Membangun Jembatan

| Rabu, 28 Januari 2026 | 07.04 WIB

Bagikan:

Bernasindonesia.com - Saudaraku, dalam acara pengukuhan Rumah Moderasi Beragama yang dihadiri Menteri Agama dan tokoh-tokoh lintas iman (26/01), saya diminta membahas buku “Apa Jadinya Dunia Tanpa Indonesia?”. 


Saya ingatkan bahwa ketika dunia dilanda bencana, kecemasan, kesenjangan, dan konflik, nurani kemanusiaan mengajak kita menguatkan persaudaraan. Namun yang terjadi justru sebaliknya: alih-alih membangun jembatan, kita berlomba meninggikan dinding pembatas.

Para pemimpin politik gagal menjadi simpul persatuan dan justru mengobarkan pembelahan sosial. Kampanye Pancasila dan moderasi beragama yang seharusnya memperluas titik temu malah sering memperlebar jurang. 

Semua orang sadar bangsa ini menghadapi banyak masalah, tetapi cara mengatasinya justru menambah persoalan. Hal ini terjadi karena kita lebih gemar berbicara daripada mendengar. Berbicara pun tanpa keterbukaan pikiran: tanpa mengaktifkan akal dan intelek untuk membaca realitas, fakta, data, dan fenomena, serta mudah menghakimi.

Dengan mendengar seharusnya kita membuka hati dan mengaktifkan empati—menempatkan diri pada sudut pandang orang lain. Dengan empati, kita mampu menunda prasangka, melihat dunia melalui lensa pihak lain, hingga yang asing menjadi familiar, yang jauh menjadi dekat.

Prasangka berganti pengenalan. Rumah kewargaan pun menjadi ruang ramah dan terbuka bagi keberagaman, tempat saling mengenal, mengarifkan, dan menumbuhkan cinta—sebuah rumah sakinah, pangkalan kebahagiaan hidup bersama.

Namun, perluasan ruang perjumpaan ini harus diperkuat oleh inklusivitas yang nyata: kesetaraan akses pendidikan, kesehatan, kesejahteraan, kesetaraan politik, dan persamaan di depan hukum. Seruan moderasi tak boleh berhenti pada inklusi budaya, tetapi juga harus mencakup inklusi politik dan ekonomi.

Di tengah banjir persoalan dan bunker-bunker identitas, yang kita butuhkan bukan dinding pemisah yang makin tinggi, melainkan belarasa dan kerja bersama membangun jembatan.

Oleh: Yudi Latif

Bagikan:
KOMENTAR
TERKINI