Eddy Soeparno: Disrupsi Energi Global Belum Usai, Indonesia Harus Perkuat Ketahanan Energi

| Kamis, 16 Juli 2026 | 05.44 WIB

Bagikan:

 

Bernasindonesia.com - Wakil Ketua MPR RI dari Fraksi PAN Eddy Soeparno menyoroti kembali meningkatnya ketegangan antara Amerika Serikat dan Iran di kawasan Selat Hormuz sebagai peringatan bahwa disrupsi energi global masih menjadi ancaman nyata bagi perekonomian dunia.

Menurut Eddy, perkembangan geopolitik tersebut menunjukkan stabilitas pasokan energi global masih sangat rentan sehingga Indonesia perlu memperkuat ketahanan energi nasional.

"Perkembangan terbaru di Selat Hormuz menunjukkan bahwa stabilitas pasokan energi global masih sangat rentan. Kita tidak boleh lengah bahwa krisis telah usai. Disrupsi energi global masih berlangsung dan berpotensi kembali memburuk sewaktu-waktu," tegas Eddy.

Eddy menekankan Indonesia tidak boleh terlena oleh adanya gencatan senjata atau jeda konflik sementara karena situasi geopolitik dapat berubah dalam waktu singkat.

"Fakta bahwa konflik dapat kembali memanas dalam waktu singkat menjadi bukti bahwa situasi geopolitik global sangat dinamis. Kita tidak boleh lengah hanya karena ada fase de-eskalasi. Realitasnya, risiko konflik tetap tinggi dan berdampak pada ekonomi global dan pada akhirnya berpotensi menjadi tekanan untuk APBN kita," lanjutnya.

Menurut Anggota Komisi XII DPR RI tersebut, pemerintah perlu memperkuat ketahanan energi nasional secara menyeluruh, tidak hanya dari sisi ketersediaan pasokan, tetapi juga melalui pengelolaan risiko akibat gejolak global.

"Indonesia harus mempercepat langkah menuju kemandirian energi. Kita memiliki potensi besar dari sumber daya dalam negeri yang harus dioptimalkan, seperti panas bumi, gas alam, dan bioenergi," jelasnya.

Eddy menegaskan bahwa ketahanan energi dan transisi energi harus berjalan beriringan agar Indonesia memiliki sistem energi yang tangguh sekaligus berkelanjutan.

"Dalam banyak kesempatan saya tegaskan bahwa ketahanan energi hari ini sama urgensinya dengan ketahanan nasional. Krisis berkepanjangan di Selat Hormuz menegaskan bahwa upaya mempercepat kemandirian energi dari sumber-sumber dalam negeri tak bisa ditunda lagi," tegas Doktor Ilmu Politik Universitas Indonesia tersebut.

Ia menilai ketegangan global yang kembali terjadi harus menjadi momentum mempercepat reformasi sektor energi nasional.

"Ketahanan energi dan transisi energi harus berjalan beriringan. Kita perlu membangun sistem energi berkelanjutan sekaligus juga tahan menghadapi gejolak geopolitik global," tambahnya.

Eddy berharap Indonesia dapat memanfaatkan potensi energi domestik secara optimal sehingga mampu mengurangi ketergantungan terhadap pasokan energi dari luar negeri.

"Krisis global sudah seharusnya menjadi alarm bagi kita untuk berbenah dan mempercepat langkah strategis mewujudkan kemandirian energi," pungkasnya.
Bagikan:
KOMENTAR
TERKINI