Bernasindonesia.com - Saudaraku, masalah Indonesia bukanlah rahasia. Ia seperti noda di baju putih yang semua orang melihat dan menunjuk, tetapi tak seorang pun sudi mencucinya. Hampir setiap lidah fasih menuding kebobrokan karakter sebagai penghalang kemajuan, padahal telunjuk itu sendiri sering melekat pada tangan yang kotor. Pendidikan karakter menuntut teladan, tetapi siapa yang pantas tampil pertama, saat cermin bersama telah retak, tak lagi mampu memantulkan wajah yang utuh?
Politik kita hanya menambah daftar ironi. Semua orang tahu demokrasi ini keropos, tetapi kesadaran itu berhenti sebagai dengusan pasrah di warung kopi, status getir di media sosial, atau basa-basi seminar. Demokrasi ibarat kapal tua yang bocor; semua penumpang tahu air merembes, tetapi tak seorang pun bergegas menambal. Kita sibuk menunjuk lubang sambil berharap kapal tetap mengapung.
Mengapa? Karena institusi yang mestinya menjadi rumah rakyat telah berubah menjadi rumah singgah segelintir pemodal, pesohor. Parlemen, partai, bahkan lembaga publik tak lagi mendengar suara warga, melainkan tunduk pada bisik-bisik eksklusif di balik layar. Demokrasi yang mestinya orkestra rakyat menjelma sirkus: badut politik sibuk melucu, singa parlemen jinak di bawah cambuk uang, sementara rakyat sekadar penonton yang bertepuk getir.
Beginilah nasib bangsa yang pandai mengenali penyakit, tetapi malas mengobati. Kita tahu karakter bobrok, namun mencari teladan pada wajah yang sama kusamnya. Kita tahu demokrasi keropos, tetapi menyerahkan kunci rumah kepada pesakitan yang sama. Seperti pasien kanker yang lebih suka berfoto dengan riasan tebal ketimbang menempuh kemoterapi, kita memilih ilusi ketimbang terapi.
Dan di tengah kebuntuan ini, kita masih terhibur oleh fatamorgana: jargon moral di panggung kampanye, pidato tentang revolusi mental, baliho dengan senyum penuh wibawa. Padahal, karakter bangsa tidak lahir dari kata manis, melainkan dari keberanian menyingkap borok sendiri dan tekad memperbaikinya. Selama kita bercermin pada kaca yang retak tanpa berani menambalnya, bangsa ini akan tetap berjalan pincang, mengulang drama lama dengan aktor baru yang memainkan lakon yang sama.
Oleh: Yudi Latif

