Bernasindonesia.com - Perubahan iklim menjadi tantangan nyata bagi sektor pertanian Indonesia. Suhu yang semakin tinggi, ketersediaan air yang menurun, serta meningkatnya serangan hama dan penyakit mengancam produktivitas berbagai komoditas hortikultura. Menjawab tantangan tersebut, Badan Riset dan Inovasi Nasional (BRIN) terus memperkuat riset pemuliaan tanaman berbasis sains sekaligus memperluas kolaborasi dengan industri perbenihan agar inovasi dapat diterapkan secara nyata di lapangan.
Komitmen tersebut ditegaskan dalam webinar HortiActive #27 bertajuk Pemuliaan Tanaman Sayuran Buah Berbasis Bukti Ilmiah dan Kebutuhan Industri Perbenihan yang diselenggarakan Pusat Riset Hortikultura, Organisasi Riset Pertanian dan Pangan (ORPP) BRIN, pada Senin (22/6).
Kepala Organisasi Riset Pertanian dan Pangan BRIN, Puji Lestari, menekankan bahwa riset harus mampu menghasilkan solusi yang tidak berhenti pada publikasi ilmiah, tetapi juga menjawab kebutuhan industri serta memberikan manfaat nyata bagi masyarakat.
"Tema ini menunjukkan bagaimana kita membangun sinergi antara penguatan sains, pengembangan iptek, dan dukungan industri. Riset tidak berhenti pada pengembangan pengetahuan, tetapi harus mampu menjawab kebutuhan sektor perbenihan dan mendukung peningkatan produksi hortikultura yang berkelanjutan," ujarnya.
Menurut Puji, sektor pertanian kini menghadapi tantangan yang semakin kompleks, mulai dari penyusutan lahan produktif, degradasi tanah, keterbatasan sumber daya air, hingga perubahan iklim yang memicu cekaman abiotik maupun biotik pada tanaman. Kondisi tersebut berpotensi menurunkan produktivitas sekaligus meningkatkan risiko gagal panen apabila tidak diantisipasi melalui inovasi berbasis riset.
Ia menambahkan, pengembangan varietas tanaman yang toleran terhadap suhu tinggi dan tahan terhadap serangan hama menjadi kebutuhan mendesak untuk menjaga keberlanjutan produksi pangan nasional.
"Melalui inovasi pemuliaan tanaman, kita berharap dapat menghasilkan benih unggul yang adaptif terhadap perubahan lingkungan, memperkuat ketahanan pangan, sekaligus meningkatkan kesejahteraan petani," katanya.
Senada dengan itu, Kepala Pusat Riset Hortikultura ORPP BRIN, Dwinita Wikan Utami, menilai bahwa pemuliaan tanaman tidak lagi cukup dilakukan dengan pendekatan konvensional. Menurutnya, perkembangan teknologi memungkinkan proses pemuliaan menjadi lebih cepat, akurat, dan berbasis data ilmiah.
Ia menjelaskan bahwa pemuliaan tanaman masa depan harus bertumpu pada dua pilar utama, yaitu riset berbasis bukti ilmiah dan keselarasan dengan kebutuhan industri serta pasar. Dengan demikian, varietas yang dihasilkan tidak hanya memiliki ketahanan terhadap cekaman lingkungan, tetapi juga memiliki daya saing tinggi dan sesuai dengan kebutuhan petani maupun industri benih.
Tomat Partenokarpik Lebih Tahan Suhu Tinggi
Pada sesi ilmiah, Peneliti Ahli Muda Pusat Riset Hortikultura ORPP BRIN, Ika Cartika, memaparkan hasil penelitiannya mengenai mekanisme adaptasi anatomi tomat partenokarpik terhadap suhu tinggi.
Ia menjelaskan bahwa peningkatan suhu akibat perubahan iklim berdampak besar terhadap produksi tomat karena mengganggu pembentukan bunga dan buah. Untuk mengatasinya, tim peneliti mengembangkan tomat partenokarpik yang mampu menghasilkan buah tanpa proses fertilisasi.
Penelitian menunjukkan bahwa dua galur tomat partenokarpik, iaa9-3 dan iaa9-5, memiliki kemampuan adaptasi yang lebih baik dibandingkan tomat biasa. Keduanya menunjukkan perubahan anatomi pada stomata, trikoma, dan jaringan daun yang membantu tanaman mengurangi kehilangan air, mempertahankan fotosintesis, serta meningkatkan toleransi terhadap suhu tinggi.
Temuan tersebut melengkapi hasil penelitian sebelumnya yang menunjukkan kedua galur tersebut juga memiliki sistem perakaran lebih baik, aktivitas enzim antioksidan lebih tinggi, serta mampu mempertahankan produksi buah pada kondisi panas ekstrem.
Selain tomat, BRIN juga mengembangkan inovasi pemuliaan cabai tahan kutudaun (Aphis gossypii), salah satu hama utama yang menjadi penyebab penurunan produktivitas sekaligus penyebar berbagai virus tanaman.
Peneliti Ahli Muda Pusat Riset Hortikultura ORPP BRIN, Ady Daryanto, menjelaskan bahwa cabai merupakan komoditas strategis nasional yang berpengaruh terhadap stabilitas harga dan inflasi pangan. Karena itu, peningkatan ketahanan tanaman menjadi langkah penting dalam menjaga produktivitas.
"Hasil pengujian menunjukkan bahwa genotipe C20 dan C367 secara konsisten mampu menekan perkembangan populasi kutudaun sehingga berpotensi menjadi donor ketahanan dalam program pemuliaan cabai," jelas Ady.
Penelitian juga menghasilkan metode skrining clip cage yang dinilai paling praktis dan andal dalam mengevaluasi ketahanan tanaman. Analisis genetik menunjukkan bahwa sifat ketahanan terhadap kutudaun dikendalikan oleh kombinasi beberapa gen dengan nilai heritabilitas yang tinggi sehingga sangat potensial dimanfaatkan dalam program pemuliaan.
Perspektif industri turut melengkapi diskusi melalui paparan Nugraheni Vita Rachma dari PT Ewindo mengenai inovasi pemuliaan tomat untuk pengembangan varietas unggul.
Menurut Vita, inovasi akan berkembang lebih cepat apabila terdapat kolaborasi yang erat antara pengembangan ilmu pengetahuan dengan penerapan di lapangan. Sinergi tersebut akan menghasilkan varietas unggul yang mampu memenuhi kebutuhan petani, industri benih, sekaligus pasar.
Melalui HortiActive #27, BRIN berharap pertukaran pengetahuan antara peneliti, akademisi, dan industri semakin kuat sehingga mampu mempercepat lahirnya inovasi pemuliaan tanaman yang mendukung sistem pertanian Indonesia yang lebih tangguh, adaptif terhadap perubahan iklim, dan berdaya saing tinggi.
Dengan pendekatan yang mengintegrasikan sains, teknologi, dan kebutuhan industri, BRIN optimistis inovasi pemuliaan tanaman akan menjadi fondasi penting dalam menjaga ketahanan pangan nasional sekaligus meningkatkan daya saing sektor hortikultura Indonesia di masa depan.

