Akhir Dominasi PDIP pada 2024?

| Senin, 25 Desember 2023 | 10.25 WIB

Bagikan:

Bernasindonesia.com - Pada bulan Februari 2024 (jika satu putaran) dan Juni 2024 (jika dua putaran), akankah terpilih  Presiden baru RI, yang juga beriring dengan pemenang baru partai politik?


Sejak Pilpres tahun 2009, Presiden yang terpilih, SBY juga membuat partai yang mencalonkannya menjadi partai pemenang (Demokrat).

Pada Pilpres 2014 dan Pilpres 2019, yang menang adalah Jokowi. Sekaligus partai utama yang mendukung Jokowi (PDIP) juga menjadi juara pertama Pileg di tahun yang sama.

Jika Prabowo yang terpilih Presiden 2024, akankah pola yang sama berulang? Yaitu partai utama yang mendukung Prabowo, yakni Gerindra menjadi pemenang Pileg 2024, sekaligus menghentikan dominasi 10 tahun PDIP?
 
Pertama kali sejak Pileg 2014, walau selisihnya masih di bawah margin of error, PDIP terlampaui oleh Gerindra. Elektabilitas Gerindra saat ini sebesar 19.5% sedangkan PDIP 19.3%.

Ini tak pernah terjadi sebelumnya. Sejak 2014, survei partai politik selalu menghasilkan PDIP jauh di atas partai lain dengan selisih di atas margin or error (2,9%).
 
Jika Gerindra mampu mempertahankan keunggulannya sampai Pileg 2024 nanti, maka ini akan menjadi akhir dominasi PDIP selama 10 tahun. PDIP gagal hat-trick, gagal menjadi juara 3 kali Pileg berturut- turut.
 
Penurunan suara PDIP terjadi karena blunder serangan PDIP ke Jokowi, penolakan sepak bola dunia U-20 dan penyebutan presiden sebagai petugas partai.
 
Kenaikan suara Gerindra terjadi karena terjadi kenaikan dukungan dari pemilih yang puas Jokowi, dan Prabowo yang semakin populer.
 
Jika tren ini terus berlanjut, dukungan PDIP bisa kembali ke era sebelum Jokowi jadi Presiden. 
 
Demikian temuan terbaru dari hasil riset LSI Denny JA kali ini.
 
LSI Denny JA melakukan survei tatap muka (𝘧𝘢𝘤𝘦 𝘵𝘰 𝘧𝘢𝘤𝘦 𝘪𝘯𝘵𝘦𝘳𝘷𝘪𝘦𝘸) dengan menggunakan kuesioner kepada 1.200 responden di seluruh Indonesia. Dengan 1.200 responden, 𝘮𝘢𝘳𝘨𝘪𝘯 𝘰𝘧 𝘦𝘳𝘳𝘰𝘳 𝘴𝘶𝘳𝘷𝘦𝘪 ini sebesar 2.9%.
 
Selain survei dengan metode kuantitatif, LSI Denny JA juga memperkaya informasi dan analisa dengan metode kualitatif, seperti analisis media, 𝘪𝘯-𝘥𝘦𝘱𝘵𝘩 𝘪𝘯𝘵𝘦𝘳𝘷𝘪𝘦𝘸, 𝘦𝘹𝘱𝘦𝘳𝘵 𝘫𝘶𝘥𝘨𝘦𝘮𝘦𝘯𝘵 dan 𝘧𝘰𝘤𝘶𝘴 𝘨𝘳𝘰𝘶𝘱 𝘥𝘪𝘴𝘤𝘶𝘴𝘴𝘪𝘰𝘯.
 
Survei dan riset kualitatif dilakukan pada tanggal 20 November – 3 Desember 2023.

