Bernasindonesia.com - Menanggapi rencana Badan Riset dan Inovasi Nasional (BRIN) untuk memperkuat pengembangan sport science, Anggota Komisi X DPR RI, Ledia Hanifa Amaliah, mengingatkan agar riset olahraga tidak hanya berfokus pada peningkatan peak performance atlet, tetapi juga harus bisa menjawab kebutuhan nyata para atlet termasuk para atlet penyandang disabilitas.
Menurut Ledia, salah satu tantangan terbesar yang masih dihadapi atlet disabilitas Indonesia adalah kualitas alat bantu yang belum mampu mendukung performa secara optimal ketika bertanding di level internasional.
“Kalau kita bicara sport science, jangan hanya fokus pada bagaimana meningkatkan performa atlet tapi juga bagaimana ada pengembangan alat bantu olahraga yang lebih berkualitas. Bagi penyandang disabilitas kita harus memastikan alat bantu yang mereka gunakan benar-benar mendukung mereka untuk berprestasi. Maka di sinilah peran riset menjadi sangat penting,” ujar Ledia kepada Sekretaris Utama (Sestama) Badan Riset dan Inovasi Nasional (BRIN) Nur Tri Aries Suestiningtyas, usai Komisi X DPR RI melaksanakan rapat dengan BRIN pada 16 Juli lalu.
Sekretaris Fraksi PKS ini kemudian mencontohkan pengalamannya saat mencermati penyelenggaraan Asian Para Games. Saat itu ia melihat perbedaan yang cukup mencolok antara alat bantu yang digunakan atlet Indonesia dengan atlet dari sejumlah negara lain.
Pada cabang para-bulu tangkis, misalnya, atlet dari negara lain telah menggunakan prostetik berbahan ringan seperti titanium yang membuat pergerakan atlet lebih lincah dan nyaman. Sementara sebagian atlet Indonesia masih menggunakan prostetik yang relatif lebih berat dan kaku sehingga berpotensi memengaruhi performa saat bertanding.
Kondisi serupa juga terlihat pada cabang tenis meja kursi roda. Kursi roda olahraga yang digunakan atlet Indonesia masih memiliki bobot yang cukup berat sehingga menyulitkan manuver ketika bertanding.
“Padahal alat bantu seperti prostetik maupun kursi roda bukan sekadar perlengkapan. Itu adalah bagian dari performa atlet. Semakin ringan, semakin ergonomis, dan semakin sesuai dengan kebutuhan atlet, maka peluang mereka untuk menampilkan kemampuan terbaik juga akan semakin besar,” jelasnya.
Ledia juga menyoroti alat bantu yang digunakan atlet sepak bola amputasi. Ia membandingkan tongkat penyangga atlet Indonesia dengan atlet Jepang yang telah didesain secara khusus (customized) sesuai karakteristik masing-masing atlet sehingga lebih ringan, nyaman, dan mendukung mobilitas selama pertandingan.
Menurutnya, kondisi tersebut menunjukkan bahwa pengembangan sport science harus mencakup riset mengenai material, desain, ergonomi, hingga standardisasi alat bantu olahraga bagi atlet disabilitas.
“Riset tidak cukup berhenti pada latihan, fisiologi, atau biomekanika atlet. Kita juga perlu mendorong inovasi alat bantu olahraga yang sesuai dengan karakter atlet Indonesia sehingga mereka bisa bersaing dengan atlet dunia menggunakan teknologi yang setara,” tegasnya.
Ledia berharap di waktu mendatang fokus BRIN terhadap pengembangan sport science dapat diselaraskan dengan kebutuhan para atlet disabilitas. Ia menilai kesinambungan antara riset, inovasi teknologi, dan kebutuhan atlet akan menghasilkan ekosistem olahraga yang lebih kuat.
“Olahraga modern bukan lagi hanya soal latihan dan pertandingan. Prestasi atlet saat ini ditentukan oleh dukungan ilmu pengetahuan, teknologi, rekayasa material, hingga inovasi industri olahraga. Karena itu, hasil riset di bidang sport science semestinya tidak hanya meningkatkan prestasi atlet Indonesia, tetapi juga mampu melahirkan produk-produk alat olahraga dalam negeri yang berkualitas, memiliki nilai ekonomi, dan dapat dimanfaatkan secara luas oleh atlet disabilitas Indonesia,” tutupnya.

