Bernasindonesia.com - PADA 8 Mei 2026, dunia menahan nafas sejenak untuk merayakan seorang pria yang, melebihi siapapun dalam sejarah, mengajarkan umat manusia untuk memandang planetnya sendiri dengan mata baru.
Sir David Attenborough — tumbuh dewasa semasa Perang Dunia II, dan sampai sekarang masih membuat dokumenter alam liar — genap berusia 100 tahun. Warga Inggris dengan bangga menobatkannya sebagai pahlawan nasional.
Hari jadinya bukan sekadar tonggak pribadi, tapi juga momen budaya. BBC menggelar acara perayaan langsung di Royal Albert Hall London, menampilkan kisah-kisah alam liar dan refleksi dari tokoh-tokoh publik serta para pegiat lingkungan hidup.
Raja Charles III — dalam sebuah film pendek yang ajaib, diproduksi oleh Unit Sejarah Alam BBC — mengirimkan pesan selamat ulang tahun yang ditulis tangan, disampaikan oleh sekumpulan satwa liar Inggris: seekor elang, seekor rubah, tupai merah, dan seekor berang-berang yang menyusuri seluruh penjuru Kepulauan Britania.
Para ilmuwan menamai sebuah spesies tawon parasit dengan nama Attenborough sebagai penghormatan atas ulang tahunnya. Sebuah kebun kupu-kupu di Stratford-Upon-Avon melepaskan 100 ekor koleksi Blue Morpho untuk menghormatinya.
***
Attenborough, yang gemar mengumpulkan fosil sejak kecil, menempuh studi zoologi di Cambridge, dan wajib militer di Angkatan Laut. Perjalanannya menuju layar kaca tidak mudah. Pada 1950, ia melamar kerja sebagai produser siaran radio di BBC, dan langsung ditolak. CV-nya kemudian menarik perhatian direksi, yang menawarinya kursus pelatihan di layanan televisi BBC.
Bahkan setelah bergabung pun ia menghadapi hambatan awal yang kini terasa menggelikan: ia diberitahu bahwa giginya terlalu besar untuk tampil di televisi. Ia bertahan, dan setelah ia sukses sejumlah impersenator mengajari publik cara meniru suara dan nada bicaranya.
Ia menjelaskan hal-hal mengejutkan tentang hewan dan habitat mereka dengan penuh humor ringan, kehangatan, dan rasa ingin tahu yang terus meluap. Namanya melambung
melalui serial Zoo Quest yang mashur pada 1954.
Serial ini salah satu program televisi paling populer pada masanya. Untuk pertama kalinya muncul seorang pemandu acara yang menampilkan lokasi-lokasi terpencil di luar negeri dan satwa liar di habitat aslinya di layar televisi, dan dengan itu ia mengubah cara pandang pemirsa terhadap dunia.
***
Karirnya yang merentang sepanjang delapan dekade menghimpun begitu banyak prestasi dan penghargaan, sehingga upaya meringkasnya pasti berisiko melewatkan terlalu banyak hal. Namun sejumlah tonggak tertentu benar-benar tampil sebagai yang paling transformatif.
Pada 1954-63 ia berperan sebagai penulis, presenter, perekam suara, dan produser untuk serial Zoo Quest, dan mengunjungi Sierra Leone, Indonesia, Guyana, dan berbagai lokasi terpencil lainnya.
Pada 1957, ia mendirikan Unit Perjalanan dan Eksplorasi BBC, memproduksi film-film Quest serta serial unggulan BBC seperti Travellers’ Tales (1960) dan Adventure (1961) yang bertahan lama.
Ia kemudian meninggalkan kamera dan masuk ke dunia manajemen. Ia merombak jadwal siaran dan memperkenalkan beragam program, termasuk Man Alive, Call My Bluff, Monty Python’s Flying Circus, dan The Money Programme. Ia peka terhadap kebutuhan pemirsa. Berkat dirinya, misalnya, bola tenis berganti warna menjadi kuning, dan bukan lagi putih, karena pemirsa menganggapnya jauh lebih mudah dilihat di layar.
Ketika kembali jadi presenter, ia berkontribusi besar dalam pembuatan Life on Earth, serial 13 episode berdurasi satu jam yang tayang pada 1979, mengisahkan asal-usul dan evolusi kehidupan secara menyeluruh.
Dibuat selama tiga tahun, serial ini membuat ia bersama krunya menempuh perjalanan 2,1 juta kilometer ke 100 lokasi di 49 negara, mengabadikan 650 spesies. Serial ambisius yang ditonton oleh 500 juta orang ini adalah momen bersejarah dalam dunia televisi.
Pada dekade-dekade berikutnya ia berkolaborasi dalam lebih dari 100 serial bersama Unit Sejarah Alam BBC, termasuk Planet Earth, The Blue Planet, Frozen Planet, Africa, dan Dynasties. Karya-karya terakhirnya semakin terasa mendesak nadanya. Dari merayakan keajaiban, ia bergeser menjadi peringatan.
Karya-karyanya mengubah cara menyampaikan pengetahuan ilmiah, memadukan kemajuan teknologi siaran dengan kekuatan bercerita. Sebuah riset oleh Climate Outreach pada 2020 menemukan bahwa Attenborough dipercaya oleh masyarakat dari berbagai spektrum politik, dari “aktivis progresif” hingga “konservatif arus utama.” Kalangan akademis pun mengakui jasa-jasa besarnya dan sangat menghormatinya sebagai komunikator sains yang inspiratif.