-𝟎𝟎𝟎-
 
 
𝗕𝗮𝗴𝗶𝗮𝗻 𝟭 : 𝗘𝗹𝗲𝗸𝘁𝗮𝗯𝗶𝗹𝗶𝘁𝗮𝘀 𝗣𝗮𝗿𝘁𝗮𝗶 𝗣𝗼𝗹𝗶𝘁𝗶𝗸
 
Pertama kali sejak Pileg 2014, PDIP terlampaui oleh Gerindra. Gerindra berada di posisi pertama di peta elektabilitas partai. Elektabilitas Gerindra sebesar 19.5%. Di posisi kedua ada PDIP dengan elektabilitas sebesar 19.3%. Di posisi ketiga ada Partai Golkar dengan elektabilitas 11.6%.
 
PKB ada di posisi setelahnya dengan elektabilitas sebesar 7.7%. Selanjutnya ada PKS dengan elektabilitas 7.3%. Partai Nasdem berada di bawah PKS dengan elektabilitas sebesar 5.8%.
 
Posisi selanjutnya adalah Partai Demokrat dengan elektabilitas sebesar 3.6%, kemudian PAN dengan elektabilitas 3.3%, dan PPP dengan elektabilitas 2.9%.
 
Partai-partai lain elektabilitasnya di bawah 2 %. Suara yang belum memutuskan sebesar 14.7%.
 
Di bulan Januari  2023, PDIP masih kokoh di elektabilitas tertinggi. Begitu pula Mei sampai Oktober 2023, PDIP masih partai dengan elektabilitas tertinggi. 

Namun di November 2023, PDIP terlampaui Gerindra.
 
PDIP juara di pemilu 2014 dengan 18.95%. Begitu pula di 2019, PDIP juara dengan 19.33%. Namun untuk 2024 nanti, survei November akhir (dua bulan sebelum Pileg 2024) posisi PDIP tak lagi juara.
 
-𝟎𝟎𝟎-

 
𝗕𝗮𝗴𝗶𝗮𝗻 𝟮 : 𝗗𝗶𝘀𝘁𝗿𝗶𝗯𝘂𝘀𝗶 𝗟𝗶𝗺𝗮 𝗣𝗮𝗿𝘁𝗮𝗶 𝗧𝗲𝗿𝗯𝗲𝘀𝗮𝗿 𝗱𝗶 𝗕𝗲𝗿𝗯𝗮𝗴𝗮𝗶 𝗦𝗲𝗴𝗺𝗲𝗻 𝗣𝗲𝗺𝗶𝗹𝗶𝗵
 
Lima partai terbesar elektabilitasnya saat ini adalah Gerindra, PDIP, Golkar, PKB, dan PKS.
 
𝗔. 𝗗𝗮𝗿𝗶 𝗸𝗮𝘁𝗲𝗴𝗼𝗿𝗶 𝗲𝗸𝗼𝗻𝗼𝗺𝗶

Di kalangan wong cilik (pendapatan dibawah Rp 2 juta per bulan), PDIP dibayangi Gerindra. PDIP masih unggul dengan elektabilitas 21.4%. Gerindra berada di posisi kedua dengan elektabilitas 18.5%.
 
Di segmen ekonomi dengan pendapatan Rp 2 - 4 juta per bulan, Gerindra paling unggul dengan elektabilitas 22.6%. Di posisi kedua di segmen ini ada PDIP dengan 17.6%.
 
Di segmen ekonomi dengan pendapatan Rp 4 juta ke atas, Gerindra dan PDIP dalam posisi yang imbang dengan elektabilitas yang sama di angka 15.9%.
 
Data lebih detail mengenai kategori ekonomi dan demografi lainnya bisa dilihat dalam bahan paparan yang disertakan.

 
𝗕. 𝗗𝗮𝗿𝗶 𝗸𝗮𝘁𝗲𝗴𝗼𝗿𝗶 𝗽𝗲𝗻𝗱𝗶𝗱𝗶𝗸𝗮𝗻

Di pendidikan SD ke bawah, PDIP paling unggul, namun di pendidikan SMP ke atas, Gerindra yang paling unggul. Sebagai contoh: di pendidikan SMP sederajat, Gerindra mendapatkan 19.4%, PDIP 17.4%, Golkar 16.0%, PKB 6.8%, dan PKS 4.5%.

