Bernasindonesia.com - Sejarah sebuah bangsa bukan sekadar kronologi peristiwa, melainkan perjalanan evolusi kesadarannya sendiri. Ada masa ketika bangsa digerakkan oleh emosi kolektif yang berkobar, ada masa ketika ia dikendalikan oleh hasrat akan ketertiban, dan ada pula fase ketika ia bertumbuh melalui kebebasan yang masih mencari bentuk. Indonesia telah melewati semua tahap itu. Kini, kita tampaknya berdiri di ambang sebuah fase baru—yang tidak lagi ditandai oleh gegap gempita revolusi, stabilitas yang dipaksakan, atau euforia demokrasi prosedural, melainkan oleh kesadaran reflektif yang matang. Inilah yang layak disebut sebagai Era Kesadaran Baru.
Istilah ini bukan slogan kosong. Ia mencerminkan kematangan kolektif bangsa dalam memahami sejarahnya secara utuh, menilai realitasnya dengan jernih, serta merancang masa depannya secara sadar. Kesadaran, dalam konteks ini, bukan sekadar mengetahui fakta, melainkan kemampuan memahami makna dan kesediaan bertanggung jawab atas pilihan kolektif. Kata “baru” menandakan lompatan kualitatif—meninggalkan pola lama yang reaktif, simplistik, dan dikotomis.
Dari Kesadaran Emosional ke Kesadaran Reflektif
Sejarah Indonesia dapat dibaca sebagai proses peningkatan kesadaran kolektif. Orde Lama merepresentasikan kesadaran revolusioner—penuh idealisme para pendiri bangsa dan keberanian melawan kolonialisme, namun kerap rapuh dalam membangun institusi negara yang stabil. Orde Baru menghadirkan kesadaran akan stabilitas dan pembangunan ekonomi, dengan negara terpusat sebagai pengendali, tetapi sering mengorbankan kebebasan sipil dan kreativitas masyarakat. Reformasi membuka kesadaran akan kebebasan dan hak politik, mendorong demokrasi elektoral, meski tak jarang terjebak dalam proseduralisme, populisme dangkal, dan fragmentasi sosial.
Era Kesadaran Baru tidak meniadakan warisan fase-fase tersebut. Ia belajar dari semuanya: menyerap idealisme kebangsaan Orde Lama, kedisiplinan perencanaan Orde Baru, serta nilai kebebasan dan desentralisasi Reformasi—lalu mensintesiskannya dalam kerangka kesadaran reflektif. Inilah fase ketika bangsa bergeser dari kebiasaan mencari “kambing hitam” sejarah menuju sikap menjadikan sejarah sebagai laboratorium pembelajaran bersama.
Kesadaran Sejarah: Berdamai Tanpa Melupakan
Ciri utama Era Kesadaran Baru adalah kesadaran sejarah yang dewasa. Kita mulai menerima bahwa sejarah jarang berwarna hitam-putih. Setiap periode memiliki capaian dan kegagalannya sendiri. Luka dan trauma masa lalu tidak perlu ditutup-tutupi, tetapi juga tidak layak dieksploitasi untuk legitimasi politik jangka pendek.
Kesadaran ini menjadi landasan rekonsiliasi yang autentik—bukan yang melupakan, melainkan yang membuka ruang dialog, riset objektif, dan refleksi mendalam. Sejarah berhenti menjadi alat propaganda dan kembali sebagai sumber kebijaksanaan kolektif. Museum, arsip, dan ruang edukasi idealnya tidak menjadi monumen kemenangan sepihak, melainkan ruang pembelajaran multiperspektif.
Kesadaran Demokrasi: Dari Elektoral ke Deliberatif
Reformasi menganugerahkan demokrasi, tetapi sekaligus menyingkap batasnya. Demokrasi yang terlalu elektoral rentan terhadap politik identitas, polarisasi tajam, dan transaksi kekuasaan yang miskin substansi. Era Kesadaran Baru mendorong pergeseran dari demokrasi memilih menuju demokrasi bermusyawarah.
Demokrasi deliberatif dan partisipatif menjadi kunci. Fokusnya bukan semata pada siapa yang memenangkan pemilu, tetapi pada bagaimana kebijakan publik dirumuskan—melalui pertukaran argumen rasional, berbasis data, dan berorientasi pada kepentingan jangka panjang bangsa. Kebebasan tetap dijaga, tetapi disertai tanggung jawab sosial dan etika publik. Teknologi digital semestinya diarahkan menjadi alat partisipasi bermakna—seperti inisiatif Kawal Pemilu atau forum warga digital—bukan mesin polarisasi dan disinformasi.
Kesadaran Ekologis: Memperluas Makna Kedaulatan
Kesadaran baru juga menuntut perluasan makna kedaulatan: tidak lagi terbatas pada politik dan ekonomi, tetapi mencakup kedaulatan ekologis. Krisis iklim, kerusakan lingkungan, dan ketimpangan akses sumber daya membuktikan bahwa model pembangunan eksploitatif dan antroposentris tidak lagi berkelanjutan.