***
Ciri khasnya sepanjang karir adalah mengkomunikasikan fenomena yang baru, mengejutkan, dan kompleks dengan cara menunjukkan, bukan menjelaskan — bukan ceramah, tapi mengedepankan rasa ingin tahu, keceriaan, dan daya tarik visual yang memukau.
Berbeda dari banyak presenter sebelumnya, ia memadukan rasa ingin tahu ilmiah dengan kehangatan dan keterbukaan, membantu penonton terhubung secara emosional dengan alam.
Siapapun yang cukup rajin memirsa program-programnya yang memikat dan tak pernah mengulang, mungkin akan bersikap seperti saya: tertulari rasa takjub, sering juga terharu pada keajaiban-keajaiban yang disajikannya, dan memunculkan rasa ingin tahu yang menuntut pemuasan. Ia seperti memasangkan kacamata baru bagi saya untuk melihat fenomena serupa dengan cara yang tidak lagi seperti sebelumnya.
Ketakjubannya pada isi bumi ini tak pudar seiring waktu — justru semakin dalam dan meningkat menjadi rasa tanggung jawab. Benih rasa ingin tahu yang tertanam di masa mudanya mekar menjadi komitmen yang menggelora terhadap lingkungan hidup dan konservasi.
Kecintaannya pada alam tidak pasif, tapi merupakan kekuatan aktif yang mendorongnya untuk menjadi advokat bagi perlindungan planet ini.
Ia adalah salah satu dari sedikit suara tentang perubahan iklim yang hampir semua orang bersedia mendengarkan. Kemampuan yang langka itu — kemampuan menyapa semua orang, melampaui semua batas — mungkin adalah ukuran terpenting dari berkah yang diberikannya kepada dunia.
***
Indonesia adalah negeri istimewa baginya. Pada 1956, ia memproduksi Zoo Quest for a Dragon, serial enam episode tentang satwa liar Indonesia yang menampilkan rekaman pertama yang pernah ada dari jenisnya. Misinya sangat berani: bepergian ke pulau terpencil Komodo dan mengabadikan naga-naga kelabu legendaris itu di alam liar.
Perjalanan ke Komodo dengan kapal nelayan kecil harus menghadapi badai dan arus pasang yang kuat. Mereka kemudian tahu: kapten kapal yang tidak becus itu ternyata bukan nelayan sungguhan, melainkan seorang penyelundup senjata. Dalam serial Zoo Quest ini ia mengisahkan perjalanan kapal yang penuh bahaya bersama kapten penyelundup senjata itu, serta teror gunung berapi yang meletus. Di tengah semua ketegangan ini ia tetap mempertahankan kehangatan dan humor yang kelak menjadi ciri khasnya.
Hasilnya sungguh bersejarah: tim berhasil mengabadikan rekaman warna pertama komodo di alam liar yang pernah ada.
Ia kembali ke Indonesia pada 1969, untuk membuat The Miracle of Bali, serial tiga bagian tentang sejarah budaya dan keindahan alam Pulau Bali. Ia menjadi narator dan produser.
Dari petualangan-petualangan Indonesia yang mendebarkan itu kemudian terbentuk pola dasar bagi semua karya berikutnya dan menjadi ciri yang dikenal oleh penonton televisi di seluruh dunia: seorang Inggris yang sendirian, penuh rasa ingin tahu, tanpa rasa takut, pergi ke ujung-ujung dunia untuk membawa pulang keajaibannya — bukan sebagai piala, tapi sebagai kisah mempesona untuk dibagikan kepada semua orang.
***
Sangat sedikit orang yang beruntung bisa hidup hingga satu abad. Lebih sedikit lagi yang mampu mencapai begitu banyak hal dan menyentuh begitu banyak kehidupan. Sir David Attenborough, yang dua kali dinobatkan sebagai ksatria Kerajaan Inggris, adalah salah satu dari manusia paling langka.
Karyanya benar-benar membuat dunia menjadi lebih baik, bukan melalui politik atau kekuasaan, tapi melalui tindakan sederhana namun radikal: menunjukkan kepada warga bumi apa yang indah dan apa yang sedang terancam.
Dalam pesan audio yang dirilis pada hari ulang tahunnya, ia mengaku “benar-benar terharu” oleh ucapan selamat ulang tahun yang datang dari kelompok-kelompok sekolah, panti jompo, dan semua orang dari berbagai profesi dan kebangsaan.
Mereka semua mengerti dan menghargai arti pria ini bagi dunia. Lebih dari sekadar membuat dokumenter, ia membuat kita peduli.
Mengingat Indonesia menempati posisi istimewa dalam kejayaan karirnya yang begitu panjang, belum terlambat bagi pemerintah Indonesia untuk mengundangnya ke Bali atau tempat-tempat lain yang pernah dikunjunginya, dan memperlakukannya sebagai tamu agung yang setara dengan kepala negara.
Gestur simpatik yang akan menunjukkan adab kita yang tinggi ini pasti memunculkan kehormatan dan inspirasi besar bagi rakyat Indonesia sendiri dan warga negara-negara lain.
Selamat merayakan status centenarian dengan gembira, Sir David. Planet ini bersyukur atas kehadiran Anda.***
Oleh: Hamid Basyaib

