Apakah Indonesia Bisa Diperbaiki?

| Senin, 21 Juli 2025 | 03.37 WIB

Bagikan:

Bernasindonesia.com - Saudaraku, pertanyaan itu terbit dari sudut-sudut gelap harapan:

Masih bisakah Indonesia diperbaiki?

Ia muncul bukan dari kebencian, tapi dari cinta yang terlalu sering dikhianati. Cinta yang lelah menyaksikan impian dijual murah di meja kekuasaan.

Negeri ini seperti rumah tua yang terus ditambal, namun selalu bocor saat hujan turun. Fondasinya retak oleh kerakusan, jendelanya buram oleh dusta, dan ruang-ruangnya dipenuhi reruntuhan kata yang tak pernah mewujud integritas tindakan.

Kita hidup di tengah keindahan yang digerogoti, dalam riwayat kebesaran yang kini bergema sebagai ironi. Hukum menjadi sandiwara, keadilan dijadikan lelucon, dan kata “rakyat” dijadikan mantra, tanpa pernah menjadi kompas nurani. Kita mendengar pidato demi pidato, janji demi janji—namun yang tumbuh bukan kepercayaan, melainkan keletihan kolektif.

Namun barangkali, pertanyaannya bukan: bisakah?
Melainkan: maukah?
Maukah kita berhenti meratap dan mulai merawat?
Maukah kita membersihkan kaca jendela agar cahaya bisa masuk kembali?
Maukah kita menambal bukan sekadar tembok, tapi nurani yang bolong?

Indonesia bukan luka yang tak bisa disembuhkan. Ia hanya terlalu lama dibalut dengan kepura-puraan. Dan bila terus dibiarkan, luka itu akan bernanah menjadi sikap apatis --kesunyian yang menyerah.

Tapi selama masih ada satu hati yang bersedia mencintai tanpa syarat, satu jiwa yang memilih jujur meski sunyi, satu tangan yang menolak korupsi meski hidup terlilit kesulitan—di sanalah perbaikan bermula.

Pelan. Sunyi. Tak gebyar. Tapi tak sia-sia.

Sebab negeri ini tak dibangun oleh mereka yang paling lantang, melainkan oleh mereka yang paling setia. Yang bekerja diam-diam, tapi tak pernah meninggalkan harapan.

Oleh: Yudi Latif

Bagikan:
KOMENTAR
TERKINI