Era Kesadaran Baru menempatkan alam sebagai mitra, bukan objek. Setiap kebijakan pembangunan harus mempertimbangkan daya dukung lingkungan, keadilan antargenerasi, dan keberlanjutan jangka panjang. Bagi Indonesia, ini berarti pergeseran paradigma dari resource extraction menuju value creation yang berkelanjutan. Ekonomi sirkular, transisi energi, dan pembangunan rendah karbon bukan lagi pilihan moral, melainkan keharusan eksistensial.
Kesadaran Global-Lokal: Berdaulat dalam Keterhubungan
Dalam dunia multipolar yang penuh ketidakpastian namun saling terhubung, Indonesia memerlukan kesadaran global-lokal yang matang: berpikir global tanpa kehilangan akar lokal, memanfaatkan globalisasi tanpa terjebak ketergantungan. Diplomasi tidak cukup reaktif, tetapi harus visioner—mampu membaca perubahan geopolitik, teknologi, dan arah peradaban.
Kesadaran ini penting agar Indonesia tidak berhenti sebagai pasar atau penonton, melainkan menjadi aktor strategis dengan visi peradaban yang jelas. Dalam tatanan dunia yang tengah bergeser, negara dengan kesadaran diri yang kuat justru memiliki peluang lebih besar untuk memimpin melalui keteladanan dan kedalaman strategi.
Operasionalisasi: Politik, Ekonomi, dan Budaya
Secara operasional, Era Kesadaran Baru menuntut perubahan paradigma lintas sektor.
Dalam politik, orientasi perlu bergeser dari politics of identity menuju politics of ideas. Koalisi dibangun atas dasar visi dan program, bukan transaksi jangka pendek. Kepemimpinan dinilai dari kapasitas berpikir, integritas, dan keberanian mengambil keputusan berbasis bukti.
Dalam ekonomi, kesadaran baru mendorong ekonomi inklusif dan berkelanjutan. Ekonomi kolektif, sirkular, ekonomi digital yang memberdayakan UMKM, serta Koperasi 4.0 menjadi alternatif nyata terhadap dominasi oligarki. Pertumbuhan dipahami sebagai alat menuju pemerataan dan kemandirian, bukan tujuan akhir—yang menuntut pergeseran dari mentalitas rente menuju mentalitas inovasi.
Dalam kebudayaan, Era Kesadaran Baru ditandai kebangkitan literasi sejarah kritis, seni reflektif, dan revitalisasi kearifan lokal secara kontekstual. Seni, sastra, dan film menjadi medium pengolahan memori kolektif dan rekonsiliasi sosial.
Tantangan dan Tanda Zaman
Era Kesadaran Baru tentu tidak hadir tanpa tantangan. Kesadaran reflektif masih banyak terkonsentrasi pada kelompok terdidik. Infodemi dan budaya post-truth menggerogoti rasionalitas publik. Struktur lama—oligarki dan birokrasi yang tidak adaptif—masih menunjukkan resistensi. Namun sejarah mengajarkan bahwa perubahan besar hampir selalu dimulai dari minoritas yang berpikir, sebelum menjadi arus utama.
Meski belum dominan, tanda-tandanya mulai terlihat. Diskursus publik kian bernuansa. Kebijakan berbasis data memperoleh ruang. Gerakan sosial berkembang dari sekadar protes menuju solusi sistemik. Seni dan sastra semakin berani mengolah sejarah dan identitas secara kompleks. Pendidikan perlahan bergeser dari hafalan ke penguatan berpikir kritis. Platform kolaborasi—forum warga digital, laboratorium kebijakan daerah, dan ruang diskusi lintas sektor—mulai tumbuh sebagai infrastruktur baru pertukaran gagasan.
Aktor utama Era Kesadaran Baru bukan satu figur atau rezim, melainkan jejaring masyarakat terdidik yang bekerja lintas sektor: akademisi, santri, profesional, birokrat reflektif, aktivis, dan generasi muda. Mereka membentuk ekosistem perubahan yang organik, melampaui sekat negara, pasar, dan masyarakat sipil.
Penutup: Menuju Kedewasaan Bangsa
Era Kesadaran Baru adalah fase ketika Indonesia berhenti bertanya, “Siapa yang salah di masa lalu?” dan mulai bertanya, “Apa yang bisa kita pelajari bersama untuk masa depan?” Inilah era ketika Pancasila dihayati sebagai metode berpikir—Ketuhanan yang humanis, Kemanusiaan yang adil, Persatuan yang dewasa, Demokrasi yang bijak, dan Keadilan sosial yang berkelanjutan.
Jika Orde Lama dimotori idealisme pendiri bangsa, Orde Baru oleh mesin pembangunan, dan Reformasi oleh gelombang kebebasan, maka Era Kesadaran Baru digerakkan oleh masyarakat kritis dan reflektif sebagai protagonis utamanya—bukan sebagai penonton sejarah, melainkan sebagai penulisnya.
Oleh: M Shoim Haris
(Peneliti ADCENT / Advisory Center For Development)

