: Denny JA 
Bagikan:
KOMENTAR
TERKINI