Pergolakan Ideologi di Era Penjajahan Jepang

| Jumat, 26 November 2021 | 06.44 WIB

Bagikan:

Bernasindonesia.com - Dengan rileks dan penuh keyakinan diri, Rusli mengutip Karl Marx. Bukan Tuhan yang menciptakan manusia, tapi manusia yang menciptakan Tuhan. 


Mengapa manusia perlu menciptakan Tuhan? Karena hidup manusia menderita. Tak ada keadilan sosial. Yang kaya dan berkuasa semakin kaya dan semakin berkuasa. Mayoritas rakyat menderita. Merana. Terzalimi.

Konsep Tuhan pun diciptakan, ujar Rusli. Tuhan yang maha kasih, dan akan ada surga bagi yang perilakunya  baik, itu menenangkan hati. Tapi konsep Tuhan akhirnya menjadi candu. Orang ketagihan dengan kenyamanan yang didatangkan oleh konsep itu. Merekapun kurang revolusioner untuk mengubah tatanan sosial yang tak adil.

Padahal tatanan sosial yang tak adil itulah yang membuat manusia menciptakan Tuhan. Fasih sekali Rusli mengutip Karl Marx.

Anwar menimpali. Jika Tuhan ada, akulah Tuhan itu. Aku yang menentukan apa yang harus aku pilih. Mengapa aku harus tunduk kepada kepercayaan buatan orang lain. Aku hanya tunduk pada keyakinan berdasarkan pengalamanku sendiri.

Mendengar Rusli dan Anwar, Hasan tersentak kaget. Hasan bukan saja pemuda yang dibesarkan dengan tradisi Muslim yang taat. Tapi ia juga menjalani tradisi tarekat.

Hasan puasa senin- kamis. Ia pun rajin bertajahud. Berzikir menjadi kebiasaannya. Tuhan baginya wilayah gaib dan sakral. Itu sesuatu yang suci. Yang maha.

Bagaimana mungkin dua temannya rileks saja meniadakan Tuhan? Awalnya Hasan marah. Terguncang.

Masalahnya, di antara Anwar dan Rusli, ada juga Kartini. Ia memang berpikiran sama dengan Rusli dan Anwar. Tapi Kartini begitu memikat Hasan. Kartini berbeda dengan perempuan lain yang Ia kenal selama ini. Kartini begitu independen. Bebas. Berpikiran liar. Tapi Ia juga cantik. Sintal. Memikat.

Kartini pula yang membuat Hasan tetap berada dalam pergaulan dengan Rusli dan Anwar.  Hasan jatuh cinta pada Kartini.

Hasan terus bergaul dengan trio ini: Rusli, Anwar dan Kartini. Karena begitu seringnya Rusli dan Anwar menyatakan gagasannya yang marxis, juga yang liberal, keyakinan lama Hasan pun goyah.

Hasan tumbuh dengan keyakinan baru. Ia merasa keyakinan lamanya soal agama dan Tuhan itu tak teruji. Kolot. Itu keyakinan semata yang sudah tertinggal oleh zaman baru. 

-000-

Itulah cuplikan pergolakan batin dalam diri Hasan dari novel Atheis karangan Achdiat K Mihardja. Ini termasuk novel pertama di Indonesia yang merekam pertarungan paham agama dan ideologi modern. 

Paham Islam versus komunisme versus liberalisme versus sosialisme versus eksitensialisme.

Hasan dalam novel ini pribadi yang goyah. Ia terombang-ombang antara keyakinan berbagai paham itu. Bertempurnya paham itu dalam kaum terpelajar Indonesia era penjajahan Jepang di tahun 1940an berlangsung pula dalam diri Hasan pribadi.

Raden Wira, Ayah Hasan, sangatlah terpukul. Bagaimana mungkin Hasan, anak yang Ia besarkan dan rawat dengan tradisi keagamaan yang saleh dan adat istiadat, kini menjadi durhaka pada agama.

Raden Wira terkejut alang kepalang. Hasan begitu berubah. Ia menolak ketika Ayahnya, Raden Wira, menjodohkan Hasan dengan Fatimah. 

Hasan merasa ia berhak menentukan jodohnya sendiri. Ini hidupnya. Ia yang harus memilih pasangannya. Bukan Ayah.

Bahkan Hasan pun menyanggah keyakinan agama Raden Wira.

Menjelang wafat, badan Raden Wira begitu lemah. Ia hanya bisa membuka dan menutup mata. Suaranya begitu pelan. Nyaris tak terdengar. 

Namun pesannya jelas. Raden Wira tak menginginkan Hasan ada di sana. Ia meminta Hasan keluar dari kamar. Ia merasa Hasan bukan lagi anaknya.

Hasan terpukul. Ibunya meminta Hasan keluar dari kamar. Ujar Ibu, biarkan Ayahmu pergi menghadap Tuhannya dengan tenang.

