Busyro Muqoddas Ingatkan Krisis Kepemimpinan: Gelar Tinggi Tanpa Kejujuran Tak Cukup

| Rabu, 07 Januari 2026 | 01.35 WIB

Bagikan:

Bernasindonesia.com - Kemampuan akademik yang tinggi tidak cukup menjadi patokan seorang layak untuk menjadi pemimpin, sebab yang dibutuhkan seorang pemimpin selain kecerdasan adalah kejujuran.


Pesan itu disampaikan oleh Ketua Pimpinan Pusat (PP) Muhammadiyah, Busyro Muqoddas pada Ahad (4/1) di Muhammadiyah Boarding School (MBS) 3 Ngulankulon, Pogalan, Kabupaten Trenggalek.

Busyro melihat, situasi kehidupan kebangsaan saat ini membutuhkan sosok pemimpin yang kokoh kecerdasan dan kejujurannya. Tidak cukup menjadi pemimpin hanya berbekal sandangan gelar doktor maupun profesor.

Di sisi lain, dirinya juga melihat kegersangan mental akademisi. Menurutnya saat ini terjadi imbalance antara kecerdasan otak dengan spiritualitas, maka banyak orang-orang bergelar sarjana namun hidupnya tidak tenang.

Oleh karena itu, kedua sisi – jasad dan spiritual, hati dan pikiran harus diseimbangkan. Terlebih jika seorang menjadi pemimpin, maka kedua sisi ini mutlak harus diseimbangkan jangan sampai timpang.

Selain dalam diri, kejujuran dan kecerdasan juga harus diterapkan dalam sebuah sistem. Sistem tidak boleh kering dari kejujuran dan kecerdasan. Jujur sebagai pondasi untuk penerapannya, dan cerdas sebagai alat respon menghadapi perubahan.

Termasuk dalam Pemilihan Umum (Pemilu), jika kejujuran dan kecerdasan digunakan membasuh sistem ini, Busyro yakin Pemilu akan melahirkan pemimpin yang baik. Namun sebaliknya, jika kejujuran dan kecerdasan diabaikan rusak lah pemimpin tersebut.

“Kalau pemimpin itu jujur, tidak usah repot-repot karena tinggal mengelola sumber daya alam termasuk air tadi,” katanya.

Namun demikian, dia menyoroti bahwa masih perlu banyak perbaikan untuk Pemilu di Indonesia. Tidak hanya di level pusat, tapi juga sampai bawah – pemilihan lurah juga perlu ada perbaikan yang radikal.

Dirinya juga khawatir, jika yang dikedepankan adalah kecerdasan akal tanpa kemantapan spiritual, tindak korupsi di Indonesia semakin masif dan sulit dihilangkan.


Bagikan:
KOMENTAR
TERKINI