Bernasindonesia..com - Saudaraku, hidup ini bagai taman yang disapu angin musim gugur. Langitnya kadang biru bening, kadang mendung kelabu. Daun-daun waktu berguguran perlahan, seakan bumi sedang berdoa. Sehat dan sakit—dua musim jiwa yang disela musim gugur: ruang peralihan tempat kita belajar melepaskan, menyadari betapa rapuh dan indahnya hidup.
Ketika sehat tiba, dunia terasa lapang. Kita terbang seperti burung di udara, menyulam mimpi di cabang-cabang harapan. Dalam sehat, tangan-tangan kita menjadi mata air: mengalirkan karya, menghidupkan kasih, menorehkan warna di kanvas sang waktu.
Namun, tatkala sakit tiba, ia datang seperti angin dingin dari utara, menggetarkan ranting, menggugurkan daun. Cahaya meredup, dunia mengecil menjadi detak sengal. Kita duduk di beranda jiwa, menatap gugur yang tak terelakkan, dan bertanya dalam hening: untuk apa semua riuh yang dulu kita kejar? Apa arti nama bila tubuh tak lagi mampu menegakkannya?
Sakit adalah musim gugur batin, saat kehidupan menanggalkan daunnya agar akar kembali meneguk makna. Ia guru sunyi yang sabar mengajari kepasrahan. Dalam sakit, kita belajar bahwa kekuatan sejati bukan pada berlari, tapi pada berhenti dan mengerti.
Dan bila sembuh tak kunjung tiba, mungkin itu bukan hukuman, melainkan undangan lembut menuju musim abadi, tempat jiwa beristirahat dari gemuruh dunia, seperti daun yang akhirnya tenang di pangkuan tanah.
Hidup ini laksana embun di ujung daun: jernih, ringkih, dan sebentar. Namun bila ia jatuh dengan tulus, ia menyuburkan bumi, menumbuhkan hutan yang kelak menjadi teduh bagi generasi mendatang.
Hidup ini memang sebentar, namun kehidupan—yang lahir dari kasih, kerja jujur, dan luka yang diterima dengan lapang—dapat berakar dalam tanah zaman. Janganlah demi nikmat sesaat kita menebang pohon-pohon makna, sebab yang dicatat langit bukan panjang umur, melainkan dalamnya jejak yang kita tinggalkan—seperti daun yang gugur tenang, namun menghidupi tanah kehidupan.
Oleh: Yudi Latif