 
𝗖. 𝗗𝗮𝗿𝗶 𝗸𝗮𝘁𝗲𝗴𝗼𝗿𝗶 𝘂𝘀𝗶𝗮

Keunggulan PDIP sekarang ini di segmen usia senja (usia di atas 50 tahun). Di golongan usia ini, PDIP mendapatkan 23.5%. Gerindra di posisi kedua dengan 17.4%. Golkar 12.2%. PKB mendapatkan 8.5%. PKS mendapatkan 6.5%.
 
Di segmen usia 50 tahun ke bawah, PDIP dilampaui oleh Gerindra. Sebagai contoh di segmen usia 30 tahun kebawah, elektabilitas tertinggi ada di Gerindra dengan 24.6%. Kemudian Partai Golkar dengan 14.5%. PDIP 13.7%. PKS 4.9%. PKB 3.7%.

 
𝗗. 𝗗𝗮𝗿𝗶 𝗸𝗮𝘁𝗲𝗴𝗼𝗿𝗶 𝗽𝗲𝗺𝗲𝗹𝘂𝗸 𝗮𝗴𝗮𝗺𝗮

Gerindra unggul di pemilih muslim dengan elektabilitas 21.1%. Posisi kedua ada PDIP dengan 16.4%. Kemudian Golkar dengan 11.7%, PKB dan PKS dalam elektabilitas yang sama di angka 8.4%.
 
Di segmen pemilih Non-Islam, PDIP paling unggul dengan elektabilitas 38.2%. Diikuti oleh Golkar dengan 10.5%, dan Gerindra 8.6%.

 
𝗘. 𝗗𝗮𝗿𝗶 𝗸𝗮𝘁𝗲𝗴𝗼𝗿𝗶 𝗴𝗲𝗻𝗱𝗲𝗿

Gerindra unggul tipis atas PDIP di laki-laki. Namun di perempuan, PDIP unggul tipis atas Gerindra.
 
Elektabilitas Gerindra di laki-laki sebesar 21.5%, PDIP 20.6%, Golkar 10.2%, PKB dan PKS di angka yang sama sebesar 7.9%.
 
Di segmen perempuan, elektabilitas PDIP paling tinggi sebesar 19.9%, unggul tipis dari Gerindra sebesar 17.5%. Partai Golkar di segmen perempuan mendapatkan 13.1%, PKB mendapatkan  7.5%. PKS mendapatkan 6.7%.
 

𝗙. 𝗗𝗮𝗿𝗶 𝗸𝗮𝘁𝗲𝗴𝗼𝗿𝗶 𝘀𝘂𝗸𝘂

Gerindra unggul di suku Sunda dan Melayu. PDIP unggul di Jawa dan Bugis. Golkar unggul di Batak.

Sebagai contoh: di suku Jawa, PDIP mendapatkan 29.4%, Gerindra mendapatkan 17.0%, PKB mendapatkan 10.5%. Partai Golkar mendapatkan 8.2% dan PKS mendapatkan 5.0%.
 
Data lengkap mengenai preferensi suku bisa dilihat di bahan paparan yang disertakan.


𝗚. 𝗗𝗮𝗿𝗶 𝗸𝗮𝘁𝗲𝗴𝗼𝗿𝗶 𝘁𝗲𝗿𝗶𝘁𝗼𝗿𝗶

PDIP unggul di Jawa dan Maluku-Papua. Gerindra unggul di Kalimantan dan Sulawesi. Sumatera bersaing antara Gerindra dan Golkar. Bali-NTB-NTT bersaing antara PDIP dan Golkar.
 
Sebagai contoh: di pulau Jawa, elektabilitas PDIP sebesar 21.8%, Gerindra sebesar 19.6%, PKB sebesar 10.6%, Golkar 9.8% dan PKS sebesar 8.2%.

