Bernasindonesia.com - Saudaraku, dunia pendidikan kita tak kunjung mengalami kemajuan, karena setiap rezim pendidikan berganti, pusat perhatiannya tetap sama, tertuju pada perubahan prosedur. Tak pernah menjangkau substansi pendidikan.
Padahal, inti pendidikan bukan sekadar menyusun kurikulum atau mengatur ujian. Pendidikan sejati adalah upaya memahat manusia: membentuk karakter yang tangguh, membuka cakrawala pengetahuan, dan mengasah keterampilan hidup. Ia adalah proses menyemai benih potensi menjadi kapabilitas yang berbuah nyata.
Kapabilitas tumbuh ketika insan diberi ruang untuk belajar dalam kebebasan dan kesetaraan—didorong memilih tindakan yang bernilai dan bermakna. Pendidikan bukan hanya mendidik akal, tetapi juga menuntun jiwa untuk memahami tujuan hidupnya.
Untuk itu, perlu keseimbangan antara pengembangan potensi kodrati, pendekatan yang menghargai keberagaman kecerdasan, dan dukungan sarana yang merata. Domain dan field harus tersedia: ruang untuk bertumbuh dan medan untuk menjelajah.
Namun, kemampuan tanpa keberfungsian hanya akan melayang di awang-awang. Pendidikan unggul harus membekali manusia untuk bertindak dalam dunia nyata—menghadapi kompleksitas hidup sebagai generalis yang tangguh dengan keahlian khas.
Dan itu menuntut ekosistem yang menopang: politik yang meritokratis, ekonomi yang inklusif. Kapabilitas yang dibentuk di ruang kelas hanya akan tumbuh bila dipelihara dalam tanah yang menjamin kesetaraan dan membuka jalan inovasi.
Maka sistem pendidikan, inovasi, dan ekonomi harus teranyam dalam satu harmoni. Talenta unggul akan sia-sia tanpa ekosistem yang menumbuhkan. Pendidikan yang unggul tak diukur dari seberapa banyak yang diajarkan, tapi seberapa jauh manusia dibebaskan—untuk mencipta, memperbarui, dan mengubah dunia.
Oleh: Yudi Latif