BernasIndonesia.com - Diperkirakan kurang lebih 10 ribu massa Kesatuan Niaga Celluler Indonesia (KNCI) kembali akan melakukan aksi demonstrasi di depan Istana Negara untuk meminta Presiden Joko Widodo (Jokowi) mencopot Rudiantara sebagai Menteri Komunikasi dan Informatika (Menkominfo) Republik Indonesia.
Ketua umum KNCI Qutni Tisyari mengatakan aksi unjuk rasa damai pada Rabu, 9 Mei 2018, terkait aturan pembatasan registrasi 1 NIK hanya 3 kartu perdana yang dikeluarkan oleh Kemenkominfo, yang telah menjjadi tuntutan panjang KNCI secara diplomatif kepada Kemenkominfo sejak bulan Juli 2017 silam. Namun, kesepakatan antara KNCI dan pemerintah sampai saat ini belum membuahkan hasil.
"Peserta Aksi (± 10ribu orang) perwakilan dari seluruh Indonesia yaitu, Banda Aceh, Batam, Pekanbaru, Padang, Medan, Lampung, Bandung, Cianjur, Garut, Surabaya, Malang, Djogjakarta, Solo, Semarang, Bali, Kalimantan, Sulawesi, Jabodetabek," ujar Qutni melalui siaran persnya kepada wartawan, Selasa (8/5/2018).
Menurut Qutni, aksi demonstrasi di depan Istana negara akan dimulai pada pukul 14:00 sampai selesai. Diharapkan, Jokowi sebagai Presiden atau kepala pemerintahan menemui massa atau perwakilan KNCI.
"Target aksi KNCI mendesak Presiden RI langsung yang menemui kami, atau negoisasinya dengan Wapres RI, negoisasi minimal adalah dengan Kepala Staff Presiden, Bapak Moeldoko," tukas dia.
Sementara itu tuntutan KNCI lainnya, menurut Qutni, meminta agar Jokowi menghapuskan auran pembatasan registrasi mandiri 1 NIK 3 kartu Perdana. Jika tidak, tambah dia, seluruh peserta aksi dari awal sampai selesai, akan berbaris rapi dan berlutut di depan Istana dalam keadaan pergelangan tangan serta pergelangan kaki diikat dan bagian mata ditutup kain hitam (seolah – seolah hendak dieksekusi mati).
"Satu orang yang berlutut paling depan secara simbolis terdapat tiang dan tali gantungan bertuliskan Kemenkominfo. Tapi aksi ini merupakan unjuk rasa damai dan berkomitmen soal keamanan dan kebersihan lingkungan aksi," katanya. (Zah/Ed).