 
𝗛. 𝗕𝗮𝗴𝗮𝗶𝗺𝗮𝗻𝗮 𝗱𝗮𝗿𝗶 𝗸𝗮𝘁𝗲𝗴𝗼𝗿𝗶 𝘆𝗮𝗻𝗴 𝗽𝘂𝗮𝘀 𝗱𝗮𝗻 𝘁𝗶𝗱𝗮𝗸 𝗽𝘂𝗮𝘀 𝘁𝗲𝗿𝗵𝗮𝗱𝗮𝗽 𝗸𝗶𝗻𝗲𝗿𝗷𝗮 𝗽𝗿𝗲𝘀𝗶𝗱𝗲𝗻 𝗝𝗼𝗸𝗼𝘄𝗶?

Gerindra unggul tipis atas PDIP di pemilih yang puas terhadap Jokowi. Di Segmen ini Gerindra mendapatkan 21.7%, PDIP sebesar 21.4%. Partai Golkar mendapatkan 11.1%. PKB sebesar 7.7%, dan PKS 4.6%.
 
Pemilih yang tidak puas terhadap Jokowi pilihan partainya tertinggi kepada partai di luar lima besar. Jumlahnya mencapai 24.8%. 

Pemilih yang tidak puas terhadap Jokowi yang memilih PKS ada 17.9%, memilih Golkar sebesar 13.4%,  Gerindra ada 11.2%, memilih PDIP ada 10.8%, memilih PKB sebesar 7.9%
 
𝗜. 𝗗𝗮𝗿𝗶 𝗸𝗮𝘁𝗲𝗴𝗼𝗿𝗶 𝗽𝗲𝗻𝗴𝗴𝘂𝗻𝗮 𝘀𝗼𝘀𝗶𝗮𝗹 𝗺𝗲𝗱𝗶𝗮

Gerindra unggul di pengguna WhatsApp dan Facebook. PDIP unggul di pengguna YouTube. Sedangkan platform pengguna Tiktok, Instagram, dan Twitter pilihan partainya lebih banyak ke partai di luar lima besar.
 
Di pengguna WhatsApp sebagai contoh, di segmen ini Gerinda menjadi pilihan tertinggi dengan elektabilitas sebesar 19.5%. Posisi kedua ada PDIP dengan 16.3%. Kemudian Golkar sebesar 13.5%. PKS sebesar 10.6%, dan PKB sebesar 7.3%
 
Pilihan capres di lima partai terbesar, Anies-Muhaimin unggul di PKB dan PKS. Prabowo-Gibran unggul di Gerindra dan Golkar. Ganjar-Mahfud unggul di PDIP.
 
Anies-Muhaimin mendapat dukungan dari pemilih PKS sebesar 85.8%, dan dari pemilih PKB sebesar 41.2%.
 
Prabowo-Gibran mendapat dukungan dari pemilih Gerindra sebesar 83.4%, dan dari pemilih Golkar sebesar 59.0%.
 
Ganjar-Mahfud mendapat dukungan dari pemilih PDIP sebesar 75.6%.
 
-𝟎𝟎𝟎-

 
𝗕𝗮𝗴𝗶𝗮𝗻 𝟯 : 𝗠𝗲𝗻𝗴𝗮𝗽𝗮 𝗣𝗗𝗜𝗣 𝗠𝗲𝗻𝘂𝗿𝘂𝗻 𝗱𝗮𝗻 𝗚𝗲𝗿𝗶𝗻𝗱𝗿𝗮 𝗠𝗲𝗻𝗮𝗶𝗸?
 
Pertama, blunder serangan PDIP ke Jokowi. Dari data tracking survei, terlihat pada bulan Juni 2023, pemilih yang puas Jokowi sebesar 34.6% yang memilih PDIP. Namun kini di bulan November 2023, pemilih puas Jokowi yang memilih PDIP sebesar 21.4%.
 
Kedua, blunder menolak Piala Dunia U-20. Tiga dari empat pihak yang paling disalahkan ada dalam kubu PDIP. Ganjar, PDIP sendiri, dan I Wayan Koster.
 
