Bernasindonesia.com - Peneliti sekaligus Ketua Tim Fungsi Verifikasi, Validasi, dan Valuasi Koleksi Ilmiah, Direktorat Pengelolaan Koleksi Ilmiah (DPKI) Badan Riset dan Inovasi Nasional (BRIN), Deden Sumirat Hidayat, menyampaikan terdapat kesenjangan antara potensi sumber daya keanekaragaman hayati nasional dengan ketersediaan data ilmiah yang ada.
“Meskipun kekayaan (sumber daya) sangat besar, saat ini baru sebagian kecil yang terdokumentasi secara koleksi ilmiah. Diperkirakan hanya 10 persen dari kekayaan hayati dan non-hayati yang telah terdokumentasi secara ilmiah,” ungkap Deden, secara daring, Senin (5/1).
“Kondisi ini sebenarnya menunjukkan adanya kesenjangan besar antara potensi sumber daya nasional dan ketersediaan data ilmiah yang dimanfaatkan secara optimal,” tambahnya.
BRIN, terang Deden, berperan strategis sebagai National Focal Point untuk Convention on Biological Diversity (CBD). Untuk menjalankan mandat tersebut, BRIN memiliki program “Akuisisi dan Pengelolaan Pengetahuan Data Keanekaragaman Hayati, Arkeologi, dan Geologi”.
Karena itu, salah satu komponen utama program tersebut adalah pengembangan Repositori Ilmiah Nasional (RIN) sebagai infrastruktur utama untuk menyimpan big data yang tervalidasi dan dapat diakses oleh komunitas ilmiah maupun pembuat kebijakan, guna mendukung ekonomi berbasis sains. Hal ini juga bertujuan mengonversi spesimen fisik menjadi data digital berakurasi tinggi untuk mengisi kekosongan informasi molekuler, biokimia, dan struktural pada koleksi ilmiah nasional.
Proses ini menggunakan berbagai teknologi mutakhir untuk mengungkap data mendalam dari kekayaan alam dan budaya Indonesia. Langkah ini dilakukan agar koleksi seperti tanaman, batuan, hingga naskah kuno tidak hanya tersimpan sebagai benda mati, tetapi bisa dibaca informasi ilmiahnya secara detail.
Lebih rinci, Deden menyampaikan mekanisme pengayaan data ini dilakukan melalui skema Open Call proposal yang terintegrasi dengan pendanaan dan fasilitasi Riset dan Inovasi untuk Indonesia Maju (RIIM).
Alur kerja dimulai dari pengusulan spesimen oleh periset sebagai depositor melalui sistem RIN, yang kemudian diikuti dengan proses verifikasi dan validasi kelayakan ilmiah oleh DPKI BRIN.
Spesimen yang lolos kurasi akan diproses di laboratorium menggunakan standar operasional prosedur (SOP) yang ketat. Data yang dihasilkan tidak hanya berfungsi sebagai catatan arsip, tetapi juga sebagai rujukan utama untuk riset lintas bidang seperti bioinformatika, konservasi, hingga inovasi industri berkelanjutan.
Program yang direncanakan berjalan selama tiga tahun ini juga dirancang sebagai platform penguatan kapasitas sumber daya manusia (SDM) Iptek nasional. Melalui skema ini, BRIN mendorong kolaborasi riset internasional yang kompetitif.
“Dengan tersedianya sistem dokumentasi yang mendalam dan terstandar, Indonesia diharapkan mampu meningkatkan posisi dalam diplomasi sains dan riset global, serta menjamin kedaulatan data atas kekayaan alam dan budayanya secara transparan dan akuntabel,” tandas Deden.

