Kepala BRIN Ungkap Tiga Jalur Riset Menuju Indonesia Emas 2045

| Selasa, 11 Agustus 2026 | 07.34 WIB

Bagikan:

 

Bernasindonesia.com - Kepala Badan Riset dan Inovasi Nasional (BRIN), Arif Satria, menyatakan BRIN menyiapkan tiga jalur pengembangan riset dan inovasi untuk memperkuat ekosistem riset dan inovasi yang berdaya saing dan berkualitas menuju Indonesia Emas 2045.

“Tiga track (jalur). Pertama adalah bagaimana BRIN bisa mendorong inovasi untuk produktivitas dan daya saing Usaha Mikro, Kecil, dan Menengah (UMKM),” kata Arif, dalam sambutannya pada kegiatan Indonesia Innovator Award dan Indonesia Innovator Lecture 2026, sekaligus memperingati Hari Kebangkitan Teknologi Nasional (Hakteknas) ke-31, di Auditorium Sumitro Djojohadikusumo, Gedung B.J. Habibie, Jakarta, Senin (10/8).

Menurutnya, meskipun BRIN mengembangkan teknologi tinggi, perhatian terhadap teknologi yang dibutuhkan UMKM tidak boleh ditinggalkan. “Jadi, meskipun kita akan masuk kepada teknologi tinggi, kita tidak boleh meninggalkan teknologi-teknologi yang penting untuk UMKM di Indonesia,” ujarnya.

Jalur kedua adalah menghasilkan riset dan inovasi untuk industri, terutama untuk menjawab kebutuhan perusahaan-perusahaan di Indonesia. Ia menyebut, riset untuk industri penting karena perusahaan-perusahaan di berbagai negara juga mengembangkan riset sebagai bagian dari pengembangan industrinya.

Sementara jalur ketiga adalah memfasilitasi co-development teknologi maju dunia untuk masuk ke Indonesia. Ia mengatakan banyak proyek strategis nasional yang selama ini membutuhkan teknologi maju yang dikembangkan negara-negara lain untuk kemudian diterapkan di Indonesia.

“Saatnya kita harus berani melakukan co-development. BRIN insyaallah siap untuk bisa bersanding dengan negara-negara lain dalam menciptakan co-development teknologi maju di Indonesia dan membuat teknologi dunia lebih banyak masuk ke Indonesia,” ucapnya.

Pengembangan tiga jalur tersebut, sambungnya, tidak terlepas dari upaya meningkatkan nilai tambah dari pengetahuan dan riset. Prosesnya mencakup penemuan, teknologi, inovasi, komersialisasi, hingga industrialisasi yang pada akhirnya dapat meningkatkan pertumbuhan ekonomi.

Karena itu, ia menekankan Indonesia tidak boleh hanya menjadi pengguna teknologi, tetapi harus mampu menjadi pencipta, pengembang, dan pemimpin dalam inovasi. “Indonesia tidak boleh berhenti pada publikasi atau prototipe, tetapi harus menjadi produk yang bermanfaat, kebijakan yang tepat sasaran, serta solusi nyata bagi permasalahan bangsa,” ujarnya.

Hasil riset dan inovasi tersebut harus mampu mendukung kedaulatan pangan, energi, dan kesehatan, memperkuat industri nasional, serta meningkatkan kualitas lingkungan hidup masyarakat.

Dalam pengembangan teknologi, BRIN juga tidak hanya berfokus pada teknologi maju. Teknologi sederhana dengan tingkat manfaat tinggi bagi masyarakat juga menjadi perhatian. Ia mencontohkan LAHSAMOR sebagai teknologi sederhana yang dapat membantu menyelesaikan persoalan masyarakat.

Selain teknologi sederhana, BRIN mengembangkan teknologi maju seperti kecerdasan artifisial, semikonduktor, genomik, teknologi kuantum, teknologi antariksa, teknologi nuklir, dan material maju untuk menjawab berbagai kebutuhan nasional. “Penguasaan teknologi itu menentukan martabat bangsa,” ujarnya.

Senada, Plt. Direktur Utama Lembaga Pengelola Dana Pendidikan (LPDP), Yon Arsal, mendorong ekosistem riset dan inovasi di Indonesia tidak berhenti pada publikasi ilmiah, tetapi terus bergerak menuju hilirisasi yang menghasilkan teknologi, produk, maupun solusi yang memberikan dampak nyata bagi masyarakat.

Ia menyebut, Indonesia masih memiliki pekerjaan rumah besar untuk meningkatkan kemampuan hilirisasi hasil riset, meskipun kapasitas riset nasional menunjukkan perkembangan positif.

Yon mengutip laporan Global Innovation Index yang dirilis World Intellectual Property Organization (WIPO), yang menunjukkan posisi Indonesia berada di peringkat ke-55 dari 130 negara pada 2025, meningkat dibandingkan posisi ke-75 pada 2022. “Namun, peningkatan tersebut masih diikuti tantangan dalam mengubah aktivitas riset dan kolaborasi menjadi keluaran teknologi serta paten yang dapat dikomersialkan,” tambahnya.

“Dukungan pendanaan LPDP, bersama dukungan BRIN dan berbagai pihak lainnya, diharapkan dapat memperkuat ekosistem riset sehingga hasil penelitian dapat bertransformasi menjadi karya yang memberikan manfaat,” harapnya.

Sementara itu, Menteri Pendidikan Tinggi, Sains, dan Teknologi, Brian Yuliarto, mengatakan Indonesia masih perlu memperkuat jalur yang menghubungkan hasil penemuan dan inovasi dengan pembentukan perusahaan hingga berkembang menjadi industri. Menurutnya, kemampuan teknis dan penguasaan teknologi sebenarnya telah dimiliki, namun masih terdapat “lembah kematian” yang membuat banyak produk inovasi belum berhasil dibawa ke tahap industri.

“Kita sepertinya sekarang akan bersama-sama lagi bagaimana kita bisa membangun industri-industri berbasis teknologi,” kata Brian.

Ia menilai pengembangan industri berbasis teknologi maju atau deep tech industry menjadi salah satu tantangan sekaligus peluang bagi Indonesia untuk melakukan lompatan menuju negara industri, dengan dukungan kolaborasi antara perguruan tinggi, lembaga riset, dan dunia industri. 
Bagikan:
KOMENTAR
TERKINI