Maulid Nabi dan Antibodi Peradaban

| Rabu, 26 Agustus 2026 | 02.20 WIB

Bagikan:

Bernasindonesia.com - Kelahiran Rasulullah Muhammad SAW bukan sekadar peristiwa historis yang mengubah peta agama dunia. Ia adalah awal dari misi kenabian yang menghadirkan koreksi mendasar terhadap peradaban jahiliah. 


Ialah peradaban yang mengenal keberanian, perdagangan dan solidaritas, tetapi juga dibelenggu fanatisme kesukuan, ketimpangan, eksploitasi, dendam, dan krisis martabat manusia. Kehadiran Rasulullah Muhammad SAW menjadi obat bagi peradaban yang sedang sakit itu. 
 
Al-Qur’an menegaskan misi itu (perasulan Nabi Muhammad SAW) sebagai rahmat bagi semesta. _“Kami tidak mengutus engkau (Muhammad) melainkan sebagai rahmat bagi seluruh alam”_ (QS. Al-Anbiya: 107). Rahmat tersebut diwujudkan dalam transformasi moral yang nyata.

_Pertama_, _*ashabiyyah*_ (tribalistik) dilawan dengan ukhuwah dan kesetaraan (QS. Al-Hujurat: 13). _Kedua_, hukum rimba diganti keadilan, bahkan terhadap diri sendiri dan kelompok sendiri (QS. An-Nisa: 135). 

_Ketiga_, manusia yang diperlakukan sebagai komoditas dimuliakan martabatnya; pembebasan budak menjadi kebajikan (QS. Al-Balad: 12–13). _Keempat_, kekuasaan yang semula menjadi privilese diletakkan sebagai amanah (QS. An-Nisa: 58).

_Kelima_, budaya balas dendam diberi alternatif berupa pemaafan (QS. Ali Imran: 134). _Keenam_, penumpukan kekayaan dikoreksi dengan zakat dan distribusi sosial; harta tidak boleh hanya beredar di kalangan kaya (QS. Al-Hasyr: 7). 

_Ketujuh_, perempuan yang dipandang aib ditegakkan martabat dan haknya (QS. An-Nahl: 58–59; An-Nisa: 7). _Kedelapan_, perbedaan tidak otomatis menjadi permusuhan; Al-Qur’an memerintahkan berbuat baik dan adil kepada mereka yang tidak memerangi kita (QS. Al-Mumtahanah: 8).

_Kesembilan_, eliteisme dilawan keteladanan hidup sederhana. Nabi Muhammad SAW, meski menjadi pemimpin agama dan masyarakat, tetap membantu pekerjaan rumah dan hidup bersahaja. _Kesepuluh_, definisi kekuatan diubah: _“Orang kuat bukanlah yang menang dalam bergulat, tetapi yang mampu mengendalikan dirinya ketika marah”_ (HR. Bukhari-Muslim).

Menariknya, sepuluh nilai itu justru menemukan relevansi baru di era modern. Jahiliah tidak hilang; ia berganti bentuk. Fanatisme suku menjelma *polarisasi politik* dan _*echo chamber_. 

Fanatisme kelompok pada zaman dahulu dapat muncul dalam bentuk baru di era digital. Orang terjebak dalam kelompok informasi yang hanya membenarkan pandangannya dan memusuhi pandangan lain. Tidak _*open minded*_. 

Ketidakadilan menjadi ketimpangan struktural. Manusia direduksi menjadi konsumen, pekerja, angka statistik, atau data. Kekuasaan dapat berubah menjadi korupsi dan dominasi. 

Budaya dendam hadir melalui _*cancel culture*_ dan _*outrage*_ (kemarahan publik yang sangat kuat). Semangat membalas kesalahan tidak selalu hadir dalam bentuk kekerasan fisik seperti pada masyarakat masa lalu. Tetapi bisa berubah menjadi penghukuman sosial, pengucilan, dan kemarahan massal di ruang digital

Konsumerisme memperbesar kesenjangan. Narsisme digital menggerus kerendahan hati. Teknologi memperluas daya manusia, tetapi tidak selalu memperluas kebijaksanaan.

Karena itu, misi profetik Nabi Muhammad SAW dapat dibaca sebagai *antibodi peradaban*. Berupa *ukhuwah* untuk polarisasi, *keadilan* untuk ketimpangan, *karamah* (martabat manusia; QS. Al-Isra: 70) untuk dehumanisasi, *amanah* untuk penyalahgunaan kekuasaan, *rahmah* untuk kekerasan relasi, dan *tazkiyah* (penyucian jiwa; QS. Asy-Syams: 9) untuk krisis ego.

Modernitas tidak membutuhkan penolakan terhadap teknologi. Ia membutuhkan manusia yang lebih bermoral daripada teknologi yang diciptakannya. 

Di situlah kelahiran Rasulullah Muhammad SAW tetap relevan. Bukan membawa manusia kembali ke abad ketujuh, melainkan membawa nilai-nilai yang memungkinkan abad ke-21 tetap manusiawi. 

Bukan hanya abad 7 atau abad 21 saja. Tapi sepanjang zaman. Misi yang dibawanya relevan.

Dengan demikian, kelahiran Rasulullah Muhammad SAW bukan nostalgia sejarah. Melainkan panggilan untuk membangun kembali peradaban dengan ukuran yang lebih manusiawi. 

Ialah ketika kemajuan teknologi dituntun akhlak. Kekuasaan dikendalikan amanah. Kekayaan disertai keadilan. Kebebasan dipertanggungjawabkan di hadapan Tuhan.

Allahumma shalli ‘ala Muhammad wa ‘ala ali Muhammad.

Oleh: Abdul Rohman Sukardi 


Bagikan:
KOMENTAR
TERKINI