Punya Potensi Ekonomi Tinggi, Riset Arbastra BRIN Buka Peluang Industri Kreatif Berbasis Warisan Budaya

| Kamis, 21 Mei 2026 | 04.12 WIB

Bagikan:

Bernasindonesia.com - Hasil riset arkeologi, bahasa, sastra, manuskrip, hingga tradisi lisan dinilai memiliki potensi besar untuk dikembangkan menjadi industri kreatif berbasis budaya yang edukatif dan berkelanjutan. Potensi tersebut mengemuka dalam sesi diskusi BRIN Goes to Industry 4 bertema Pasar Festival Riset Arkeologi, Bahasa, dan Sastra (Arbastra) untuk Ekonomi Kreatif di Gedung BJ Habibie, Jakarta, Rabu (19/5).


Diskusi yang dimoderatori oleh Kepala Pusat Riset Khazanah Keagamaan dan Peradaban Wuri Handoko dan Kepala Pusat Riset Manuskrip, Literatur, dan Tradisi Lisan Sastri Sunarti, dengan menghadirkan narasumber dari berbagai bidang kepakaran. Keempat narasumber itu yakni, Tesadesrada Ryza (Produser Film Indonesia sekaligus Ketua Bidang Fasilitasi Pembiayaan Badan Perfilman Indonesia), KRT Daniel Haryono Negoro (Direktur Museum Ullen Sentalu Yogyakarta), Samuel JD Wattimena (Desainer dan Pengamat Budaya, Anggota DPR RI), hingga Fajar Prasetya (Sekjen Dewan Jamu Indonesia).

Sekretaris Jenderal Dewan Jamu Indonesia, Fajar Prasetya menilai Indonesia memiliki peluang besar menjadi pemain utama industri wellness dan gastronomi berbasis budaya karena kekayaan biodiversitas dan budaya yang dimiliki. Ia menyebut nilai pasar global kuliner, wellness, dan herbal industry pada 2023 mencapai angka sangat besar sekitar 120ribu trilun, namun Indonesia dinilai belum memanfaatkan potensi tersebut secara optimal.

Menurut Fajar, kolaborasi BRIN dengan Dewan Jamu Indonesia penting untuk memperkuat riset terkait gastronomi, kesehatan preventif, serta narasi budaya yang dapat diterjemahkan menjadi produk ekonomi kreatif bernilai tinggi. “Kita punya modal mega diversity dan mega culture. Kita punya sumber daya alam dan budaya yang luar biasa, tinggal diperkuat dari sisi riset dan storytelling berbasis eviden,” ujarnya.

Wuri Handoko menjelaskan bahwa hasil riset Arbastra dapat menjadi fondasi pengembangan destinasi wisata budaya berbasis pengetahuan. Menurutnya, sebuah destinasi tidak hanya dipandang sebagai ruang fisik, tetapi juga ruang pengetahuan yang menyimpan jejak sejarah, lanskap budaya, tradisi hidup, ruang sakral, serta praktik masyarakat yang membentuk makna suatu tempat.

“Melalui riset dan inovasi, potensi tersebut dapat dibaca, didokumentasikan, dan dikembangkan menjadi pengalaman pariwisata berbasis budaya yang edukatif, relevan, dan berkelanjutan,” ujar Wuri.

Berbagai hasil riset BRIN membuka peluang ekonomi kreatif dan pariwisata budaya. Pada warisan maritim, eksplorasi kapal karam di Lagoi, Tanjung Pinang, dinilai memiliki potensi wisata bahari berbasis sejarah sekaligus pintu masuk memahami jalur perdagangan dan peradaban maritim Nusantara.

Sementara di pesisir barat Sumatra, Situs Bongal memperlihatkan bagaimana kawasan pesisir dapat dipahami sebagai simpul perdagangan, keagamaan, dan pertukaran budaya. Di Kutai, keberadaan Batu Altar Jingtiu, makam Raja Datu Mahkota, dan makam Habib Tunggang Parangan menunjukkan pentingnya pengembangan wisata religi dan sejarah dengan tetap menghormati konteks lokal.

