Bernasindonesia.com - Gejolak Perang antara Iran versus Israel dan Amerika terbukti memberi dampak yang mengerikan pada situasi politik dan ekonomi global termasuk bagi Indonesia. Untuk itu Indonesia Development Research (IDR) mendorong Tentara Nasional Indonesia (TNI) betul-betul harus kembali ke barak agar semakin giat berlatih dan tidak lagi mengurus pekerjaan di luar pertahanan negara.
Pendapat itu disampaikan Direktur Eksekutif IDR, Fathorrahman Fadli di Jakarta, Minggu (5/4/2026) menanggapi isu seputar upaya negara untuk kembali menyeret TNI bekerja diluar tugas pokok dan fungsinya dibidang pertahanan negara guna melindungi negaranya dari ancaman negara lain.
Fathorrahman Fadli menegaskan, upaya menyeret kembali TNI ke dalam politik dan kegiatan non pertahanan lainnya sangatlah membahayakan negara. Dalam keadaan non perang, TNI tidak boleh dipersepsi sebagai sekelompok pengangguran bersenjata.
"Mereka harus terus berlatih meningkatkan berbagai kemampuan dasar bertempur dan teknik yang lebih canggih dalam usaha menjaga dan mempertahankan keutuhan negara," jelas Fadli yang juga peneliti senior Institut Peradaban itu.
Kehadiran TNI dalam negara harus menjamin keselamatan setiap warga negara dan bukan justru menjadi bagian dari aksi teror atas warganya. TNI harus fokus pada usaha memberikan rasa aman dan damai bagi setiap warga negara. Sebab, lanjut Fathorrahman Fadli, hal itu adalah alasan pokok mengapa kemudian negara memiliki tentara. "Jika rasa aman itu tidak tersedia, maka percuma saja APBN membiayai anggota TNI yang besar sekali itu," tegasnya.
TNI harus tetap menunjukkan sikap profesionalitasnya dalam melindungi negara dari ancaman negara lain. Jika TNI terlihat menganggur, tidak berlatih, menanam sorgum, ikut menanam jagung, mengurus MBG, maka hal itu akan merusak kemampuan TNI dan potensial memberi sinyal agar Indonesia gampang untuk diserang negara lain.
"Para kedutaaan besar negara asing di Indonesia itu memiliki petugas yang setiap saat melaporkan kondisi TNI kita, jika kita terlihat lemah maka mereka dapat menyerang kita sebagai bangsa yang lemah. TNI harus tetap mampu memberikan efek kejut pada negara lain bahwa Indonesia sangat kuat," tegas Fathorrahman yang juga dosen pendidikan kewarganegaraan itu.
Prihatin Kasus Andrie Yunus
Fathorrahman juga mengaku prihatin atas kejahatan yang dilakukan anggota TNI aktif atas praktik teror penhiraman air keras kepada aktivis HAM Andrie Yunus.
Kasus teror tidak sepantasnya dilakukan oleh anggota TNI dengan alasan apapun.
"Aktivis itu tidak boleh dikorbankan atas alasan apapun, sebab mereka adalah rem untuk memastikan laju negara tetap berada dalam jalan yang benar," tegasnya.

