Integritas Intelektual

| Kamis, 20 Agustus 2026 | 01.06 WIB

Bagikan:

Bernasindonesia.com - Hamid Muhammad bin Muhammad Al-Gazali (Al-Gazali) pernah menyusun rantai kerusakan dengan kalimat yang nyaris seperti belati: rusaknya rakyat karena rusaknya penguasa; rusaknya penguasa karena rusaknya ulama; dan rusaknya ulama karena cinta harta dan kedudukan.


Berabad-abad berlalu, sebutan bagi orang berilmu terus berganti. Tetapi pertaruhannya tetap sama: apakah pengetahuan menjadi jalan menuju kebenaran, atau jalan menuju kepentingan.

Barangkali karena itu, Dreyfus Affair penting bukan hanya sebagai perkara seorang perwira yang dituduh berkhianat. Di sana, lahir makna modern tentang intelektual: bukan sekadar orang yang berpikir, melainkan orang yang bersedia menanggung konsekuensi dari apa yang dipikirkannya.

Sebab berpikir tidak selalu membutuhkan keberanian. Yang membutuhkan keberanian adalah mengatakan hasil pikiran kita ketika kebenaran itu mengusik kekuasaan, kelompok sendiri, atau kenyamanan diri.

Di situlah tanggung jawab intelektual bermula: menjaga agar pikiran tidak disewa, ilmu tidak dijadikan pembenaran, dan kebenaran tidak ditukar dengan kedudukan.

Pengetahuan yang kehilangan keberanian pada akhirnya hanya menjadi kecerdasan yang pandai menyusun alasan agar kepentingan tampak seperti kebenaran.

Dan seorang intelektual barangkali tidak selalu harus menjadi suara yang paling keras. Ia hanya perlu memastikan bahwa, di tengah riuhnya kepentingan, nurani belum kehilangan bahasa.

Sebuah negeri tidak selalu rusak karena terlalu banyak orang jahat. Kadang ia rusak karena terlalu sedikit orang berilmu yang bersedia menanggung harga ketika kebenaran tak lagi menguntungkan.

Dan mungkin kehancuran paling sunyi bukan ketika manusia dibungkam, melainkan ketika ia telah belajar membungkam dirinya sendiri sebelum siapa pun memintanya.

Pada akhirnya, seorang intelektual tidak selalu dituntut menyelamatkan dunia. Ia hanya dituntut untuk tidak ikut membuat kegelapan tampak seperti cahaya.

Oleh: Yudi Latif 
Bagikan:
KOMENTAR
TERKINI