Selain situs sejarah, Wuri juga menyoroti tradisi hidup masyarakat sebagai sumber pengembangan ekonomi kreatif. Tradisi cium hidung di Sumba, Dabus di Tidore, Magirik Bisu dan Matutu dalam budaya Bugis, Maudulompoa di Takalar, Sirih Pinang di Papua, Matamubuah di Sulawesi Barat, Miraje Bugis, Maulid Ambelu Ngara Pandang di Selayar, hingga pengolahan tradisional minyak kayu putih di Pulau Buru disebut memiliki potensi menjadi pengalaman wisata budaya yang autentik.

“Pengalaman wisata dapat lahir dari praktik budaya yang masih dijalankan masyarakat,” jelasnya.

Pada ragam etnik Dayak di Kalimantan Timur, berbagai benda budaya seperti gendongan bayi, kalender tradisional, tombak sumpit, kotak obat tradisional, hingga ragam hias rumah lamin panjang Dayak juga dinilai dapat menjadi media interpretasi wisata berbasis budaya.

Menurut Wuri, riset berperan penting dalam menyusun narasi wisata yang utuh, bukan hanya menampilkan apa yang dilihat wisatawan, tetapi juga menjelaskan asal-usul, fungsi, nilai, perubahan, dan relevansinya bagi masyarakat masa kini.

“Dengan pendekatan ini, pariwisata tidak hanya menjadi aktivitas berkunjung, tetapi menjadi cara untuk merawat warisan, memperkuat identitas, dan membuka peluang ekonomi,” katanya.

Sementara itu, desainer dan pengamat budaya Samuel JD Wattimena menyoroti pentingnya menjaga identitas budaya, khususnya dalam wastra batik Indonesia. Ia mengungkapkan keresahannya terhadap semakin kaburnya identitas motif batik daerah akibat perkembangan teknologi dan tuntutan pasar.

“Pembatik Solo sekarang bisa membuat motif Pekalongan, pembatik Pekalongan bisa membuat motif Jogja. Kebudayaan memang berkembang, tetapi identitas daerah jangan hilang,” katanya.

Samuel berharap BRIN dapat membantu mendokumentasikan identitas setiap motif batik Nusantara sebagai bentuk pertahanan budaya nasional sekaligus referensi bagi industri kreatif batik.

Menanggapi hal tersebut, Kepala Pusat Riset Manuskrip, Literatur, dan Tradisi Lisan BRIN, Sastri Sunarti menjelaskan bahwa riset BRIN telah memetakan perkembangan batik berdasarkan periodisasi sejarah, pengaruh budaya asing, hingga indikator geografis. Ia mencontohkan batik Tanah Liek dari Sumatera Barat yang memiliki karakter khas berupa motif tumbuhan laut dengan pewarna alami dari kulit jengkol serta simbol rumah gadang sebagai penanda identitas Minangkabau.

“Riset-riset seperti ini penting untuk memperkuat pengetahuan tentang identitas budaya dan menjadi dasar pengembangan industri kreatif berbasis tradisi,” jelas Sastri.

Produser film sekaligus Ketua Bidang Fasilitasi Pembiayaan Badan Perfilman Indonesia, Tesadesrada Ryza, menambahkan bahwa hasil riset budaya juga perlu diterjemahkan melalui strategi komunikasi dan audiovisual yang tepat agar dapat menjangkau audiens secara efektif. Menurutnya, perkembangan platform digital membuat pola konsumsi masyarakat berubah dari pasif menjadi interaktif, sehingga produk budaya Indonesia harus disampaikan melalui kanal yang sesuai dengan target audiens.

“Kita harus tahu produk budaya ini ingin disampaikan kepada siapa dan lewat channel yang bagaimana, sehingga riset yang sudah mendalam tidak berhenti hanya pada produksi, tetapi benar-benar sampai kepada masyarakat,” ujarnya.

Ia menilai riset pasar dan perilaku audiens juga penting agar produk budaya, wastra, tradisi, maupun kekayaan budaya Nusantara dapat berkembang menjadi konten kreatif yang memiliki dampak sosial, budaya, dan ekonomi secara berkelanjutan.


Bagikan:
KOMENTAR
TERKINI