Bernasindonesia.com - Partai Persatuan Pembangunan (PPP) kembali memanas jelang Muktamar 2025. Setelah kemunculan delapan nama calon ketua umum, tensi politik internal kian meninggi. Tak hanya dari kalangan internal, sejumlah tokoh luar partai juga mulai digadang-gadang.
Sekretaris Jenderal PPP Arwani Thomafi menyebut ada lebih dari 20 DPW yang mendorong pergantian ketua umum. Klaim tersebut disampaikannya saat acara halal bihalal di DPW PPP Jawa Timur akhir pekan lalu. “Para kiai dan pimpinan daerah melihat Muktamar 2025 sebagai momentum memilih ketua umum baru,” kata Arwani.
Menariknya, Arwani justru mendapat dukungan dari eks Ketum PPP, Romahurmuziy alias Romi. Ia menyebut bahwa kepemimpinan Mardiono telah gagal mempertahankan PPP di Senayan. Karena itu, menurut Romi, sudah saatnya PPP mencari sosok baru yang lebih visioner.
Tak tanggung-tanggung, Romi menyodorkan delapan nama: tiga dari internal, lima dari eksternal. Dari internal ada Arwani Thomafi, Gus Yasin, dan Sandiaga Uno. Dari luar muncul nama besar seperti Gus Ipul, eks KSAD Dudung Abdurachman, Amran Sulaiman, Marzuki Alie, hingga Agus Suparmanto.
Pernyataan Romi langsung disambut panas oleh kubu petahana. Wakil Ketua Umum PPP Rusli Effendi menilai klaim 20 DPW hanyalah bualan sepihak. Ia mengaku tak tahu DPW mana saja yang dimaksud, bahkan menyebut sebagian besar DPW justru mendukung Mardiono.
“Sebagai Waketum, saya tidak tahu ada 20 DPW mendukung pergantian. Itu hanya klaim sepihak. Justru Papua, Aceh, Jambi, dan Sumut mendukung penuh Pak Mardiono,” tegas Rusli saat dihubungi, Rabu (14/5).
Rusli juga menolak keras wacana mengimpor tokoh luar sebagai ketua umum PPP. Menurutnya, marwah partai harus dijaga dengan memilih kader internal. Ia bahkan menyindir nama-nama seperti Sandiaga Uno yang dinilai gagal mendongkrak suara PPP di Pemilu 2024.
“Sudah coba luar partai, hasilnya? Nihil! Pak Sandi jadi Ketua Bappilu, hasilnya PPP tak lolos Senayan. Jadi, cukup eksperimen,” sindir Rusli.
Polemik ini menunjukkan adanya faksi-faksi kuat di tubuh partai berlambang Ka’bah. Muktamar yang awalnya diniatkan sebagai ajang rekonsiliasi bisa berubah menjadi ajang saling jegal demi kursi tertinggi partai.
Seiring dengan waktu yang terus bergulir menuju Muktamar, publik akan menyaksikan apakah PPP akan tetap solid atau justru pecah kongsi. Satu hal pasti: aroma panas perebutan kursi ketum sudah tak bisa dibendung lagi.