Bernasindonesia.com - Kepala Badan Riset dan Inovasi Nasional (BRIN) Prof. Arif Satria memaparkan arah baru kebijakan riset dan inovasi nasional dalam acara Temu Pimpinan Redaksi Media Nasional, Jumat (10/1/2026). Dalam forum tersebut, Arif menegaskan komitmen BRIN untuk memperkuat peran riset sebagai penggerak utama kedaulatan ekonomi, ketahanan nasional, dan pencapaian Indonesia Emas 2045.
Menurut Arif, BRIN saat ini tidak hanya berfokus pada pengembangan teknologi keras (hard technology), tetapi juga mendorong riset lintas disiplin, mulai dari sosial, ekonomi, psikologi, politik, lingkungan, hingga keantariksaan dan ketenaganukliran. Pendekatan ini diperlukan agar riset benar-benar menjawab persoalan nyata masyarakat dan berkontribusi langsung pada pembangunan nasional.
“Riset BRIN mencakup dari desa hingga luar angkasa. Fokusnya pangan, energi, air, lingkungan, kesehatan, industri strategis, sosial ekonomi masyarakat, hingga keantariksaan dan nuklir,” ujar Arif dalam paparannya.
Arif menjelaskan, arah baru BRIN dirancang dalam tiga jalur utama (track). Jalur pertama adalah pemanfaatan riset dan inovasi untuk meningkatkan produktivitas UMKM melalui teknologi tepat guna yang sederhana dan aplikatif. Jalur kedua berfokus pada penguatan industri dan UMKM strategis berbasis teknologi menengah hingga tinggi. Sementara jalur ketiga diarahkan pada co-development, termasuk reverse engineering, untuk memastikan alih teknologi dari investasi asing dapat dikuasai secara bertahap oleh Indonesia.
“Kita tidak ingin investasi asing masuk, tetapi teknologinya tidak pernah kita kuasai. Itu strategi yang tidak berkelanjutan,” tegasnya.
Rumah Inovasi Indonesia dan Ekosistem Daerah
Untuk menjembatani dunia riset dengan industri dan pasar, BRIN akan segera memperkuat Rumah Inovasi Indonesia sebagai pusat bertemunya inovator, industri, pendana, dan pemerintah. Melalui skema ini, BRIN menargetkan percepatan hilirisasi hasil riset melalui pengelolaan kekayaan intelektual, inkubasi teknologi dan bisnis, business matching, serta keterlibatan venture capital.
“Riset sudah banyak. Tantangannya sekarang siapa yang memproduksi dan bagaimana masuk ke pasar. Karena itu BRIN harus dekat dengan market,” kata Arif
Model Rumah Inovasi Indonesia juga akan direplikasi di daerah melalui penguatan BRIN Daerah (BRIDA) guna membangun ekosistem riset dan inovasi berbasis kebutuhan lokal, sekaligus mendukung perumusan kebijakan berbasis sains (science-based policy).
Fokus Pangan, Bencana, dan Teknologi Strategis
Dalam paparannya, Arif mengungkapkan sejumlah agenda riset prioritas 2026, antara lain penguatan ketahanan pangan, riset kebencanaan, dan teknologi strategis nasional. Di sektor pangan, BRIN menargetkan peningkatan produktivitas padi hingga 15 ton per hektare, pengurangan ketergantungan impor bawang putih dalam dua tahun, serta pengembangan varietas unggul hortikultura dan protein hewani.
BRIN juga mendorong riset pangan masa depan (future food), seperti daging analog, cultured meat, serta teknologi pengawetan pangan hemat energi yang memungkinkan penyimpanan beras lebih dari dua tahun tanpa menurunkan kualitas.
Di bidang kebencanaan, BRIN menyiapkan klaster riset khusus, termasuk teknologi pangan darurat dan alat penyedia air bersih portabel yang dapat digunakan di wilayah terdampak bencana. “Teknologinya sudah ada, sekarang bagaimana diproduksi massal dan dimanfaatkan secara luas,” ujarnya.
Menuju 2030 dan 2050: AI, Energi, dan Bioteknologi
Arif juga memaparkan proyeksi arah riset jangka menengah dan panjang. Menuju 2030, BRIN akan fokus pada isu scaling, integrasi teknologi, dan kepercayaan publik (trust), dengan prioritas pada kecerdasan buatan, energi dan baterai generasi baru, dekarbonisasi industri, serta teknologi hijau.
Sementara menuju 2050, riset akan diarahkan pada sistem sosio-teknis otonom, bioteknologi lanjut, synthetic biology, ekonomi antariksa, hingga penyimpanan data berbasis DNA. Namun demikian, Arif menekankan pentingnya dimensi sosial agar kemajuan teknologi tidak menimbulkan kesenjangan budaya (cultural lag).
“Teknologi harus maju, tetapi aspek sosial tidak boleh tertinggal. Tanpa itu, inovasi tidak akan berkelanjutan,” pungkasnya