Ketiga, blunder menjadikan presiden sebagai petugas partai. Yang kurang/tidak setuju dengan penyebutan presiden sebagai petugas partai angkanya besar sekali, mencapai 69.9%.
 
Keempat, pindahnya puas terhadap Jokowi ke Gerindra. Pada bulan Juni 2023, pemilih yang puas Jokowi yang memilih Gerindra angkanya 9.4%. 

Agustus 2023 angkanya meningkat menjadi 14.7%. Pada survei November 2023 angkanya bertambah menjadi 21.7%. Pemilih yang puas Jokowi semakin membesar pilihannya terhadap Gerindra.
 
Semakin populernya capres Prabowo memberi efek ke Gerindra. Saat ini November 2023, elektabilitas pribadi Prabowo sudah melewati angka 40%.
 
Akankah dukungan PDIP kembali ke era sebelum Jokowi jadi Presiden?
 
Pileg 2009 perolehan suara PDIP sebesar 14.03%. Pileg 2009 adalah Pemilihan Legislatif era sebelum Jokowi menjadi presiden.
 
Pada Pileg 2014, perolehan PDIP meningkat menjadi 18.95% dan menjadi juara. Pada Pileg 2019 meningkat menjadi 19.33% dan kembali menjadi juara. Tahun 2014 dan 2019 adalah era Jokowi terpilih menjadi presiden.

-𝟎𝟎𝟎-

𝗧𝗲𝗿𝗱𝗮𝗽𝗮𝘁 𝗲𝗻𝗮𝗺 𝗸𝗲𝘀𝗶𝗺𝗽𝘂𝗹𝗮𝗻 𝗱𝗮𝗿𝗶 𝗿𝗶𝗹𝗶𝘀 𝗸𝗮𝗹𝗶 𝗶𝗻𝗶
 
Pertama, pertama kali sejak Pileg 2014, PDIP dilampaui oleh Gerindra, walau masih dalam selisih margin of error. Elektabilitas Gerindra saat ini sebesar 19.5%, sedangkan PDIP 19.3%
 
Kedua, jika Gerindra mampu mempertahankan keunggulannya sampai Pileg 2024 nanti, maka ini akan menjadi akhir dominasi PDIP selama 10 tahun. PDIP  gagal hat-trick, gagal menjadi juara 3 kali Pileg berturut- turut.
 
Ketiga, Gerindra, PDIP, Golkar, PKB dan PKS saat ini menjadi lima partai teratas. Gerindra (19.5%), PDIP (19.3%), Golkar (11.6%), PKB (7.7%), dan PKS (7.3%) 
 
Keempat, penurunan suara PDIP terjadi karena blunder serangan PDIP ke Jokowi, penolakan sepak bola dunia U-20, dan penyebutan presiden sebagai petugas partai.
 
Kelima, kenaikan suara Gerindra terjadi karena terjadi kenaikan dukungan dari pemilih yang puas Jokowi, dan Prabowo semakin populer.
 
Keenam, jika tren ini terus berlanjut (PDIP terus menurun), dukungan PDIP bisa kembali ke era sebelum Jokowi jadi Presiden. 

-𝟎𝟎𝟎-
 
Sejak tahun 2009, Pemilu Presiden dan Pemilu Legislatif menunjukkan pola yang berulang. Presiden terpilih membawa partai utama yang mendukungnya juga juara Pileg nomor satu.

Jika Prabowo-Gibran yang terpilih di Pilpres 2024, terbuka peluang partai utama yang mencalonkannya – Gerindra, juga menjadi partai utama menang Pileg nomor satu.

Data bulan Desember 2023 menunjukkan gejala itu. Tapi masih tersisa waktu dua bulan untuk dinamika turun dan naiknya dukungan rakyat kepada partai politik.*

Oleh: LSI Denny JA
Bagikan:
KOMENTAR
TERKINI