Bernasindonesia.com - Ketua Umum DPP Partai Kebangkitan Nusantara (PKN), Anas Urbaningrum meminta pemegang kekuasaan tidak berbuat sewenang-wenang kepada rakyatnya. Sebagai negara demokrasi, lawan politik tidak boleh ditindas.
“Siapapun yang diberi amanah memegang kekuasaan dan kewenangan, jangan peralat hukum untuk menindas dan menzalimi pihak lain. Meski itu lawanmu,” ujar Anas.
Menurut Anas, pemegang kekuasaan harus bersikap adil. Tidak boleh ada upaya kriminalisasi kepada lawan politik.
“Berlakulah adil. Jangan zalim.
Hukum adalah sarana perbaikan dan tegaknya keadilan. Bukan perkakas untuk menyingkirkan dan mematikan pihak lain yang berbeda garis politik dan pemikiran,” tegasnya.
“Berlakulah adil. Jangan zalim.
Hukum adalah sarana perbaikan dan tegaknya keadilan. Bukan perkakas untuk menyingkirkan dan mematikan pihak lain yang berbeda garis politik dan pemikiran,” tegasnya.
Lawan politik tidak boleh dianggap musuh. Menurutnya, penegakan hukum harus dijadikan panglima untuk menegaskan keadilan.
“Terhadap lawanmu, beranilah bertarung secara ksatria. Jangan “nabok nyilih tangan” pakai peralatan hukum,” paparnya.
Disampaikan Anas, kompetisi politik demokratis itu mensyaratkan sikap ksatria. Bertanding terbuka dan adil. Sekeras apapun, jika terbuka dan adil, akan menjadi pelajaran berdemokrasi yang indah. Kalau jurus “nabok nyilih tangan” jelas itu sikap pengecut yang mendestruksi tradisi demokrasi.
“Terhadap lawanmu, beranilah bertarung secara ksatria. Jangan “nabok nyilih tangan” pakai peralatan hukum,” paparnya.
Disampaikan Anas, kompetisi politik demokratis itu mensyaratkan sikap ksatria. Bertanding terbuka dan adil. Sekeras apapun, jika terbuka dan adil, akan menjadi pelajaran berdemokrasi yang indah. Kalau jurus “nabok nyilih tangan” jelas itu sikap pengecut yang mendestruksi tradisi demokrasi.
“Gaya lama “nabok nyilih tangan” ini harus disudahi. Biarkan itu menjadi sejarah hitam yang dikubur dalam-dalam,” katanya.
“Harus ada ikhtiar untuk membangun tradisi kompetisi yang sehat. Dulu pernah ada yang pakai jurus “nabok nyilih tangan” alias cara pengecut. Nah, model begini jangan ditiru dan dipakai lagi saat ini dan masa selanjutnya,” pungkas Anas yang juga eks Ketum DPP Partai Demokrat tersebut.
“Harus ada ikhtiar untuk membangun tradisi kompetisi yang sehat. Dulu pernah ada yang pakai jurus “nabok nyilih tangan” alias cara pengecut. Nah, model begini jangan ditiru dan dipakai lagi saat ini dan masa selanjutnya,” pungkas Anas yang juga eks Ketum DPP Partai Demokrat tersebut.