-000-

Tak pernah Hasan duga. Begitu besar efek psikilogis yang harus Ia tanggung ketika keluarganya merasa Hasan sudah menjadi seorang Atheis. 

Bahkan Ayahnya tak sudi Hasan berada dalam satu ruangan ketika Ayahnya menghadapi maut.

Awalnya Hasan membenarkan sikapnya. Ayah menderita bukan karena perubahan keyakinannya. Tapi Ayah adalah korban dari fanatisme agamanya sendiri. Itu karena Ayah tak memberi ruang kepada perbedaan keyakinan.

Tapi Hasan tetap terpukul. Ia terguncang. Ia menderita. Ia merasa keyakinan barunya yang modern tak membuatnya bahagia.

Dalam keheningan malam, Hasan kembali berzikir. Ia kembali napak tilas kepada agama yang dulu pernah diyakininya. Bahkan ketika Hasan tertembak oleh tentara Jepang, sebelum wafat, Hasan berseru hanya satu kata: Allahu Akbar!

-000-

Novel Atheis ini dipuji bukan saja karena ia memulai tradisi novel di Indonesia yang merekam datangnya pemikiran dan ideologi modern. Novel ini juga merekam suasana batin kependudukan Jepang di Indonesia.

Balai Pustaka menerbitkan novel ini di tahun 1949. Tapi novel ini merekam era sebelum kemerdekaan, sebelum tahun 1945.

Suasana penjajahan Jepang tergambarkan detail dalam novel ini. Saat itu sangat sering berlaku jam malam. Tentara Jepang meminta penduduk mematikan listrik.  Itu diikuti oleh ronda tentara Jepang sambil berteriak: Kusyu keiho! Kusyu keiho! Padamkan lampu!

Di rumah masing masing, penduduk diminta membuat lubang perlindungan. Mereka juga diminta mengigit bola karet.

Alasan kompetei, tentara Jepang, pihak sekutu pimpinan Amerika Serikat sangat mungkin menjatuhkan bom. Penduduk yang bersembunyi di dalam lubang, sambil menggigit bola karet jika bom jatuh, akan selamat.

Pihak kompetei pun menyebarkan mata-mata agar penduduk taat. Mata- mata ini penduduk pribumi sendiri yang dilatih. Bahkan diantara mata-mata juga terdapat wanita hiburan asal pribumi, yang sudah menjadi kaki tangan Jepang.

Hasan tertembak dalam momen itu. Ketika tentara Jepang patroli dan meneriakkan: Kusyu Keiho, Kusyu keiho, Hasan malah keluar rumah. Ia berlari mencari Anwar untuk melampiaskan kemarahannya.

Tapi bukan Anwar yang berhasil Hasan temui. Sebuah tembakan tentara Jepang membuatnya roboh.

-000-

Cukup fasih Achdiat K Mihardja mengkisahkan pergolakan ideologi dalam diri Hasan. Itu karena Achdiat sendiri, sang penulis, juga mengalami perbenturan pemikiran itu.

Achdiat dilahirkan di Jawa Barat dalam masyarakat yang kuat sekali tradisi agama Islam. Namun Achdiat tumbuh dewasa dengan bacaan buku dan pergaulan politik yang luas.

Achdiat ikut mendirikan Lekra. Ini gerakan kebudayaan yang kemudian dicap berafiliasi kepada Partai Komunis Indonesia.

Tapi Achdiat sendiri tak menjadi anggota PKI. Ia menjadi anggota Partai Sosialisme Indonesia. Ketika partai ini dilarang Soekarno, Ia tetap bangga menyandang keanggotaannya pada partai itu.

Sejak tahun 1960an, Achdiat memilih hidup di Australia. Ia menjauh tak tinggal Indonesia, hingga ajal menjemputnya di tahun 2010.  Ia wafat di sana, di Canbera, Australia.

Perkumpulan Penulis Indonesia Satupena pada bulan Oktober 2021 sudah menetapkan. Satupena memilih novel Atheis sebagi satu dari 100 Buku Pilihan Yang Mewarnai Indonesia Sejak Era Kolonial.

Novel ini layak disediakan, diterbitkan kembali untuk publik luas. Generasi Indonesia di era digital dapat menyelami batin Indonesia di era tahun 1940an melalui novel ini.

Di era itu, percaya pada Tuhan atau tidak percaya adalah perkara besar. Ini perkara hidup dan mati.

Tapi kini telah datang era hak asasi manusia. Jumlah keyakinan yang kini hadir dalam peradaban modern sebanyak 4300 agama dengan konsep Tuhan yang berbeda-beda. (1)

Jumlah mereka yang tak lagi meyakini agama juga sangat besar. Pemeluk terbanyak di dunia sekarang ini, setelah pemeluk Kristen dan Islam adalah segmen masyarakat yang tak lagi mengikatkan diri pada agama apapun.

Kini manusia modern lebih rileks menghadapi perbedaan paham soal Tuhan. ***

Oleh: Denny JA


Bagikan:
KOMENTAR
TERKINI